Cermin

0
6

Catatan Kecil

Konsep Cermin, mulai mengobsesi sejak 1975. Kemudian secara intens memroses begitu rupa dan baru bisa ditulis pada akhir 1976. Tetapi dorongan apa yang mengundang dia datang, dan kelengkapan apa saja yang melahirkan monolog Cermin itu? Saya akan coba mengungkapkannya.

Cermin adalah gejolak kehidupan saya, karier artistik dan cinta, kegelisahan terhadap masa lalu dan masa depan, perkembangan yang mantap dari keaktoran dan upaya mencari jawaban dari begitu banyak pertanyaan.

Cermin adalah kondisi dilematis, saat saya ada di simpang jalan dan harus memilih salah satu dari sekian banyak pilihan.

Cermin adalah kebingungan spiritual dan psikologis yang paling hebat dan kompleks sejak saya memilih teater sebagai dunia saya.

Lalu, apa kejadian berikut sesudah saya dijebak dalam situasi rumit seperti itu? Apakah saya mundur teratur, pulang ke Cirebon atau tetap di Jakarta dan terus bekerja di kesenian? Apakah saya tetap kukuh kepada pilihan saya sebelumnya (teater), atau harus terpaksa menyimpang? Ternyata, saya melakukan tindakan Tiga Langkah.

Satu. Saya berkelana keliling Indonesia selama 6 bulan, 1975. Saya bertemu dengan banyak orang. Antaranya: para seniman dan pedagang, penganggur dan paranormal, polisi dan banci, gadis-gadis dan tukang sulap. Bersama mereka saya ikut mengeluhkan panen bawang yang gagal sambil menikmati tari perang, memperbincangkan stepa dan sapi-sapi muda, mengagumi permainan bola dan pukulan tifa, mendengarkan dentang rebana dan syair-syair cinta. Saya selalu mencoba menemukan keindahan dalam kemiskinan masyarakan pinggiran. Saya mempelajari kesenian rakyat dan tradisi. Saya belajar kehidupan.

Lalu, apa yang saya peroleh dari perjalanan itu? Sangat sederhana:

Kemiskinan tak pernah jadi penghalang bagi siapapun yang ingin menyatakan isi hati dan mengekspresikan sebagai seni.”

Dua. Saya menulis Trilogi Surat Kaleng, Namaku Kiki, Rumah Kertas. Dan akhirnya saya mampu menulis monolog Cermin.

Tiga. Saya mendirikan Teater Koma, 1977, dengan pentas perdananya Rumah Kertas. Dan ketika saya jadi partisipan International Writing Program di Iowa University (Iowa City, USA, 1978), selama 6 bulan, monolog Cermin saya mainkan bagi masyarakat kampus di sana. Respons mereka mengagetkan. Ternyata mereka kenal problema dalam Cermin, yang kemudian diserap sebagai problema mereka juga. Ini aneh. Tapi saya senang.

Dan Tiga Langkah itulah yang barangkali menyebabkan saya tetap ada di dunia teater, hingga sekarang. Tiga Langkah yang sadar tak sadar bisa dibilang sebagai jawaban dari begitu banyak pertanyaan. Jawaban yang jauh lebih konkrit: tindakan.

Ada banyak kegelisahan yang berujung kepada kegetiran. Apalagi kalau berhenti pada ruang ”pembicaraan” melulu. Ada begitu banyak kemarahan dan kebingungan yang tak sanggup menuntun kita keluar dari kesulitan. Apalagi kalau berhenti pada kawasan ”Pemikiran” melulu. Ada banyak kegalauan yang diakhiri dengan keputusasaan. Apalagi kalau kita hanya mampu menyalahkan orang lain atau cuma mengasihani diri sendiri melulu.

Padahal, jujur saja, kegelisahan, kemarahan, kebingungan dan kegalauan, gemar menghajar sepanjang hidup kita. Mereka datang sering sulit ditebak. Adakalanya malah beruntun. Lalu bagaimana cara kita menghadapinya? Kemudian menanggulangi, tentu, dengan tetap tersenyum penuh harapan. Dalam zaman sesusah apapun.

Ketika Nur Rahmat SN datang dan memberitahu niatnya hendak mementaskan monolog Cermin bersama grup teater allit, saya sangat gembira. Apalagi ketika kepada saya juga dikabarkan niatnya hendak meramaikan kehidupan teater di Tasikmalaya, kampung halaman yang telah lama ditinggal Nur Rahmat SN merantau demi teater. Saya lebih gembira lagi. Itu niat mulia.

Harapan saya, semoga bisa ditemukan Tiga Langkah berikutnya, yang akan menuntun Nur dan kawan-kawan tetap teguh kepada apa yang selama ini diyakini: Teater yang Hidup!

Dan saya yakin, Tasikmalaya sudah cukup siap untuk menerima kiprah Nur Rahmat SN dan Teater Alit, sekarang maupun di masa-masa mendatang.

Selamat bekerja.

Jakarta, 1 Maret 2000
Salam,
Nano Riantiarno
Teater Koma


*Naskah monolog Cermin akan dibawakan oleh Nur Rahmat SN dalam Parade Monolog di GRJS Bulungan, Jumat, 28 November 2014.

SHARE
Cikal Kinasih
Unit Kegiatan Mahasiswa IISIP Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here