Liuk Indah Sang Maestro Tari Indonesia

0
58

Lahir dengan nama Kwee Tjoen Lian, Didik Nini Thowok adalah seorang penari tradisional Jawa klasik, koreografer, pemain pantomin dan seorang dosen tari. Pria kelahiran Temanggung 60 tahun silam ini tertarik dengan dunia tari sejak muda, karena sering menonton pertunjukan wayang orang yang berupa sendratari. Didik muda tak hanya gemar menari, namun juga pandai menggambar dan menyanyi tembang-tembang Jawa.

Bakat seni lelaki berdarah Jawa-Tionghoa ini semakin terlihat ketika ia menari. Tubuhnya yang lentur bak seorang wanita memudahkannya dalam mengikuti gerakan tari.

Tapi, perjalanan hidupnya tak selentur tariannya. Didik harus bekerja keras meraih mimpinya di tengah kehidupan ekonomi keluarga yang serba kurang. Dahaganya akan ilmu tari membuatnya mencari guru tari dan tembang Jawa yang tak memungut biaya. Ia juga tak segan utntuk belajar pada teman sekolahnya.

Keuletannya dalam belajar tari membuahkan hasil. Pada pertengahan Tahun 1971, Didik menari lengkap dengan kebaya dan sanggul wanita di acara kelulusan sekolah menengah atas. Ia membawakan sebuah tarian hasil koreografinya sendiri bernama tari persembahan perpaduan antara tari Jawa dan Bali.

Setelah lulus SMA, Didik bekerja sebagai pegawai honorer di Kabin Kebudayaan Kabupaten Temanggung dengan tugas mengajari tari di beberapa sekolah dasar dan menengah. Usahanya tak sia-sia. Dengan kerja kerasnya itu, pada tahun 1974, Didik melanjutkan studinya sebagai mahasiswa jurusan Tari di ASTI Jogjakarta.

Didik semakin kreatif membuat tarian kreasinya sendiri dan memiliki ciri khas membawa unsur komedi dalam tiap penampilannya yang mengundang tawa. Logat Jawanya yang khas juga menjadi bagian dari identitas diri dan tariannya.

Di awal karirnya sebagai penari, dengan gaya perempuan langkahnya tidak mudah. Cemoohan lalu lalang Ia terima.

“Kamu laki-laki tapi menari seperti wanita, bencong dan sebagainya. Padahal dalam seni di negara-negara lain seperti Jepang tradisi cross gender sangat dihargai,” kenang Didik saat ditemui seusai pementasannya di Galeri Indonesia Kaya.

Menurut Didik, tarian cross gender itu serius dan tidak mudah dimainkan. Menurutnya,  kalau perempuan yang menari, itu  sudah kodratnya, begitu juga dengan lelaki dengan tarian lelaki. “Tapi kalau sudah cross perlu belajar ekstra bagaimana menjiwai dan membawakan sebagai seorang wanita. Itu ada ilmunya. Itu yang kurang dipahami masyarakat umum terhadap tradisi cross gender.”

Menurut penelitian Didik selama bertahun-tahun, Indonesia tidak mempunyai istilah khusus untuk cross gender, namun tradisi tersebutsebenarnya tidak asing dalam budaya Indonesia. Didik mengangkapkan bahwa di beberapa daerah mempunyai sebutan masing-masing untuk tarian cross gender.

“Di Jogjakarta, Wayang Wong yang dimainkan pada jaman Sultan Hamangkubuono VI dan VII penarinya lelaki karena ada adegan pondongan. Pada saat itu, masyarakat Jogja yang mayoritas memeluk agama Islam tidak memperbolehkan lelaki dan perempuan yang bukan muhrim bersentuhan, jadi menggunakan lelaki sebagai permaisuri,” jelasnya

Sementara di Bali, menurut Didik, tarian cross gender dikenal dengan nama Bebancian, Pendeta Waria Sakti di Makasar, Tari Topeng Cirebon dan Bissu di Sulawesi.
Didik melihat kesenian tradisi cross gender di Indonesia sudah mulai punah akibat tidak ada lagi orang yang melestarikannya.

“Kesenian itu dibentuk bertahun-tahun hingga menjadi darah daging. Dalam kesenian tidak ada batasan-batasan dan tidak memikirkan gender, agama dan suku apapun,”ujarnya.

Meski sudah mahir menari, Didik tak berpuas dirinya selalu merasa dahaga akan ilmu tari yang baru dan tak segan berguru pada orang lain. Didik juga sempat berguru mempelajari tari klasik Noh (Hagoromo) di Jepang dan tari Flamenco di Spanyol.

Berkat ketekunan dan kegigihannya mempelajari banyak teknik tari, Ia mampu menunjukan prestasi baik di dalam maupun luar negeri, mengharumkan kesenian tari Indonesia . Berkolaborasi dengan penari Jepang dan negara-negara lainnya sering Ia lakukan. Belum lama ini biografi perjalanan karirnya diterbitkan di Jepang dan Amerika. Hal itu adalah bukti bahwa proses seseorang dalam menjalani sesuatu, akan menentukan hasilnya.

Dan tentu saja, proses Didik menjadi seorang penari bukanlah proses yang instan.

Di usia senjanya, Didik terus aktif menari dan mengajari tari. Ia bertekad mengabdikan hidupnya untuk dunia seni tari Indonesia. Ia berharap tari-tarian tradisional daerah tidak hilang termakan budaya asing. Ia terus menari, meliuk dengan alunan musik tradisional di tengah hingar bingar mesin kota.

Untuk merayakan usianya yang ke-60 tahun, Didik berniat membuat pagelaran tari di Jogjakarta sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Sultan dan sebagai persembahan kepada masyarakat Indonesia.

“Siapapun boleh hadir, bebas biaya masuk kenali budaya kita bangsa kita kaya akan tradisi yang harus generasi berikutnya lestarikan,” ujar Didik setelah meminum segelas air putih di akhir pembicaraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here