Mencari Musuh Bersama

0
26

“Monolog ada sebelum dialog, namun saat dialog tak lagi dua arah kita pun kembali bermonolog. Dan ketika semua pihak saling bermonolog, kesunyian dan kehancuranlah yang menunggu di balik pintu.” Begitulah I. Yudhi Soenarto membuat dasar pemikiran pertunjukan Multi-monolog Selingkuh.

Sudah lebih dari 15 tahun bangsa ini reformasi. Zaman yang membelenggu mulut kita telah runtuh dimakan tanah. Musuh bersama yang selama 32 tahun ditentang mendadak hilang.

Jika dulu kita ketakutan untuk mengungkap kebenaran, sekarang justru kita kebablasan berbicara dan perlahan indera pendengar kita tak lagi berfungsi dengan semestinya. Sekarang sudah sedikit orang yang mau diam mendengar. Semua mau didengar. Pola komunikasi pun menjadi berantakan.

Jurnalisme, yang terlalu heboh dengan isu-isu tidak penting, juga terus mengalihkan perhatian. Lewat serba cepat, menghilang tak kalah cepat. Isu yang penting, tentang kemanusiaan, justru semakin tenggelam dalam tumpukan berita singkat. Kita menjadi tak lagi dapat membedakan realitas dan ilusi.

Saat ini, musuh sekaligus hambatan utama ada di dalam diri kita sendiri, diri yang terlalu apatis terhadap pandangan yang berbeda. Mencari musuh bersama merupakan tema yang tepat untuk mengikis arogasi dalam jiwa kita untuk mendengar jeritan yang tak kasat mata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here