Mencintai Nusantara dengan Eksplorasi, Bukan Eksploitasi

0
30

Sabtu (14/06), Createvent (Creative Event) Production mempersembahkan suatu acara untuk mengisi akhir pekan dengan tema Expin Camp (Explore Indonesia in Campus) yang diselenggarakan di Ruang V-2 IISIP Jakarta. Acara tersebut berlangsung mulai pukul 11.00 WIB dengan tarian tradisional sebagai menu pembuka.

Sebagai acara yang memilki tema alam, acara ini menghadirkan tokoh pencita alam seperti Irfan Ramdhani, seorang travel writer, Rudy Dharmapala, WANADRI, Brothers in D’Soul dan pendiri Mapala Universitas Indonesia sekaligus teman seperjuangan Soe Hoek Gie, Herman Lantang. Acara ini juga didukung oleh UKM Kaphac 32, dengan pameran foto alam yang menambah khas suasana menjadi tradisional Indonesia.

Irfan Ramdhani, salah seorang pembicara menceritakan perjalanannya mendaki bermacam gunung dengan kedua tongkat di tangannya. Keberaniannya menghadapi rintangan di alam bebas dengan keadaan tidak sempurna mampu menginspirasi. “Kalau bermimpi, mimpilah yang tinggi. Karena keterbatasan itu sebenarnya untuk menembus batas dan tabah itu bukan hanya di awal tapi sampai akhir, tabah sampai akhir,” papar Irfan.

Menikmati keindahan alam sambil ikut melestarikan lingkungan adalah kenikmatan tersendiri bagi para pencinta alam. Mendekatkan diri dengan alam juga membuat fisik lebih kuat dan membentuk karakter diri. Nilai persahabatan, perjuangan, kebersamaan, latihan pengendalian diri hingga rasa syukur terhadap Tuhan. Kata pencinta alam sendiri, adalah satu-satunya di dunia dan jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris tidak ada istilah Nature Lover yang ada Naturist atau ecologist. Jadi kata pencinta sendiri hanya ada di Indonesia.

Keindahan alam Indonesia berusaha ditampilkan, melalui tayangan video tentang alam Indonesia yang luas dan indah rupanya adalah alasan kuat untuk menikmati alam dengan mendaki gunung. Para pencinta alam juga mengingatkan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan, dan jangan sampai merusak keindahan alam di atas gunung. “Kita boleh mengeksplorasi tapi jangan mengeksploitasi alam,” ujar salah satu anggota Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung atau WANADRI.

Para narasumber juga memberi advice, “Naik gunung itu tidak semudah yang ada di film 5 cm, tapi perlu persiapan khusus dan manajemen perjalanan harus diperhatikan.”

Seorang pencinta alam yang sesungguhnya adalah yang menikmati alam dengan menjaganya, jika dengan tujuan senang-senang dan menimbulkan kerusakan itu bukan pencinta alam tapi perusak alam.

Tiba di acara utama dengan menghadirkan tokoh pecinta alam Indonesia yang juga pendiri Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Universitas Indonesia, Herman Lantang. Pria kelahiran Tomohon, Sulawesi Utara, 2 Juli 1940 ini adalah alumni jurusan antropologi UI dan juga mantan ketua senat Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 60-an. Dia juga salah satu pendiri Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UI dan pernah mengetuai organisasi tersebut pada periode 1972–1974.

Di usia senjanya, Herman beserta istri masih terlihat bugar. Kegiatan mendaki gunung yang dijadikan kebiasaan itu terbukti membuat mereka merasa lebih sehat secara jasmani maupun rohani. Dengan jungle hat, sepatu gunung dan kedua tongkat berwarna merah khas pendaki, ia sangat hangat menyapa semua penonton yang hadir.

Kesan gagah masih terlihat di fisiknya yang masih tegap, meskipun rambut putih tidak bisa membohongi usianya yang sebenarnya. Kesan ramah ia tunjukan, bahkan penonton yang semula duduk di bangku dimintanya untuk duduk lesehan, melingkari dirinya. “Biar suasananya lebih akrab, kalian kalau mau dengar mendekat kemari,” ujarnya hangat.

Sang istri, Joice Moningka, tak kalah ramah ketika melihat sedikit sampah yang belum dibersihkan. Ia malah ingin memungut sampah tersebut, karena tidak bisa melihat sampah berada disekitarnya. Oma Joice ikut serta menghadiri acara ini juga setia meningatkan Herman Lantang untuk duduk dan minum air putih.

Suami dari Joice Moningka yang memiliki nama lengkap Herman Onesimus Lantang ini sudah sering mendaki gunung bersama sang istri. “Setelah kita menikah, kita berdua naik gunung bahkan dia tidak tahu kalau sedang hamil tiga bulan,” ujar pria yang akrab disapa Opa Herman ini.

Kisah-kisah perjalanannya ia hadirkan melalui layar proyektor. Yang menarik, ayah dari Opa Herman ternyata juga seorang pendaki gunung sejak tahun 1930-an. Melalui slide-slide dalam proyektor. kediaman Herman Lantang dan Joice yang terletak di Kampung Betawi, Jagakarsa, terlihat begitu asri dengan tanaman di sekelilingnya.

Ia juga bercerita, semasa menempuh mendidikan sebagai mahasiswa ia pernah terkena skors dari kampusnya. Ia saat itu sangat aktif dalam pendakian dan penelusuran alam. “Studi gak boleh ganggu hobi,” ujarnya sambil tersenyum.

Sebagai salah seorang sahabat Soe Hok Gie, ia memiliki banyak pengalaman dan kenangan bersama Soe. Kisah dari awal perjalanan Herman Lantang, Aristides Katoppo, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Freddy Lasut, Rudi Badil, Abdurachman, dan Wiyana menuju puncak gunung Semeru hingga Gie meninggal dipangkuannya. Semua itu cerita itu begitu rapi tersimpan dalam ingatan Opa Herman.

Sosok Herman Lantang begitu lekat dengan sahabat seperjuangannya Soe Hoek Gie. Kisah hidupnya seharusnya menjadi panutan bagi generasi muda saat ini, betapa hidup dekat dengan alam dan membuat lingkungan lestari adalah karakter kuat yang ia milki, yang dibentuk oleh perpaduan terjalnya perjalanan dan keindahan alam.

Sebagai tokoh yang mencetuskan MAPALA ia merasa prihatin, baginya mendaki gunung bukan ajang untuk gaya-gayaan atau berpesta setelah sampai pada puncaknya. Ia kembali mengingatkan kalau tujuan pendakian gunung adalah untuk mendekatkan diri dengan alam dan ikut melestarikan lingkungan. Sungguh berbeda dengan realita yang terjadi dengan pendaki yang banyak melanggar saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here