Reject, Sebuah Pameran yang Tidak Bisa Ditolak

0
43

Kamis (8/5) siang, bertempat di ruangan IV-2 IISIP Jakarta, sedang berlangsung sebuah pameran karya oleh Kampung Segart (KamSeg). Pameran yang berlangsung sejak 7 Mei ini mengusung tema “Reject”.

Karya-karya yang dipamerkan, antara lain adalah sebuah instalasi berbentuk manusia, sebuah kaki dengan sepatu yang kotor menyembul dari papan, pohon impian hingga print outdari wikipedia tentang Studi Kasus dan Skripsi yang dicoret-coret dengan keluh-kesah mahasiswa.

Salah satu yang dipamerkan adalah “Hairstyles” karya Lanny Kania. Karya tersebut menggambarkan seorang perempuan dengan berbagai bentuk gaya rambut yang dibalut bingkai.

Menurut Lanny, karyanya diinspirasikan dari jejaring sosial Instagram. “Gue ngeliat sebuah foto sebagai inspirasi. Gak ada filosofi tertentu sih dari gambar yang gue buat, hanya karena pertama kali belajar ya inspirasinya dari rambut di Instagram,” jelas Lanny.

Antusiasme mahasiswa mengenai pameran “Reject” ini terbilang minim. Selain publikasi yang kurang, lokasi pameran yang jarang dilintasi oleh mahasiswa IISIP juga menjadi salah satu penyebabnya.

“Kami juga telat buka pameran ini selama dua hari, tapi kami masih optimis sih soalnya pameran ini hingga sabtu nanti kita lihat nanti antusiasme warga kampus gimana,” tanggap Maulana Ibrahim, salah satu anggota KamSeg.

Kegiatan pemeran ini adalah agenda rutin KamSeg setiap semesternya. Agenda ini dimaksudkan agar anggota barunya ikut berpartisipasi dan berkembang. Pameran yang akan selesai pada Sabtu nanti, rencananya akan menghadirkan alumni untuk meremix lagu, untuk acara penutupannya.

Kampung Segart sendiri adalah unit kegiatan mahasiswa di Kampus IISIP Jakarta yang berkarya melalui seni visual. Tak hanya di dalam kampus, KamSeg juga telah banyak berpertisipasi dalam event-event nasional seperti Pameran Pekan Kreativitas Nasional 2012, Jakarta32, Arte 2014. Selain berkarya, meraka juga aktif mengajar anak-anak menggambar di Kandang Jurang Doank.

“Kita gak fokusin untuk ikut lomba, tapi ya kita biasanya diajak ngolektifin karya. Gak selalu atas nama KamSeg sih, tapi biasanya kita sendiri-sendiri ikut berpartisipasi dalam sebuah pameran,” ujar Agi, anggota KamSeg lainnya.

Untuk agenda selanjutnya Kampung Segart ingin memperbanyak workshop-workshop gambar, selain melatih kemampuan gambar anggotanya juga ingin membagi ilmu bagi yang berminat pada seni menggambar.

SHARE
Selira Dian
Jurnalis paruh waktu. Pembaca purna waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here