Lokakarya Teater dan Peringatan 70 Tahun Putu Wijaya

0
16

Selasa (8/4) pagi suasana di kota Jakarta begitu cerah berawan, semesta seperti mendukung langkah kaki untuk mengikuti lokakarya teater yang diadakan oleh Komunitas Salihara dalam rangka memperingati usia 70 tahun sang maestro, Putu Wijaya.

Lokakarya Teater digarap Teater Mandiri untuk mengajak peserta mengenal bagaimana bekerja dengan metode “Bertolak dari yang Ada”. Sebuah spirit yang menjadi rujukan bagi masyarakat yang menjadi fondasi kreatif Teater Mandiri dalam menyikapi segala hal. Juga sebuah pembelajaran untuk menerima kondisi yang dihadapi, apa yang dimiliki, dan menjadikannya sebagai potensi lalu memaksimalkannya untuk meraih cita-cita dan sasaran yang ingin dicapai.

Setidaknya 68peserta hadir dalam lokakarya ini. Mereka sangat beragam, mulai teater kampus, komunitas hingga orang-orang yang berusia lanjut berbaur menjadi satu, belajardan berproses. Bersama.

Konsentrasi dan kepekaan, menu pembuka dalam lokakarya ini. Seluruh peserta mengikuti aba-aba dan membiarkan anggota tubuh bergerak dan melentur. Tangis dan tawa mengiringi pelatihan pertama, kami bebas meluapkan apa yang terjadi dalam perjalanan kami sebelum sampai pada tempat ini. Peserta sangat antusias, kami berekspresi dalam mata terpejam yang dengan tujuan semakin fokus dan tenang. Tak terasa, lokarya harus rela terpotong jam makan siang.

Selepas istirahat, kami kembali berkumpul diruangan yang sama, namun kali ini dengan pelatihan yang berbeda. Kepekaan tubuh menjadi menu kedua. “Karena disetiap gerakan saat pementasan harus memiliki motivasi yang kuat, bergerak harus tuntas dan jangan setengah-setengah,” ujar Alung Seroja, salah satu pelatih lokakarya.

Bergerak perlahan, merasakan keringat teman, mendengar suara-suara bising angkutan kota, semua pergerakan haruslah memilki makna sehingga menguatkan dialog. Tangan kami bergandengan, mata kami diminta untuk kembali terpejam kemudian kami dibawa keluar ruangan.

Bukan tanpa tujuan, proses ini untuk kembali melatih kepekaan kita terhadap sekitar, berjalan tanpa mata yang mengarahkan tetapi rasa disetiap langkah yang menuntun. Kami juga harus saling percaya terhadap teman yang menuntun kami, teman tidak akan mencelakakan. Ini juga bertujuan untuk menghilangkan rasa egoisme diri yang mana pada pementasan kita adalah tim yang harus berkerja seiring sejalan hingga terbentuk harmoniasasi, saling mengisi.

Setelah berjalan dengan perlahan, kami berhenti pada satu tempat kemudian diminta kembali membuka mata, “Kalian adalah embrio-embrio Teater Mandiri selanjutnya,” Ucap Alung Seroja berapi-api yang disambut dengan antusiasme peserta lokalarya.

Metode selanjutnya selanjutnya adalah melatih pernafasan, di mana kemampuan mengolah nafas adalah hal yang sangat perlu dalam sebuah pertunjukan teater. Nafas yang benar dapat mendukung kekuatan permainan dan menarik perhatian penonton.

Dimulai dengan pernafasan perut sambil mengucapkan huruf vokal “A, I, U, E, O”. Tarikan nafas yang diambil diakhiri dengan perut yang mengempis, seluruh peserta berjalan sambil melakukan nafas perut. “Latihan pernafasan ini bukan hanya untuk pementasan teater saja, tapi juga berguna sekali ketika kalian menjadi seorang penyiar, pembaca pidato juga menyanyi,” Terang Yanto Kribo, senior Teater Mandiri yang mengisi materi pernafasan.

Tidak hanya pernafasan perut, tapi bernafas dengan dada dan tenggorokan juga diajarkan. Kami dilihat bagaimana suara yang dihasilkan begitu berbeda, melalui perut,dada dan tenggorokan.

Tak terasa kami semua berada dipenghujung acara, segera kami keluar ruangan untuk bertemu dengan sang Maestro Putu Wijaya. Beliau datang dengan dibantu oleh rekan-rekan Teater Mandiri, langkah kakinya yang renta namun tetap terasa sangat bersemangat untuk membagi ilmunya pada peserta. Ia duduk dan memberikan kami kesempatan untuk bertanya, beberapa pertanyaan yang dilontarkan peserta dijawab dengan sangat baik olehnya, meskipun pendengarannya sudah tidak begitu kuat namun dengan kecerdasannya ia mampu menangkap setiap pertanyaan yang masuk ke pendengarannya.

“Teater dan film itu ibarat sahabat tapi gontok-gontokan dan kakak adik tapi bermusuhan. Dulu di Indonesia seorang aktis teater seperti haram bermain film begitu juga sebaliknya. Tapi kini keduanya bisa saling mengisi, kalau di Amerika kebanyakan aktris film berasal dari teater juga,” ucap Putu Wijaya.

Teater adalah seni pertunjukan langsung yang tidak dapat diedit seperti film, jika sang aktor salah berucap maka ia tidak dapat menarik ucapannya lagi. Sementara film yang dapat dipotong sana-sini disetiap adegannya. “Kalau teater itu adalah to act, film adalah to do,” lanjutnya.

Salah seorang peserta bertanya mengapa aktor teater dianggap terlalu berlebihan dalam berekspresi, beliau menjawab, “Dalam teater, kita adalah orang yang menampilkan sebuah cerita tanpa media, jadi kita berperan harus menegaskan kata-kata dan lambang komunikasi agar sampai pada penonton. Bedanya kalau di film kita hanya dapat melihat gambar apa yang sutradara perintahkan dan diteater kita dapat melihat keseluruhan tubuh si aktor. Sehingga kita harus memproyeksikan lakon yang kita bawakan agar sampai pada penonton yang paling belakang sekalipun.”

Ia juga menjelaskan karakter yang kita mainkan haruslah sesuai dengan yang naskah yang tertulis, sesuai penokohan dan tidak boleh keluar dari lingkaran tersebut, karena jika aktor bermain sembarangan, maka sama saja kita melanggar hak cipta naskah tersebut.

Di sisi lain, aktor harus memiliki interpretasi kepada tokoh yang ia perankan, karena setiap aktor punya caranya sendiri dalam memainkan perannya.  Ada dua cara aktor dalam memasuki karakter tokoh yang ia pakan perankan; Pertama, ada yang benar-benar membiarkan karakter tersebut merasuki tubuhnya secara keseluruhan hingga benar-benar menghilangkan karakter aslinya.

Kedua, hanya membiarkan dirasuki oleh setengah dari karakter yang ia mainkan dan separuh lagi adalah diri asli yang mengontrol karakternya sendiri. Karena kebanyakan aktor yang membiarkan tubuhnya dirasuki oleh karakter sesuai peran sulit untuk melepaskan karakter tersebut, dan barulah perlahan hilang setelah mendapat peran baru.

Putu Wijaya akhirnya harus mengingatkan, “Kita hanya berperan dalam pentas dan jangan terbawa kehidupan sehari-hari. Diri kita adalah kita, bedakan antara di pentas dan kehidupan nyata.”

Rangkaian acara Peringatan 70 Tahun Putu Wijaya sejatinya jatuh pada tanggal 11 April mendatang, Namun, rangkaian acara peringatannya telah dimulai sejak dilangsungkannya lomba puisi dan monolog di Galeti Indonesia Kaya (1/4) kemarin. Selain itu juga ada pameran lukisan Putu di Bentara Budaya Jakarta pada 3-12 April, peluncuran buku biografi Putu Wijaya (11/4) di Salihara, dan pementasan Bila Malam Bertambah Malam (11/4), HAH (12/4), dan JPRET (13/4) di Salihara. Lokakarya Teater juga menjadi salah satu rangkaian untuk memperingati 70 tahun sang maestro. 

Sosok Putu Wijaya dengan panggung teater memang tak bisa dipisahkan. Rasa-rasanya, panggung teater butuh orang sepertinya, setidaknya orang yang memiliki niat kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here