Sebongkah Benang Nadira

0
41

Nadira hanya ingin mengikat kedua benang hitam ini. Cukup satu ikatan. Satu ikatan yang menjadikannya sebuah garis panjang dan lurus membentang. Tapi bagaimana mungkin ia bisa melakukannya, jika dua helai benang itu berbentuk sebongkah bola yang rumit dan kusut seukuran kepala manusia?

Tak ada satu pun yang tahu, ini malam ke berapa. Perempuan muda itu masih dengan seksama mengamati kerumitan benang-benang di tangannya. Memegang ujungnya dengan kedua telunjuk dan ibu jari, kemudian memasukkannya satu demi satu ke celah lubang dari ribuan bahkan mungkin jutaan celah lubang yang tercipta dari rumitnya kekusutan.

Matanya terasa berat. Tapi ia tetap menjaga kewarasan, menjaga kesadaran. Nadira tak lagi pernah tertidur. Ia terjaga. Tak satu detik pun ia biarkan matanya lepas dari kerumitan ini. Tak akan ia biarkan dirinya tertidur, sebelum kekusutan ini terurai.

Telinganya seperti tuli. Ia tak lagi mendengar suara apapun kecuali degup jantung dan deru nafasnya sendiri. Nadira tak mendengarkan lagi suara sapu lidi dan kicauan burung yang menunjukkan pagi. Tak ia dengar lagi suara lengking tenggorokan orang-orang yang menunjukkan siang. Tak ia dengar lagi suara hening yang menunjukkan malam.

Ia seperti hidup dalam dimensi yang di dalamnya tak berlaku ruang dan waktu. Bahkan lapar pun tak lagi terasa. Awalnya ia merasa ini seperti hukuman. Tapi kemudian Nadira menerima dan menikmatinya seperti sebuah rutinitas keseharian. Lama kelamaan, tak ada yang aneh dari semua ini.

Siapa yang tahu: barangkali ini malam ke tiga ratus lima puluh? Malam ke tujuh ratus ribu enam puluh satu? Atau bahkan malam ke seribu dua ratus tujuh puluh juta dua? Tak ada yang tahu. Bahkan dirinya sendiri pun tak tahu. Lebih tepatnya tak peduli. Namun ia masih melakukan rutinitasnya itu: mengurai kekusutan benang-benang yang lebih tipis dari helai rambutnya, juga sepertinya lebih panjang dari rambutnya yang bondol. Kekusutan yang menyerupai ukuran kepala manusia.

Pada mulanya, waktu itu, sebongkah bola yang terbentuk dari benang-benang kusut berwarna hitam ia temukan di kamarnya, di bawah kasur. Nadira bingung. “Benda apakah ini? Dari mana datangnya? Mengapa ada di sini?” pikirnya. “Bagaimana mungkin orang seteratur dan setertib diriku bisa kecolongan? Bagaimana mungkin kamarnya bisa kemasukan benda yang tak jelas ini? Sebuah bola hitam yang terbentuk dari benang-benang kusut? Hey, apa maksudnya semua ini?”

Nadira, perempuan muda yang perfeksionis. Segala sesuatunya ia perhitungkan dengan baik dan matang. Ia tak pernah ingin hidup dalam dunia yang tak tuntas ia perhitungkan.

“Jangan-jangan ada yang masuk ke kamar?” Nadira curiga. Tapi kecurigaan itu buru-buru ia jawab sendiri, “Tak mungkin. Aku selalu mengunci rapat pintu, menutup rapat jendela, dan bisa aku pastikan, seluruh tembok maupun langit-langit kamarku tak bolong, apalagi melebihi ukuran kepala manusia.” Tak ada alasan bagaiamana benda sebesar itu bisa masuk.

Tak mungkin juga ada orang yang sengaja menaruhnya. Nadira tinggal sendiri. Ia menyadari, dirinya tinggal di pusat kota yang ramai, yang baginya, penuh ilusi kebersamaan. Ia hanya ingin jujur dalam melihat kenyataan. Ia penyendiri. Kamarnya selalu terkunci, dengan atau tanpa dirinya.

Ia benar-benar tak tahu dari mana datangnya benda ini. Ia sama sekali tak tahu apa-apa. Perempuan itu hanya bisa terperangah. Ia tak menyangka betapa orang seteratur dan setertib dirinya sempat lengah. Rasanya seperti berdiri tegak, dan tiba-tiba tulang punggungnya patah. Rasanya seperti langit yang tiba-tiba runtuh. Matahari yang tiba-tiba pecah. Roda yang tiba-tiba mencair. Rasanya, seperti segala yang tertata, teratur, tersistem, terstruktur, tiba-tiba mendadak hancur lebur tanpa ada penyebabnya.

Entah berapa ribu juta ratus kali ia coba mempertanyakan asal usulnya. Kemudian Nadira sadar dan pasrah, ia tak bisa menjawabnya. Semakin ia pertanyakan, semakin tenggelam ia pada lautan pertanyaan lainnya. Tak ada sedikit pun tanda-tanda sebuah jawaban.

Dengan sisa-sisa penasaran yang tenggelam oleh pertanyaan-pertanyaannya, Nadira mengamati sebongkah benang kusut ini. Ia melihatnya, mengelus-elusnya, menciumnya. Sehitam kesendirian, selembut kesepian, dan sewangi keheningan. Beberapa jenak kemudian, ia menemukan empat ujung pangkal benang dari bongkahan ini. Bongkahan ini terbentuk dari dua helai benang yang kusut.

Meski ia  tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri, sisa-sisa penasarannya membawa dan membuat dirinya merasa terkait ke dalam benda aneh di tangannya. Ketiadaan jawaban tak lantas membuatnya peduli setan. Nadira pun memutuskan untuk menikmatinya. Menikmati sebuah ketidakjelasan dengan mencoba mengurai kekusutannya. Ia bayangkan, seperti akan memuaskan jika melihat dua helai benang ini menjadi satu ikatan yang lurus dan panjang membentang, tanpa satu pun lubang yang membuatnya kusut. Lagi pula, ia tak punya ide lain untuk menerima dan menikmatinya.

Sejak saat itu juga Nadira mulai mengurainya. Pertama-tama, ia dengan seksama mengamati kerumitan benang-benang ini, memegang ujungnya dengan kedua telunjuk dan ibu jari, kemudian memasukkan ujung benang yang satu ke sebuah lubang. Sebuah celah lubang dari ribuan bahkan mungkin jutaan celah lubang yang ada dalam kekusutan.

Kegiatan itu kemudian menjadi kesehariannya, menjadi hidupnya. Entah sudah berapa lama. Barangkali ini malam ke tiga ratus lima puluh Nadira? Malam ke tujuh ratus ribu enam puluh satu? Atau bahkan malam ke seribu dua ratus tujuh puluh juta dua? Ia tak peduli.

***

Kekusutan di tangannya itu telah menemani Nadira melampui waktu-waktu hidupnya. Ia menghabiskan pagi-siang-malam dengan bongkahan benang di tangannya. Bongkahan benang itu juga menemaninya melihat setiap warna-warna langit. Ia bahkan melewati kecemasan, kegelisahan, kegembiraan, serta semua perasaan yang tak terjelaskan, bersama benang-benang kusut di tangannya.

Rutinitasnya yang tak pernah berhenti itu membuat matanya lama-lama terasa berat. Tapi ia tetap menjaga kewarasan, menjaga kesadaran. Kemudian ia terbiasa. Nadira tak lagi pernah tertidur. Ia terjaga. Tak satu detik pun ia biarkan matanya lepas dari kerumitan ini. Tak akan ia biarkan dirinya tertidur, sebelum kekusutan ini usai.

Telinganya seperti tuli. Ia tak lagi mendengar suara apapun kecuali degup jantung dan deru nafasnya sendiri. Nadira tak mendengarkan lagi suara sapu lidi dan kicauan burung yang menunjukkan pagi. Tak ia dengar lagi suara lengking tenggorokan orang-orang yang menunjukkan siang. Tak ia dengar lagi suara hening yang menunjukkan malam.

Ia seperti sampai dibawa ke sebuah hidup pada dimensi yang di dalamnya tak berlaku ruang dan waktu. Bahkan lapar pun tak lagi terasa. Awalnya ia merasa ini seperti hukuman. Tapi kemudian Nadira menikmatinya seperti sebuah rutinitas keseharian. Tak ada yang salah dari ini semua.

Kini ribuan waktu telah ia tempuh. Jutaan suara telah ia dengar. Lapisan warna telah ia rasa. Hidupnya ia habiskan dengan mengamati sebongkah kerumitan yang ia nikmati. Matanya hanya terpaku pada benang-benang di tangannya. Telinganya tak mendengarkan apa-apa kecuali degup jantung dan nafasnya sendiri.

***

Barangkali ini malam ke tiga ratus lima puluh Nadira? Malam ke tujuh ratus ribu enam puluh satu? Atau bahkan malam ke seribu dua ratus tujuh puluh juta dua?Ia tak peduli.

Tak ada satu pun orang yang tahu ini malam ke berapa. Tak ada satu pun orang yang mengerti semua ini di mana ujungnya. Di kamarnya, perempuan itu hidup dalam sebongkah benang kusut berbentuk bola seukuran kepala manusia. Telah begitu lama ia jalani rutinitasnya, kekusutan itu tak juga terurai. Bongkahan benang itu kini malah semakin rumit dan besar.

Sementara langit di luar sudah menjadi asing. Pagi berwarna hijau, siang berwarna ungu, dan malam berwarna abu-abu. Suara manusia terdengar seperti bunyi mesin. Mereka tak lagi berbicara dengan bahasa manusia. Atap kamarnya robek seperti kain. Dinding-dindingnya mencair. Cermin yang ia rekatkan di dinding itu mengambang dan penuh debu-debu kecoklatan yang lengket. Sebuah dunia yang bukan semula, yang bukan biasanya.

Kemudian ia berdiri mendekati cermin. Dibersihkannya debu-debu di cermin itu dengan tangan kirinya. Tangan kanannya tetap memegang bongkahan benang yang telah menyambung dengan rambutnya. Ia lalu bercermin. Wajahnya semakin keriput. Tubuhnya semakin kurus. Tulangnya membungkuk dan menipis. Rambutnya yang semula pendek, kini lebih panjang dari tubuhnya sendiri. Helaian rambutnya itu bahkan bercampur dengan benang-benang di tangannya. Hampir tak lagi bisa bedakan, mana rambut mana benang.

Nadira tak lagi mengenali dirinya sendiri. Ia terperangah. Air mata menyembul pelan-pelan dari ke dua matanya. Nadira tak menyangka. Ia seperti kehabisan tenaga. Tangannya tak kuat lagi untuk menggenggam sampai-sampai bongkahan benang di tangan kanannya terjatuh. Terjatuh tepat di belakangnya. Tersambung dengan ujung rambutnya.

SHARE
May Rahmadi
Mocker, philophobic, denial, profesional time waster.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here