Drama, Harga Diri dan Perempuan

0
37

Seorang perempuan, apakah cantik ataukah seksi

Di suatu kota bernama Anta, pada suatu waktu yang tak seorangpun mau dan mampu mengingatnya, ada cerita tentang seorang perempuan yang menghabiskan sepanjang siangnya di balkon kamar kontrakrannya, duduk bersandar di tembok abu-abu pada suatu siang sumuk nan gerah sambil mengepulkan asap tembakau favoritnya dan mencuri dengar lagu jazz dari bilik tetangganya. Begitu waktu dia habiskan hingga senja menjelang dan teleponnya berdering lalu setelah dia mengangkatnya dan cuap-cuap disana ia akan pergi mandi dan berdandan. Lalu pergi kemana, tak semua orang ingin tahu.

Kota yang hampir seluruh temboknya abu-abu

Begitulah kota Anta kala itu dengan hilir mudiknya. Sang perempuan, yang tak semua orang memedulikannya berbelok ke gang sempit dan berjalan memutar ke belakang sebuah gedung bekas gedung teater yang sekarang disulap jadi tempat judi tinju oleh seorang bandar tinju merangkap germo terkaya di kota Anta. Rafollo namanya. Ia sedang merencanakan suatu skenario kekalahan bagi seorang pedagang tembakan yang meraup sepuluh juta minggu lalu dari kemenangan yang juga dibuluskan bersamanya, dengan sekertaris walikota yang ingin terhibur dengan melihat kekalahan sepupunya.

“Gascar, kujamin kau paling sedikit dapat lima belas juta. Semua orang menjagokan Edmundo, tapi tenang saja, sudah kusiapkan “amunisi” untuk petinjumu, Rhoin. Edmundo pun sudah tahu apa yang harus dia lakukan.”

Rafollo, yang meskipun selalu memakai baju hawaii berwarna cerah, ditakuti preman seantero kota, meyakinkan Gascar sang sekretaris ibukota. Gascar mengangguk-angguk membayangkan kekalahan Rojas, si pedagang tembakau.

“Aku benar-benar ingin melihat Rojas tampak bodoh nanti malam.”

Seketika itu, percakapan berakhir dan pintu yang membuka pelan meruakkan sosok si perempuan yang mereka anggap cantik dan seksi. Seakan sudah biasa dengan suasan seperti ini, sang perempuan langsung mengambil tempat di sofa beludru hijau dan duduk menyilangkan kakinya sambil tak lupa menyulut lintingan tembakau favoritnya. Gascar tak bisa melepaskan pandangannya dari bibir, leher hingga belahan dada si perempuan. Jakunnya naik turun dan ia berbisik pada Rafollo, “ia lebih cantik dari primadona yang dibanggakan Rojas!” Rafollo berpikir, tepat sekali menyuruh si perempuan datang di saat seperti ini. Benar perkiraannya, Gascar pasti akan tertarik pada si perempuan. Seringai liciknya berlanjut, “kalau kau mau ia jadi gadis pembawa keberuntunganmu malam ini, kuberi harga yang pantas untuk perempuan sekelas dia. Ia memang kesayanganku.”

Sang perempuan mendengar dan mengerti semua pembicaraan yang terjadi di ruangan itu. Namun ia tetap acuh dan kini mengeluarkan ganja kering dan papir dari dalam tasnya. Seketika lintingannya membara dan asap wangi mengepul, mengalun irama swing di seantero ruangan. Ia suka lagu jazz.

Darah yang mengucur demi uang, drama di bekas gedung teater

Malam itu, Gascar duduk berdampingan dengan si perempuan, dan ia tak henti-henti memeluk pinggang dan menciumi lehernya. Sang perempuan cekikikan bukan karena senang berada di pelukan Gascar di tempat duduk paling bergengsi di ‘sasana’ tinju itu. Ia masih dalam pengaruh marijuana. Tapi semua orang di sasana tinju malam itu melihat Gascar bersama pelacur tercantik di kota Anta yang tertawa-tawa di pelukannya.

Sementara itu di ring sedang ada pertunjukan yang menarik sekali bagi semua orang yang memasang taruhan yang tidak memasang taruhan pun ikut teriak-teriak menjagokan siapa yang mereka suka, antara Rhoin dan Edmundo. Padahal bagi Rafollo dan Gascar semua terlalu mudah ditebak.

Di saat-saat Rojas terombang-ambing adrenalinnya karena pasang-surutnya Edmundo, Rafollo sibuk menghitung-hitung uang taruhan dan Gascar sibuk mencumbui gadis pembawa keberuntungannya.

Seperti Skenario Gascar dan Rafollo, Edmundo jatuh KO berlumuran darah di pelipis dan lubang hidung, dan lucutlah harga dirinya sebagai petinju di hadapan gemuruh sasana. Ketika ia digotong keluar ring, si perempuan memandanginya lekat-lekat. Matanya nanar.

Sasana tinju masih bergemuruh ketika Rafollo, Gascar dan sang perempuan kembali ke ruang kerja Rafollo untuk bagi hasil.

“Rafollo, saudaraku, kau memang sutradara yang brilian!”

“Apapun julukannya, uang yang berbicara. Ini yang kujanjikan padamu, Gascar. Dan kau lihat,Rojas tak berani lagi petantang-petenteng di hadapanmu.”

Sibuklah mereka menghitung untung taruhan. Sementara itu si perempuan acuh saja meninggalkan ruangan itu.

Tebalnya riasan tak sanggup bicara apa-apa

Selintas sang perempuan lewat di sasana tinju di tepi kerumunan orang yang berteriak-teriak meminta bagian taruhan mereka. Beberapa anak buah Rafollo dijejali pendukung Rhoin dari berbagai sisi hingga nyaris kewalahan. Padahal bagian kemenangan mereka tak seberapa dibanding yang diperoleh Gascar, apalagi Rafollo.

Pun tak ada yang melihat ketika si perempuan melintas ia sibuk menhapus riasan wajahnya dengan saputangan, hingga lepas pulasan merah di bibirnya, coklat di matanya dan terracota di pipinya. Wajah cantik yang tadinya terlihat menantang kini menyisa sendu. Tapi mungkin justru malah terlihat sensual. Suara tak-tok sepatu tingginya nyaris tak terdengar ketika sampai di ruang ganti pemain. Pelan-pelan ia masuk, bersembunyi di balik loker, dan memasang telinganya tajam-tajam.

Dari situ ia bisa mendengar air mengusur dari pancuran. Ia berpikir, perihkah terasa lukanya saat mandi? Lalu matanya tertumbuk pada tumpukan barang-barang di bangku. Jubah dan celana tinju, sarung tinju, sepatu tinju dan handuk penuh darah menyembul dari sebuah tas hitam besar. Dan, hei, apa itu yang bersampul kulit warna coklat? Pelan-pelan sang perempuan mendekati tumpukan barang-barang itu, dan meraih buku bersampul kulit itu. Dibukanya dan terbaca tulisan yang tertulis pada halaman pertama. Angel no es la solo existir en los cielos.*

Dilanjutkannya membuka halaman-halaman selanjutnya. Penuh tulisan tangan bait-bait doa dan puisi. Ia tidak tahu seorang petinju bisa jadi seorang religius. Mungkin itu yang membuat matanya nanar tiap kali menatap laki-laki itu. Tiba-tiba ditemukannya selembar foto di selipan halaman-halaman itu. Foto seorang lelaki muda belasan tahun tersenyum lebar sekali sambil memeluk piala dengan lengannya karena tangannya masih terbungkus sarung tinju. Dipandanginya lelaki muda yang tersenyum lebar itu. Seperti seluruh dunia bangga padanya kala itu. Seperti senyumnya yang lebar siap menyambut gerbang yang terbuka lebar di depannya. Gerbang menuju selaksa impian yang sudah dipilih dan dimulainya. Ingin dilanjutkannya membaca halaman-halaman buku itu. Tapi suara pancuran air tiba-tiba berhenti. Ia buru-buru meletakkan buku tadi di tempatnya semula lalu hendak beranjak keluar. Tapi pintu kamar mandi keburu terbuka. Dan laki-laki itu keburu memandang punggungnya yang terhenyak kaku.

“Aku bukan bermaksud untuk berkata tidak sopan, nona, tapi apa yang kau cari disini?”

Tanpa punya keberanian untuk berbalik, sang perempuan bermaksud untuk cepat-cepat pergi dari situ.

“Tunggu nona, kumohon.”

Barulah si perempuan merasa punya alasan untuk berbalik dan memandang wajah yang selalu membuatnya menatap nanar semua lakon yang terjadi di atas ring. Lukanya sungguhan. Pun memarnya. Baru kali itu si perempuan merasa, tak satupun memori tentang merayu dan menantang laki-laki muncul di pikirannya.

“Nona jauh terlihat lebih cantik tanpa riasan.”

 

*malaikat tak hanya ada di surga

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here