Europe on Screen, Alternatif di Tengah Gempuran Hollywood

0
25

Kedutaan Besar Uni Eropa kembali menggelar Festival Film Eropa, Europe on Screen (EOS), untuk yang ke-12 kalinya. Festival yang berlangsung dari tanggal 25 November sampai 1 Desember 2012 ini akan memutar 50 film karya sutradara-sutradara Eropa yang telah melalui penyaringan secara kualitas oleh pihak penyelenggara.

EOS tahun ini diselenggarakan di beberapa pusat kebudayaan Eropa, diantaranya Erasmus Huis, Goethe Haus, Institut Francais Indonesia (IFI) Jakarta, Istituto Italiano di Cultura (IIC), dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Festival yang digelar setahun sekali ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, kecuali untuk film-film yang diputar di Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Tak hanya pemutaran film, EOS tahun ini juga menyajikan Kompetisi Film Pendek. Terdapat 157 film pendek ikut serta meramaikan Festival Film Eropa tahun 2012. Lebih dari itu, dalam EOS tahun ini juga diadakanworkshop “Cinema-styled Digital Filmmaking wit Canon”, yang diisi oleh sinematografer Indonesia, pada tanggal 29 November di Erasmus Huis. Dalam workshop tersebut akan diberikan tips untuk menangkap gambar dengan gaya sinemantik.

Saat ini, film merupakan salah satu media yang berpotensi mengubah sudut pandang penontonnya secara persuasif. Tak hanya mengubah sudut pandang, film juga dapat menjadi jembatan pemikiran, budaya, dan kepercayaan antara kultur yang berbeda. Festival Film Eropa ini bertujuan untuk memperkenalkan keanekaragaman budaya, sosial dan etnis Eropa kepada masyarakat Indonesia, Jakarta khususnya.

Melalui festival ini, negara-negara Eropa menunjukkan warna baru di tengah gempuran industri Hollywood dan kualitas yang jalan di tempat ala film-film Indonesia. Setidaknya, penonton disuguhkan sesuatu yang baru dan asing yang bisa menjadi alternatif hiburan dan edukasi.

Film 72 Days (Sedamdeset i Dva Dana) produksi Kroasia, menceritakankehidupan seorang pria tempramental yang menyewa seorang ibu untuk berpura-pura menjadi neneknya yang telah meninggal agar bisa menikmati uang pensiunan neneknya. Konflik terjadi saat pria tersebut ingin menikmati uang pensiunan itu sedirian, dan Ia pun mengurung saudara dan keponakkannya dalam gudang. Film besutan sutradara Danilo Serbedzija, yang mengambil latar perdesaan di Kroasia, hendak memperkenalkan dunia baru yang tidak terbayangkan oleh masyarakat.

Festival Film Eropa seakan membawa dunia baru, yang menurut mereka realita, kepada masyarakat di Jakarta. Namun, antusiasme masyarakat dalam perhelatan EOS masih cenderung kurang. Terlihat dari penonton yang datang ke salah satu tempat pemutaran film, IFI Jakarta. Dari 47 kursi yang disediakan oleh panitia, masih terdapat kursi kosong yang belum terisi.

Alih-alih EOS menjadi kesempatan emas, sekaligus alternatif, bagi masyarakat untuk membuka cakrawala, menikmati panorama dan budaya Eropa, malah peminatnya masih terbilang sepi. Masyarakat membutuhkan alternatif, namun ketika ada sebuah alternatif yang berkualitas justru antusias terlihat rendah. Ironis.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here