Semangkuk Mie Instan

0
27

Jakarta sudah masuk musim hujan kembali. Di mana-mana banjir, di mana-mana macet. Itu sudah menjadi hal yang lumrah. Nampaknya warga Jakarta secara fisiologis sudah berevolusi untuk tanggap terhadap “kawan lama” mereka –banjir dan macet.

Sejenak saya matikan siaran televisi yang semua channel-nya membahas tentang banjir. Tiba-tiba perut saya merasa lapar. Karena di luar ketinggian air sudah mencapai 30 cm, akhirnya saya putuskan untuk membuat mie instan saja. Cepat dan praktis. Ya, namanya saja instan. Selang beberapa menit mie instan buatan saya sudah siap dinikmati. Mumpung masih panas segera saya santap untuk mengekang perut lapar dan suhu dingin yang menyergah.

Sambil makan mie instan saya jadi teringat anak tetangga sebelah rumah, Popskii. Saya sering sekali mendengar bahwa ibunya yang bernama Sal bercerita tentang kebiasaan Popskii yang gemar makan mie instan. Mulai dari sarapan, makan siang hingga makan malam. Menunya mie instan dengan aneka varian rasa dan penyajian (goreng dan rebus). Saya berpikir apa ya ndak kriting perutnya makan mie terus. Belum lagi mie instan –konon- mengandung MSG yang apabila dikonsumsi terus menerus dapat mengakibatkan gangguan pada pencernaan bahkan kerusakan fungsi otak. Weleh-weleh menyeramkan sekali.

Setelah rampung melahap mie instan kembali saya menikmati hiburan televisi. Setelah empat jam nonton saya merasa jengah kembali. Setelah acara-acara yang mengabarkan mengenai kemacetan akibat banjir kemudian berganti menjadi tayangan sinetron. Kemudian acara bertajuk mendadak ngetop lantaran ikut ajang pencarian bakat. Aduh, saya kok ya ndak habis pikir. Acara kayak gini kok ya laku. Yang lebih aneh lagi kok ya masyarakatnya ikhlas sukarela nonton acara yang secara isi tidak mengedukasi. Dan yang terjadi adalah kelatahan massa. Semua gandrung acara begituan. Semua kepingin ikutan acara begituan.

Betapa terkejutnya saya ketika melihat mbah Jarwo, hansip komplek rumah, tiba-tiba muncul di televisi. Dia ikutan acara yang menampilkan kegiatan orang berjoget-joget ndak jelas. Tontonan tersebut membawa memori saya tentang peristiwa aneh bernama wabah menari tahun 1518 di daerah Starsbourg, Prancis. Kejadian itu bermula ketika seorang wanita bernama Frau Troffea secara misterius menari seperti orang kesurupan. Kemudian lusinan orang di kota Alsatian melakukan tarian yang sama berturut-turut selama enam hari. Hingga pada akhirnya mereka mati karena serangan jantung, kelelahan dan stroke.

Jempol saya memencet remote untuk pindah siaran lain. Nampak pula Popskii sedang diwawancarai seorang host setelah tadi dia tampil di acara mencari bakat. Saya terpaku. Terperangah sedikit heran bercampur nyinyir. Oalah, dunia sudah berubah. Zaman sudah berganti. Manusia telah beralih perilakunya. Hal yang dulu dianggap saru dan memalukan, kini justru ramai-ramai ditonton dan dipertontonkan.

Entah mengapa saya merasa ngeri. Ini hal yang sangat menyeramkan. Ketenaran instan seolah menjadi tujuan hidup hamper semua orang. Menempuh cara-cara yang instan. Ngetop dengan cara instan. Lengser pun juga cepat. Bintang-bintang kagetan muncul di mana-mana. Tampilan mereka seragam. Dandanannya mirip-mirip. Saya jadi ketawa sendiri, kalau orang yang kena downsyndrom kan wajahnya juga mirip-mirip. Apa ya mereka itu kena instansyndrom?

Pada salah satu dinding tergantung poster idola saya mas Kurt Donald Cobain. Di poster itu ada kata-kata dari mas Kurt yang bunyinya kalau diterjemahkan kira-kira begini, ”Mereka tertawa karena melihat saya berbeda, sedangkan saya tertawa karena melihat mereka semua sama.”

Pikiran saya jadi tidak karuan. Banyak hal berlalu lalang di benak saya. Yang jelas sekarang rasanya saya ingin memuntahkan mie instan yang baru saja saya makan. Saya takut kalau-kalau sebenarnya semua yang instan itu berawal dari apa yang kita makan –dalam hal ini karena saya baru makan mie instan. Ya, itu sih pendapat saya saja, seorang manusia bernama Suman. Sebagai orang desa yang memilih hijrah ke kota demi mencari sumber penghidupan yang katanya bisa lebih baik, tentu pola pikir saya terlalu  sederhana dan tradisional. Orientasinya masih pada prinsip-prinsip hidup yang kini sudah dianggap kolot dan ketinggalan zaman. Tapi saya masih ingat betul wejangan dari kakek buyut saya. Dia bilang, semua hasrat dan keinginan asalnya dari perut. Sedangkan perut mencerna apa yang kita makan. Kalau yang kita makan yang instan-instan ya… Nah!

SHARE
Ridwan Sobar
Pecandu imajinasi yang sedang berjuang keras menyelesaikan perkara. Sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang belum selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here