Merayakan Natal, Merayakan Keberagaman

0
26

Saat angka di pojok layar komputer menunjukkan pukul 06.01 PM, langit terlihat masih cerah. Di langit sebelah barat, tak terlihat keemasan yang biasa muncul. Mungkin, keemasan itu sedang merayakan Natal sehingga ia pamit untuk sebentar.

Saya membuka komputer Popskii yang kebetulan sedang pergi. Membuka surat elektronik, di halaman awal saya membaca berita “5.800 Polisi Amankan Natal di Jakarta”. Wah, saya kaget membaca judulnya. Memangnya Natal salah apa, sehingga harus diamankan polisi sebanyak itu.

Dalam lantunan suara solawat menjelang Magrib, saya masih merenung. Apakah ini adalah kebiasaan kita, meneror masyarakat sehingga beribadah pun harus dijaga?

Saya teringat Sal yang tak bisa berkumpul dengan keluarga besarnya untuk merayakan Natal. Skripsi tidak memungkinkannya untuk pulang kampung. Pada Natal kali ini, ia membuka warteg sampai pukul empat sore saja, sebelum akhirnya tutup untuk ke gereja.

Sebelum tutup, saya sempat mampir ke wartegnya dan meninggalkan catatan hutang untuk kesekian kalinya. Akhir tahun ini, kondisi keuangan saya tak lebih baik. Hutang di wartegnya Sal masih menumpuk. Tapi, Sal tetap berbaik hati menerima hutangan saya.

Yowes, mbah, aku tau kamu lagi susah. Wes, nanti malam kamu ke rumahku, aku sediain masakan Natal,” ucap Sal kala saya bingung mau makan dimana nanti malam.

Apakah orang-orang sebaik Sal harus diteror ketika mau beribadah? Saya belum sempat mengucapkan selamat Natal kepadanya, karena warungnya keburu ditutup.

Setelah Isya, saya pergi keliling. Suasana di kampung seperti halnya malam libur biasa. Tak banyak yang merayakan Natal. Di pos ronda, Suman yang kelihatan sama seperti saya (baca: bokek), sedang melamun meratapi nasib. Resolusinya tahun ini belum tercapai. Wajahnya sepeti tak punya masa depan.

“Mbah, aku bingung nih. Tadinya, aku mau dipromosiin oleh kantor jadi pimpinan cabang, tapi karena gakpunya ijazah, jadi batal promosinya,” keluh Suman di pos ronda.

Saya bilang, ijazah itu bukan segalanya, yang penting itu kemampuan. Tapi Suman malah berniat membuat ijazah palsu. Saya marahi, dia tambah meledak. “Dasar pemuda tanpa masa depan, bisanya hanya mengandalkan emosi. Ngeyel sama orang tua,” tutup saya pada perdebatan itu.

Saya dan Suman diam untuk beberapa saat.

Teringat Sal, saya akhirnya mengajak Suman untuk ikut merayakan Natal di rumah Sal. Suman setuju. Kami pun berangkat naik sepedanya Suman.

Tiba di rumah Sal, ia mempersilakan kami berdua masuk. Rumahnya tak dihias dengan pohon Natal, seperti kebanyakan orang. Sal yang baru pulang dari gereja, langsung menyuguhkan minuman dan makanan kepada kami.

“Bagaimana tadi di gereja?” tanya Suman.

“Lancar kok, semua tenang dan bahagia,” jawab Sal dengan senyum.

Dalam senyumannya itu, saya membaca bahwa ia merasa sangat bahagia merayakan Natal yang damai. Saya langsung membayangkan sebuah negeri yang damai sepanjang tahun, penuh toleransi dan senyuman. Suara Suman yang berisik saat makan hidangan yang disuguhkan Sal, membuat lamunan saya buyar. Sadar sedang merayakan Natal, saya menjabat tangan Sal dengan senyuman, “Selamat Natal, Sal. Semoga hidupmu dipenuhi kebahagiaan.”

Sal tersenyum bahagia.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here