Jose Rizal: Membaca, Membedakan Manusia dengan Hewan

0
32

Teater Kinasih kali ini mengangkat sosok Jose Rizal Manua, pendiri Teater Tanah Air. Lelaki kelahiran Padang, 14 September 1954 menemukan keasikan pada dunia teater sejak terlibat pentas pada acara tujuh belasan tahun 1969. Lalu bergabung dengan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya pada 1975 diikuti Bengkel Teater Rendra di tahun 1977.

Ketika ditemui di galeri buku miliknya di salah satu pojok Taman Ismail Marzuki pada Kamis (18/10) lalu, ia bercerita tentang kerinduannya akan buku-buku berkualitas yang memotivasinya mendirikan galeri buku. Ia melihat banyak second-hand bookstore di tiap sudut New York ketika pada 1988 mengikuti Rendra ke Broadway. “Luar biasa sekali masyarakat kota ini dimanjakan oleh buku,” kenangnya.

Pulang ke tanah air, ia berpikir di Indonesia harus ada juga second-hand bookstore untuk membantu mahasiswa dan pelajar mendapatkan buku-buku lama namun berkualitas tentang seni, budaya, sastra, dan sebagainya. “Saya bilang pada gubernur Jakarta waktu itu, pak Soerjadi Soedirdja, tentang ide saya. Beliau senang dan langsung meminta saya mencari posisi yang cocok. Saya pikir sudut pojok di emperan Graha Bhakti Budaya (GBB) ini cocok. Setelah disetujui kemudian tempat ini dibangun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta lalu diresmikan pada 28 April 1996 dan dinamai Galeri Buku Bengkel Deklamasi. Bertepatan dengan pertunjukkan Rendra Membaca Chairil Anwar yang saya bikin di GBB,” ceritanya pada Bukin.

Sejak tahun 70an Jose mengoleksi buku-buku sastra yang dianggapnya masterpiece. Menurutnya, minat baca dapat menjadi indikasi intelektualitas masyarakat, itu yang membedakan manusia dengan hewan. “Jadi kalau kita malas membaca, sama artinya kita mempunyai inisiatif untuk menjadi hewan,” ujarnya.

Bertolak dari pengamatannya, membaca buku bermuara pada ilmu pengetahuan. “Saya kira hidup itu kompleks. Jadi kompleksitas itu harus dipelajari. Artinya kita tidak hanya membaca apa yang kita bidangi saja, misalnya kewartawanan. Tapi juga harus membaca politik, sosial, ekonomi, karena semua saling mengait. Jadi jangan sampai salah kita memilih bacaan.”

Proses teater pun menuntut pelakunya untuk membaca. Bagi Jose Rizal, di dalam teater ada upaya menafsir karya sastra. Menafsir naskah kemudian mewujudkannya ke atas panggung. Pelaku teater dituntut punya wawasan luas karena seni teater berhubungan erat dengan ilmu-ilmu yang lain seperti sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya. “Makanya ada istilah orang teater itu harus cerdas. Dalam menafsir sebuah karakter di dalam naskah, dia juga harus mempelajari psikologi, sosiologi antropologi, dan sebagainya,” sambungnya.

Di tengah kondisi suatu masyarakat, teater menurut Jose Rizal adalah cermin dari persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. “Kontribusi teater antara lain adalah mengingatkan masyarakat tentang hal-hal yang mungkin luput dari perhatian,” tegasnya. Sehingga bagi penontonnya, paling tidak lewat teater mereka bisa bercermin tentang persoalan dan karakter-karakter individu yang ada di sekitar mereka yang mereka identifkasi dalam kehidupan.

Jose Rizal Manua telah menyelesaikan pendidikan S2 Film di Institut Seni Indonesia, Solo, pada November 2011 dan saat ini merupakan staf pengajar Fakultas Teater dan Fakultas Film di Institut Kesenian Jakarta.

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here