Angklung, Potongan Bambu Penuh Makna

0
57

Angklung adalah alat musik tradisional yang berkembang di daerah Jawa Barat. Alat musik ini terbuat dari potongan-potongan bambu yang disatukan oleh palang gantung sehingga menciptakan nada-nada yang indah. Uniknya, satu angklung hanya menghasilkan satu nada. Sehingga dibutuhkan banyak angklung dengan berbagai ukuran untuk menghasilkan sebuah harmoni. Sampai saat ini belum ada data pasti kapan petama kali angklung ditemukan dan siapa penciptanya. Namun catatan sejarah menduga angklung muncul pada awal kerajaan Sunda sekitar abad ke-12.

Pada awalnya angklung dimainkan sebagai bentuk persembahan kepada Nyai Sri Pohaci, sebagai Dewi Padi, agar memberikan kemurahan hatinya sehingga proses tanam hingga panen padi lancar. Namun seiring berjalannya waktu, angklung tidak hanya dimainkan pada upacara-upacara adat tetapi sudah menjadi sarana hiburan. Apalagi setelah organisasi keilmuan, pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO, menyatakan angklung sebagai warisan dunia dari Indonesia, semakin banyak orang yang tertarik untuk mempelajari angklung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu komunitas yang secara konsisten menjaga angklung adalah Saung Angklung Udjo yang berlokasi di Bandung. Sanggar ini didirikan sejak tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena yang merupakan murid dari maestro angklung Daeng Soetigna. Sanggar ini tidak hanya menampilkan pertunjukan angklung atau kesenian Jawa Barat lainnya, namun juga menyajikan sebuah acara yang disebut Angklung Interaktif yaitu masing-masing penonton diberikan angklung dan diajarkan cara memainkannya sehingga menghasilkan sebuah intrumen. Hal ini dilakukan demi menumbuhkan rasa cinta kepada angklung  sehingga kesenian angklung tidak mati dimakan zaman.

Selain menghasilkan nada-nada indah, ternyata angklung juga menyimpan sebuah filosofi yang menarik. Menurut Karuhun Urang Sunda, tabung angklung mengibaratkan kehidupan manusia. Angklung hanya akan menjadi bambu biasa apabila terdiri dari satu tabung. Begitu pula manusia yang tidak akan menjadi apa-apa jika hanya sendirian, karena pada hakekatnya manusia merupakan makhluk sosial.

Selanjutnya bagian tabung angklung yang kecil disebelah kiri kemudian di sebelah kanan terdapat tabung angklung yang lebih besar menggambarkan proses hidup manusia dalam menggapai cita-cita dari sebuah perjuangan hingga akhirnya memetik hasil yang pantas.

Dan yang terakhir nada-nada penuh harmoni yang tercipta dari beberapa angklung yang dimainkan menggambarkan bahwa manusia juga bisa hidup rukun menciptakan harmoni yang indah ditengah kehidupan bermasyarakat.

Begitulah angklung, potongan-potongan bambu ini terlihat begitu sederhana namum penuh makna. Sama halnya seperti sebuah perubahan dapat tercipta dari hal-hal sederhana yang saling berkesinambungan.

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here