Konsumsi Tanpa Arah

0
35

Sudah beberapa bulan terakhir ini, saya, si Sal, berhenti menonton televisi. Awalnya sih gara-gara tivi saya rusak. Layarnya gelap segelap masa mudanya Mbah Jarwo. Maklum, tivi murah. Waktu mempertimbangkan beli tivi dulu, saya mau ikut-ikutan warteg gang seberang, asal ada tivinya. Jadi ya saya beli tivi yang merknya tidak terkenal. Setelah rusak pun ternyata saya nggak mau repot-repot membetulkan.

Pelanggan warteg saya ada yang mengeluh, nggak bisa makan sambil nonton tv. Padahal saya pikir, ada bagusnya juga kalo nggak ada tivi, orang-orang yang datang ke warteg saya akan lebih banyak mengobrol. Mungkin awalnya hanya basa-basi ngobrolin cuaca hari ini, lalu bisa berlanjut ke diskusi menyelesaikan masalah bangsa. Ngobrol kan bisa memancing opini-opini, biarpun nggak terdengar ke bapak-bapak dewan, yang penting masyarakat kita ini berpikir. Nggak terus-terusan mengonsumsi informasi yang kadang bikin malas mikir. Eh ternyata pelanggan warteg saya lebih memilih untuk mencet-mencet gadgetnya daripada menyapa kanan-kiri.

Ternyata, setelah beberapa waktu lamanya tidak menonton televisi, hidup saya kok rasanya jadi lebih tenang. Kalau saya lagi begadang meracik bumbu-bumbu untuk hidangan warteg saya, nggak ada berita-berita kriminal yang biasanya jadi headline berita tengah malam. Kalau saya lagi nunggu suami saya mengantar barang dagangan ke luar kota, nggak ada berita kecelakaan yang bikin pikiran nggak tenang. Kalau sore-sore, biasanya ada berita investigasi tentang ayam tiren dan tahu formalin, bikin saya takut dicurigai jualan yangbegituan.

Mungkin benar, televisi bukan lagi kanal terpopuler untuk mencari informasi, sejak ada internet. Tapi benarkah internet adalah tempat kita mencari informasi? Sekarang hampir semua mahasiswa adalah pengguna aktif sosial media. Kenyataannya, mereka mulai kesulitan memisahkan apa yang nyata dan yang maya. Buktinya, kebanyakan mahasiswa yang datang ke warteg saya obrolannya kurang lebih begini, “Eh, loudah gue mention nih.” Dan balasannya kira-kira begini, “Oke, nanti pasti gue follback.” Setelah itu biasanya, “Mana postingan foto kita lagi makan di warteg? Tag-in ke gue dong!”

Informasi apa yang kita cari di internet?

Informasi apa yang sebenarnya kita butuhkan?

Karena beragamnya informasi di internet, sulit bagi saya untuk memilah, mana yang penting untuk saya konsumsi, dan mana yang tidak. Ketika saya mulai bosan sama model dan warna rambut saya, saya mulaigugling tren rambut 2013. Ketika semua tetangga saya demam belanja online, dari baju sampai double pan, saya jadi ikut-ikutan cuci mata di web belanja. Untung akhirnya saya sadar, harga barang yang sama di itese tentu bisa lebih murah.

Kalau ada yang bilang, televisi adalah deintelektualisasi, bisa juga demikian halnya dengan internet. Kalau ada yang bilang, televisi bisa menyetir persepsi dan menjerumuskan pemahaman, internet bisa lebih parah lagi. Seorang teman yang belum pernah makan di warteg saya pernah bilang, “Justru dengan hadirnya internet, toh kendali media ada di tangan kita yang terserah mau ngeklik mousenya kemana atau close browser tab-nya.”

Luasnya ruang lingkup internet yang dipuja-puja sebagai ruang kebebasan berekspresi justru bisa menjadi bumerang dan mempersempit dunia, kalau tidak siap menggunakannya atau tidak bisa menentukan tujuan, untuk apa kita mengonsumsi internet.

Tapi toh warteg saya belum pasang HotSpot wifi.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here