Sebuah Pergerakan Bernama Ngamen Sastra

0
13

Bila Kampus Tercinta punya Disini Kita Berjumpa (DKB), Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia punya Ngamen Sastra. Apa bedanya? Tentu saja, Ngamen Sastra digelar di dalam kampusnya sendiri, sedangkan DKB, dari namanya pun kita sudah dapat mengambil pesan tersirat, bukan di kampus kita berjumpa.

Bila UI selalu sedia 24 jam untuk mahasiswa, namun Kampus Tercinta, buka jam 6 pagi tutup jam 8 malam, layaknya memperlakukan orang-orang berseragam. Mendengar hal itu, Ngamen Sastra pun ikut komentar, “Mahasiswa itu masa puncak-puncaknya beraktifitas dan bersosialisasi sesama. Kalau dibatasin gimanajadinya, bro?”

Melalui sosial media, kami bertemu dan memulai wawancara.

Ngamen Sastra itu apa sih?

Ngamen Sastra merupakan konsep acara music for charity, juga sebagai mekanisme ruang interaksi sosial dan budaya masyarakat kampus di kantin yang representatif kepada pemain, pemerhati serta penikmat. Konsep acara ini adalah sebagai sarana berekspresi dan berapresiasi menuangkan keterampilannya dalam berkesenian (musik, puisi, teater, dll).

Konsep acara music for charity itu apa maksudnya?

Jadi, karena konsep “Ngamen”, di setiap sesi acara ada panitia untuk berkeliling mebawa kardus untuk “ngecrek” sebagai ciri “otentik” dari acara ini, sejumlah uang kepada penonton yang hadir di acara ini. Uangnya yang terkumpul akan kita sumbangkan kepada yang membutuhkan. Itu konsep Charity dari “Ngamen” Sastra. Kalau berkesenianya apa aja bisa ditampilkan di acara ini, baik puisi, seni rupa, musik, dll.

Bisa diceritain awal terbentuknya?

Bermula dari “tongkrongan” teman-teman dari berbagai jurusan di Kantin Sastra (Kansas) Fakultas Sastra Ilmu Budaya Universitas Indonesia, paska reformasi 1998, Ngamen Kansas digelar dengan bermodalkan alat-alat musik minimalis berupa sound system dari Gedung 5 (Laboratorium Bahasa), tiga mic, dua gitar kopong serta galon air mineral sebagai gendang.

Sebuah acara berkesenian di kantin yang “freak” juga “nyentrik” tapi “asyik” pada saat itu. Ngamen Kansas sebagai wujud kebudayaan baru di Kantin Sastra, mendapatkan suasana kondusif untuk perkembangan berkesenian di kampus. Antusias dan partisipasi mesyarakat kampus FSUI untuk terlibat dalam acara hingga pada tahun 1999, “tongkrongan” itu mendirikan komunitas yang bernama Sastra Kid’s Production sebagai penyelenggara Ngamen Kansas secara profesional. Pernah ada band IISIP main di Ngamen Sastra, sekitar tahun 1999.

Perubahan nama Ngamen Kansas menjadi Ngamen Sastra dilakukan atas nama Fakultas Sastra berumbah nama menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada tahun 2002. Sebuah acara berkesenian di Kantin Sastra dalam format panggung terbuka, yang diselenggarakan tiap semester perkuliahan. Perjalanan kegiatan acara ini sudah berlangsung ke tujuh kalinya di tahun 2002 bekerjasama dengan Departemen Penerbitan, Senat Mahasiswa FSUI dan untuk pertama kalinya Ngamen Sastra terlibat dalam acara akbar yaitu Ngamen Sastra n Gelar Sastra Raya FSUI sebagai acara puncak kegiatan, lalu vakum semenjak itu.

Pada hari Jumat, 18 November 2011, Ngamen Sastra akhirnya dapat diselenggarakan kembali di Teater Daun FIB UI dibawah naungan Senar Budaya FIB UI, sebuah format baru sebagai mediasi silahturahmi dan berkesenian untuk mahasiswa, alumni, dosen, karyawan, satpam dan pedagang kantin serta kolega-koleganya. Nama Ngamen Sastra dipergunakan kembali pada acara berikutnya; Pro Event Ngamen Sastra, Jumat 20 April 2012 dan Ngamen Sastra Tribute to Dekun, Jumat 4 Mei 2012. Ngamen Sastra adalah acaramemorable karena banyaknya angkatan mahasiswa se-fakultas yang terlibat dan menjadi saksi kegiatan berkesenian, acara yang telah mengakar di fakultas ini.

Kenapa menamakan diri sebagai sastra, bukan karya,yang lebih universal, misalnya?

Karena konsep berkesenian ini lahir di Fakultas Sastra UI, terlebih sekarang FSUI sudah berganti nama menjadi FIB UI, sebuah keterputusan rangkaian angkatan se-fakultas, karena itu Ngamen Sastra ada.

Kalian menganggap Ngamen Sastra ini sebagai apa?

Ngamen Sastra sebagai aktivitas kebudayaan dalam berkesenian, membangun kerjasama yang baik di antara berbagai komunitas kesenian yang ada di lingkungan kampus FIB UI maupun luar dan masyarakat lainnya untuk menciptakan networking berkesenian bersama yang kuat, mandiri dan berkarakter. Terlebih menjadikan berkesenian adalah kebutuhan mentalitas budaya (Frof. Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, 1987) bagi seluruh civitas akademika FIB UI.

Sampai kapan Ngamen Sastra bakal tetap ada?

Harapanya ini acara jadi “sindikasi” pergerakan. maunya selama-lamanya.. Aamiin!

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here