Jejak Apocalypto di Jakarta

0
49

Apocalypto lebih dikenal sebagai sebuah film yang disutradarai oleh Mel Gibson pada tahun 2006, yang menggambarkan kehidupan peradaban suku Maya pada periode Praklasik. Kali ini Apocalypto hadir kembali, namun bukan sebagai film melainkan sebagai sebuah pameran seni rupa.

Pameran yang bertajuk “Apocalyto” ini menampilkan karya-karya Ade Pasker tergantung di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, selama 10 hari, dari tanggal 19 – 29 September.

Tajuk Apocalypto diakui Pasker terinspirasi dari film besutan Mel Gibson, di mana seorang Jaguar Paw, tokoh utama dalam film tersebut, berusaha untuk kembali kepada istrinya demi menepati janji yang telah dibuatnya. Jaguar Paw harus menghadapi rintangan yang berat untuk menepati janjinya tersebut.

“Saya ingin menggiring orang-orang lebih tentang apa itu Apocalypto, tentang sebuah perjalanan dalam menepati janji, saat anak-anak muda zaman sekarang sulit untuk melakukannya,” ujar Pasker, yang lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Karya-karya beraliran ekspresionisme bercerita tentang kehidupan, kritik sosial, dan masalah personal seorang Pasker menghadapi benturan budaya yang terjadi saat ini. Benturan budaya adalah sesuatu yang tak dapat terelakan di era globalisasi ini, yang membuat budaya kita perlahan menghilang.

Sebuah lukisan berjudul “Mitos” yang menggambarkan seorang wanita tanpa busana di pinggir sungai. “Mitos” menyimbolkan betapa banyaknya legenda bernilai tinggi yang dimiliki Indonesia, namun di sisi lain rakyat Indonesia lebih tergiur oleh gemerlapnya budaya luar.

“Dalam ‘Mitos’, penggambaran perempuan telanjang itu dimaksudkan untuk melihat budaya kita secara utuh yang sudah indah tanpa harus diberi perhiasan,” jelas Pasker.

Pesan yang sangat implisit juga dihadirkan dalam salah satu karya dalam pameran ini. Karya yang sangat sederhana, menggambarkan seorang terlilit kain dan di bawahnya terdapat kalimat, “Aku tak ingin jadi patung yang tak bisa kemana-mana.” Dengan lukisan tersebut, Pasker ingin menyentil orang-orang yang tak mau berbuat sesuatu.

“Ketika ketergantungan dengan uang, kita akan menjadi patung. Yang penting itu semangatnya, karena kita bukan patung,” ucap seniman yang juga pecinta Vespa ini dengan gaya mengajak.

Salah seorang pengunjung menilai positif karya-karya Pasker yang dipamerkan. “Lukisannya bagus dan sedikit kontemporer,” ucap Wahyu, pengunjung yang biasa melihat pameran.

Pemeran Apocalypto ini diresmikan oleh Ton Van Zeeland, Director theatre and gallery “Erasmus Huis”, Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. “Ada Pasker adalah pelukis modern yang menciptakan pendangannya sendiri dengan teknik yang kuat dan karakter yang unik,” tulis Zelaand dalam reviewnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Syamyatmoko, penulis seni rupa dari Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. “Pasker sejak lama memiliki goresan-goresan yang naif dan kuat, sehingga menciptakan kompleksitas dalam setiap karyanya,” tutur Syam dalam sekapur sirihnya.

Ade Pasker sudah melakukan banyak pameran di berbagai tempat, baik kolektif ataupun tunggal. Rencananya, pada tahun 2015 ia akan kembali melakukan pameran tunggal di Galeri Nasional, Jakarta Pusat.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here