Kampung Segart: Pamer Pameran

0
5

Kampung Segart, salah satu UKM seni di kampus IISIP Jakarta, kembali mengadakan pameran yang bertajuk Pamer Pameran pada tanggal 25 – 27 Oktober 2012, kemarin. Dalam pameran ini, Kampung Segart menghadirkan 32 karya dalam bentuk dan gaya yang berbeda-beda. Kamseg (sebutan umum Kampung Segart) memamerkan segala keahlian para anggotanya dalam berseni rupa. Kaseg dalam hal ini hanya bertindak sebagai media dari hobby masing-masing artist yang menampilkan karya-karyanya.

Pamer Pameran secara keseluruhan mambebaskan para artist untuk membuat karyanya. Konsep utama dari Pamer Pameren adalah memamerkan karya itu sendiri, yang bebas dan bisa dipertanggungjawabkan. “Asal presentasinya jelas,” kata Hanif, seorang anggota aktif Kamseg.

Para artist, yang semuanya merupakan anggota Kamseg, dalam pameran ini diajak untuk mengkomunikasikan sesuatu lewat karya seni rupa. Mereka mencoba merespon apa saja yang ada di kenyataan melalui karya mereka.

Dengan cara yang fun, Kamseg memamerkan karya-karya yang tidak melulu serius, namun bersifat eksperimental. Terlihat dari salah satu karya, ‘Kucing Nyiram Orang’, yang menggambarkan adanya seorang kucing yang sedang menyiram seekor orang dengan air panas. Nampak sebuah irasionalitas yang tak dapat ditemui di kenyataan. Angga Aditya menggunakan aklirik yang bermediakan kayu, hendak menghadirkan sebuah kejenakaan yang sarat dengan sindiran. Sebuah parodi yang menghibur tanpa mengurangi kedalaman pesan yang ia sampaikan.

Sejalan dengan Angga, Karina Dwi Febria memamerkan ‘Angel’, sebuah gambar perempuan yang didekonstruksi dengan gambar-gambar lainnya, seperti kolase. Hidung perempuan itu diganti dengan hidung babi, memiliki sayap layaknya malaikat, namun tidak berkulit pada bagian dada hingga perut, sehingga menjadi bentuk baru dan tentu saja, makna baru. Karina seperti menawarkan sosok perempuan dengan “wajah baru”.

Bukan hanya itu, hal yang sangat irasional banyak hadir di pameran ini. Nampak seperti respon atas kenyataan yang rasional, sistematis, dan logis, yang justru selalu gagal menunjukkan kenyataan. Kampung Segart hendak menawarkan kenyataan yang lain, yang irasional, yang tak jelas, dan absurd.

Indra, anggota kamseg, mengaku tidak pernah diberikan pendidikan secara formal tentang karya seni. Semua belajar secara otodidak dan mereka menampilkan karya mereka apa adanya. “Di sini kan bukan kampus seni, semuanya pada belajar sendiri-sendiri,” ujarnya.

Hanif, salah satu artist dalam pameran ini, mengatakan bahwa karya seni itu tidak hanya milik mereka yang mempunyai skill atau keterampilan, tapi milik semua orang. Skill is Dead. Seni bukan hanya milik orang-orang spesialis seni. Kesenian adalah milik semua orang dan semua orang bebas untuk menciptakan sebuah karya seni.  Meski bagaimana pun, seni tak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan dunia luar. Terlalu banyak kenyataan yang dapat dicerap, dikonstruksi, direkonstruksi, bahkan didekonstruksi untuk mendekati kenyataan yang sesungguhnya, yang memungkinkan eksperimen baru dalam berkesenian. Hal tersebut, yang dilakukan kamseg, merupakan perlawanan terhadap estetika populer yang mainstream, yang justru membuat Kamseg nampak eksklusif.

Liputan oleh Bayu Adji P dan May Rahmadi

SHARE
Cikal Kinasih
Unit Kegiatan Mahasiswa IISIP Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here