Last Night Was

0
23

Di lobby sebuah hotel duduklah seorang lelaki tampan berkemeja dan jeans hitam di sebuah sofa berwarna krem yang sedang sibuk dengan sesuatu yang ia kerjakan di laptopnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke layar laptopnya. Sesekali mengerutkan dahinya dan kadang wajahnya menunjukkan bahwa apa yang dilihatnya di layar laptop itu menarik. Kemudian datanglah seorang perempuan cantik yang berjalan ke arah sofa di mana lelaki itu duduk. Ia memakai gaun mini berwarna hitam dengan kalung choker dan stilettoheels berwarna senada. Rambutnya berwarna hitam dengan potongan bob. Dengan anggun ia berjalan menuju sofa. Namun naas, karena ketika sedikit lagi ia akan mencapai sofa, ia terpeleset dan jatuh di depan lelaki yang sedang sibuk dengan laptopnya.

“Eeeh… Aduh!”

“Eh mbak, hati-hati!” kata lelaki itu setelah menyingkirkan laptop dari pangkuannya.

“Aduh maaf ya…”

“Iya gak papa mbak.” kata lelaki itu sambil membantu perempuan itu untuk duduk.

Setelah perempuan itu duduk, lelaki itu kembali sibuk dengan laptopnya sementara perempuan itu membersihkan kaki dan membereskan gaunnya yang sedikit berantakan. Terjadi keheningan yang cukup lama sampai akhirnya perempuan itu memecahkannya.

“Viola.” kata perempuan itu sambil menyodorkan tangan ke arah lelaki yang sedang sibuk dengan laptopnya.

“Hah?! Ooh! Erik.” kata lelaki itu menjabat tangan Viola.

“Senang berkenalan denganmu. ” kata Viola sambil melepas genggaman tangannya di tangan Erik.

Kembali hening.

“Lagi nunggu seseorang atau yang lain?” tanya Viola.

“Enggak. Lagi ganti suasana aja. Sesekali main-main di lobby hotel, gak di kamar.” kata Erik tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari laptopnya.

“Ke sini untuk working atau relaxing?” tanya Viola lagi. Kali ini sambil memberikan senyum terbaiknya.

Relaxing. Tapi apa daya. Pekerjaan itu seperti hantu. You can run but you can’t hide. Di mana pun aku berada, untuk keperluan apa pun, tetep aja kerjaan dateng. Dan harus dikerjakan secepatnya.” kata Erik yang akhirnya mengalihkan pandangannya dari laptop.

Setelah berhasil mengalihkan perhatian Erik dari laptopnya, Viola mulai mengajak Erik ngobrol. Tidak lagi basa-basi namun kini mereka saling bercerita mengenai apapun. Tentang pengalaman mereka, tentang diri mereka, dan sedikit hal pribadi. Perlahan Erik terlihat mematikan laptopnya dan memasukkannya ke sarung laptop yang berada di sampingnya lalu mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Viola. Sementara itu Viola pun mengganti posisi duduknya agar menjadi lebih dekat dengan Erik.

“Jadi sebenernya kamu lagi nunggu temen?” tanya Erik.

“Iya. Katanya dia mau jemput aku di sini. Kita mau dateng ke sebuah pesta di pinggir pantai malam ini. Tapi kayaknya dia bohong. Udah di telpon, tapi handphone nya gak aktif. Makanya aku ke sini buat netralin emosi aku dulu supaya aku bisa ambil keputusan dengan akal sehat.” jawab Viola.

“Maksudnya?” tanya Erik bingung.

“Iya. Jadi aku bisa mutusin kemana aku akan pergi abis dari sini. Kalo aku mau ikutin emosi aku tadi, aku pasti udah ada di bar dan minum sampai mabuk buat ngilangin bete.” jawab Viola sambil tersenyum.

“Ooh begitu? Iya juga sih ya. Kita emang gak boleh ngambil keputusan dalam keadaan emosi. Bisa nyesel seumur hidup kalo ternyata keputusan yang diambil tuh ternyata berdampak buruk buat kita. Endingnya gak keren deh nantinya.” kata Erik.

Viola dan Erik terus mengobrol hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 00.30.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang.” kata Viola.

“Memangnya mau ke mana?” tanya Erik.

“Pulang” jawab Viola sambil menggesturkan tanda petik dengan jarinya.

“Kenapa pulangnya pake tanda petik?” tanya Erik lagi.

“Karena pulangku gak sama dengan pulangnya orang-orang kebanyakan.” jawab Viola sambil tertawa.

“Hah?! Emang rumah kamu di mana?” tanya Erik.

“Rumahku di hati semua orang yang aku temui.” jawab Viola dengan senyum penuh arti.

Erik hanya diam saja sambil mengerutkan dahinya.

“Aku harus pergi sekarang.” kata Viola sembari bangkit dari sofa.

“Tunggu!” kata Erik sambil menarik tangan Viola, “Karena aku gak tau persis di mana letak tempat tinggalmu. Entah jauh atau dekat. Sebaiknya kamu menginap saja bersamaku malam ini. Aku gak bisa ngebiarin kamu berjalan sendirian di luar malam-malam begini. Di luar itu berbahaya. Banyak serigala-serigala liar yang akan menerkammu dengan buas bila kamu sedang tidak beruntung malam ini.”

Viola menatap Erik sambil berpikir.

“Tenang aja. Aku gak akan melakukan hal-hal aneh ke kamu. Aku akan tidur di sofa. Di bathtub kalo perlu.” kata Erik. Dan Viola pun tertawa karena itu.

Well, aku sedang merasa beruntung malam ini. Jadi aku yakin aku akan aman-aman aja kalo pun aku berada di jalanan malam ini. Tapi tawaranmu boleh juga. Jadi aku gak perlu mencari hati untuk kusinggahi malam ini.” kata Viola sambil mengerling manja.

Erik membalasnya dengan senyuman dan langsung menggandeng Viola menuju kamar tempatnya menginap di hotel itu. Sepanjang perjalanan, mereka masih saja bercanda. Tentang ini dan itu. Orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka atau mereka lewati pasti akan berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih. Padahal mereka baru saling kenal beberapa jam saja.

Akhirnya mereka sampai di kamar Erik. Setelah melepas sepatu, mereka pun duduk di sofa dan kembali ngobrol.

“Ya ampun Erik, ternyata kamu lucu juga ya orangnya. Aku kira kamu tuh tipikal cowok serius yang kaku loh!” kata Viola sambil tertawa.

 “Aku juga pertamanya ngira kamu tuh jaim. Ternyata,wah, jauh banget dari ekspektasi aku.”

Mereka terus mengobrol dan bercanda hingga akhirnya posisi mereka pun semakin mendekat satu sama lainnya. Mereka sudah tidak hanya saling mengobrol, tetapi juga sudah mulai saling bersentuhan.

“Aku gak tau ini cuma perasaan aku aja atau gimana. Tapi lama-lama kok aku ngerasanya kayak kita udah kenal lama ya? Aku gak ngerti deh. Atau mungkin dulu kita emang akrab ato gimana gitu. Entahlah.” kata Erik dengan kepala Viola yang berada di bahunya.

“Aku juga ngerasa gitu. Hmm, sepertinya malam ini aku pulang ke hati yang tepat.” kata Viola sambil menyentuh dada Erik.

Dan mereka pun saling memandang dengan tatapan penuh arti.

“Aku pulang malam ini, bisakah kau bukakan pintunya untuk ku?” bisik Viola tepat di telinga Erik.

Erik hanya tersenyum sampai akhirnya Viola mencium bibirnya.

Di tengah malam penuh gelora itu, Viola pulang ke hati Erik, orang yang baru dikenalnya 3 jam lalu.

Keesokan paginya Erik terbangun karena sinar matahari yang menyorot wajahnya. Ia bangun dengan tubuh yang hanya ditutupi selimut. Ia pun kaget karena tidak melihat Viola di sekitarnya. Ia turun dari kasur dan memakai celananya yang terserak di lantai dan mengambil kemejanya yang tergeletak di sofa. Lalu Erik ke kamar mandi untuk mengecek apakah Viola ada di sana. Ternyata kamar mandinya pun kosong. Tak  ada Viola di kamar mandi. Viola seolah hilang bersamaan dengan waktu yang dihabiskan dengannya semalam. Akhirnya Erik membuat secangkir kopi dan meminumnya di kursi dekat jendela sambil berusaha mengingat apa yang terjadi semalam hingga ia bangun tanpa sehelai benang pun pagi ini. Ketika menaruh cangkir kopi di meja sebelahnya, Erik pun melihat selembar surat yang dilipat tergeletak di atas meja. Ia membaca surat itu, tersenyum penuh arti, melipatnya, dan menghabiskan kopinya.

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here