Siluet

0
91

Lampu padam!

Semua jadi gelap. Aku duduk dengan tenang. Aku mampu membohongi orang-orang di sekelilingku, tapi tidak bisa membohongi diriku. Aku gelisah dalam ketenangan duduk. Bagiku semua ini seperti mengulang masa lalu. Sebuah kenangan yang indah dan sedikit getir.

Layar raksasa itu mulai memutar film. Siluet kepala orang ada dimana-mana. Tapi tidak di samping kiriku. Bangku itu masih kosong. Sama seperti dulu. Ketika aku diajak menonton film di bioskop oleh teman-temanku. Acara yang dibuat sedemikian rupa. Menonton, makan, membicarakan film yang baru saja ditonton kemudian pulang dan tidak terjadi apa-apa lagi setelahnya. Dan yang seperti itu aku tidak suka.

Sampai suatu hari lampu telah padam dan film hampir diputar. Bangku di samping kiriku masih tetap kosong. Aku tahu pasti terjadi sesuatu pada orang yang seharusnya duduk di samping kiriku itu. Entah karena peristiwa apa. Film yang akan segera diputar sedang meledak di pasaran. Setiap orang yang ingin menonton paling tidak harus memesan tiket sekurangnya tiga hari sebelumnya. Jadi kursi itu seharusnya tidak kosong.

Film sudah setengah jalan. Aku tetap saja belum berhasrat. Hanya tetap duduk tenang dengan pandangan lurus ke depan akan membuat teman-temanku mengira aku menikmati filmnya. Tiba-tiba sebuah siluet datang dari bangku paling ujung dekat tangga. Siluet itu semakin dekat dengan bangku dimana aku duduk tenang. Akhirnya siluet itu melewatiku dan mengisi bangku kosong di samping kiriku.

Aku ingat betul bagaimana rambutnya yang panjang terurai. Tubuhnya menawarkan wangi yang aku sendiri belum pernah menciumnya. Kini siluet itu tengah duduk di sampingku. Nafasnya tersengal sedikit. Mungkin karena berlari takut tidak kebagian adegan dalam film. Siluet itu membuatku penasaran. Setiap nafasnya. Setiap gerak yang dilakukannya menambah rasa ingin melihat wajahnya. Aku mencoba melirikkan mata ke arahnya. Tapi lampu belum juga menyala. Hanya siluet saja. Dalam gelap aku melihat bagaimana hidungnya begitu runcing. Bayang bibir yang merekah sempurna. Rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya.

Tanpa terasa jantungku sedikit demi sedikit mulai menyatu dengan irama musik yang berdentum kencang di dalam ruangan bioskop. Tidak begitu cepat tapi menegangkan. Rasa penasaran mendorongku untuk menoleh lagi ke arahnya. Ingin melihat sosoknya utuh. Sampai saat ini baru mataku yang berani melirik. Dia tahu. Siluet itu tahu aku meliriknya dan dia sudah memandangiku. Dia menoleh ke arahku penuh. Aku bisa melihatnya dari ujung mataku. Matanya menyisir seluruh tubuhku. Cepat –cepat aku memandang layar raksasa yang belum juga menyelesaikan filmnya itu. Dia kembali memandang ke depan.

Aku tidak tahu siapa dia. Hanya siluet. Dan hatiku sudah bergetar hebat. Aku mulai jatuh cinta. Pada sebuah siluet. Dan itu sudah cukup. Walaupun aku sangat ingin memandangnya di bawah sorotan lampu. Bodoh. Bagaimana seseorang bisa jatuh cinta pada sebuah siluet. Seperti membeli kucing dalam karung. Dalam balutan kegelapan dia tampak begitu indah. Tapi bisa saja wajahnya begitu jelek. Mungkin wajahnya pernah tersiram air keras, atau mungkin matanya juling. Bisa jadi giginya ompong. Bahkan sangat mungkin tahi lalat memenuhi wajahnya.

Aku tidak peduli. Karena aku mencintainya sebagai siluet. Sebagai bayang. Aku yakin aku tidak butuh hal itu. Hal yang memberikan ilusi keindahan semu pada mata yang awam. Akhirnya aku memilih diam. Hanya sesekali mataku berhasil mencuri potret wajahnya. Yang membuatku memiliki sketsa yang terlukis dengan indah.

Waktu terus berlalu. Apa yang sulit dari itu. Aku hanya perlu menunggu. Setelah film selesai, lampu akan segera menyala dan saat itu aku bisa memandanginya sepuasku. Tapi setiap detik tidak mudah dilewati. Ada ratusan kegundahan yang merintangi. Sebentar lagi. Tinggal beberapa menit lagi dan film selesai. Dia tahu. Siluet itu tahu aku begitu gundah dan dia sudah menggenggam tanganku. Jemari lembut terasa menyentuh kulitku. Tangannya erat menggenggam. Aku hanya bisa bungkam. Aku tak kuasa merasakan tiap jengkal tangannya. Dan aku tidak melepaskan genggaman itu.

Aku sama sekali tidak mengenalnya. Hanya siluet. Dan aku sudah jatuh cinta. Tanganku dan tangannya menjadi utusan dua perasaan yang bergejolak. Kurasa semakin dalam. Maka semakin besar hasratku. Masih perlukah sebuah cahaya agar aku dapat melihatnya utuh. Aku mulai larut. Aku mulai menyukai gelap. Aku suka keadaan ini. Aku cinta keberadaannya di sampingku.

Film telah usai. Sebentar lagi lampu akan menyala. Beberapa detik saja. Dia tahu. Siluet itu tahu aku telah jatuh cinta padanya dan bibirku telah lekat dibibirnya. Ciuman yang mematahkan doa pemohon. Tanpa tanda, tanpa bisikan. Bayangnya jatuh dipelukku. Bibirnya tiada ucap bisikan diantara keinginan. Perlahan sangat tipis. Selalu berlalu membisu.

Lampu menyala. Dia sudah tidak ada. Waktu terus berlalu. Apa yang sulit dari itu. Setiap detik hidup. Setiap detik maut. Waktu perkenalkanku pada keadaan dan keberadaan. Juga impian. Agar aku tetap percaya adanya satu cahaya. Yang akhirnya ku padamkan. Dengan gelap aku menghargai terangku. Aku terus maju. Selalu masih ada waktu.

Hal itu terulang lagi dan lagi. Lampu menyala. Dan dia sudah tidak ada. Seperti saat ini. Aku pulang bersama teman-teman juga kekasihku. Dia wanita yang sangat cantik di bawah sorotan lampu. Rambutnya panjang terurai. Hidungnya begitu runcing. Dan bibirnya merekah seperti mawar merah. Tapi dia selalu terlambat datang ke bioskop.

SHARE
Ridwan Sobar
Pecandu imajinasi yang sedang berjuang keras menyelesaikan perkara. Sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang belum selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here