Idealisme vs Komersialisme

0
17

Suatu kabar yang menggembirakan datang dari para sineas negeri. Betapa tidak, hampir setiap bulannya selalu ada film-film karya anak bangsa yang menghiasi layar bioskop. Namun, sayanganya masih banyak diantara film-film tersebut yang jauh dari kualitas. Banyaknya produser yang hanya membuat film untuk memenuhi keinginan konsumen dan bukan menyajikan film yang sarat akan kritis dan edukasi.

Sebagai contoh maraknya film horor “dalam negeri” yang dibumbui cerita seks atau komedi. Pasalnya, dalam film tersebut selalu ada adegan yang berbau pornografi. Misalnya roh yang gentayangan karena mati diperkosa. Namun yang mendapat porsi banyak disini bukanlah gentayangannya, tapi bagaimana ia diperkosa. Hal ini sangat kontras dengan UU No. 33 tahun 2009 tentang perfilman pasal 6 yang menyebutkan bahwa film dilarang mengandung unsur pornografi, SARA, dan tindak kekerasan serta penyalahgunaan zat-zat psikotropika.

Dalam pasal 4 juga disebutkan tentang fungsi perfilman. Yaitu, perfilman mempunyai fungsi budaya, pendidikan, hiburan, informasi, pendorong karya kreatif, dan ekonomi. Namun dewasa ini yang banyak dipakai hanya untuk kepentingan hiburan dan ekonomi.

Menurut Naldy Nazar Haroen–Sutradara Film Bukan Cinta Biasa–berbisnis di bidang seni memang tidak boleh terlalu idealis. Namun, para produser tetap harus mengedepankan kualitas, bukan kuantitas, agar karya-karya seni para produser dan sutradara tetap dihargai masyarakat.

Hal inilah yang mungkin mendorong Jose Purnomo untuk kembali berkarya dengan membuat film horor yang menyuguhkan atmospheric horror dan bukan sex horror.

Atmospheric horror yang diusung bukan melulu soal penampakan, cerita dan logikanya juga harus kuat. Contohnya pintu yang terbuka sendiri sudah bisa menimbulkan kesan seram, Pada intinya saya ingin buat film horor yang berkualitas,” pungkas Jose.

Terlepas dari masalah idealisme sutradara ataupun komersialisme yang ingin dicapai dalam sebuah produksi film, kitalah sebagai penikmat film yang harus cerdas memilih tontonan apa yang sesuai dan memberikan nilai edukasi bagi kita, bukan hanya sekedar sebagai media hiburan.

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here