Syukuran Panen a la Sunda

0
6

Indonesia terkenal dengan beragam budaya yang dipunya. Hal ini dikarenakan pada masa pra-Hindu maraknya faham animisme dan dinamisme. Faham-faham tersebut melekat secara turun-temurun menjadi tradisi. Sebagai bukti, banyaknya upacara adat dilakukan sebagai bentuk syukur terhadap Sang Pencipta dan para dewa-dewi. Salah satu upacara adat yang masih bertahan hingga sekarang adalah upacara syukuran atas hasil panen yang baik dan melimpah.

Di Jawa Barat, tepatnya suku Sunda syukuran atas hasil panen disebut Seren Taun. Seren Taun berasal dari bahasa sunda, seren berarti menyerahkan dan taun berarti tahun. Makna dari seren taun adalah bersyukur kepada Tuhan atas keberkahan hasil panen padi selama satu tahun dan berharap hasil panen yang lebih baik tahun depan.

Upacara seren taun terbagi menjadi dua. Perayaan yang dilaksanakan setiap tahun disebut Seren Taun Guru Bumi dan yang dilaksanakan setiap sewindu disebut Seren Taun Tutug Galur. Upacara ini ditujukan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dalam kepecayaan Sunda Kuno.

Kegiatan Seren Taun berlangsung sejak masa Kerajaan Padjajaran dan sempat terhenti pada 1970. Kemudian di tahun 2006 Desa Adat Sindang Barang Pasir Eurih, Bogor menghidupkan kembali tradisi ini sebagai upaya melestarikan budaya Sunda.

Masyarakat Sunda melaksanakan ritual tersebut pada tanggal 18 sampai tanggal 22 Rayagung yaitu bulan terakhir pada penanggalan Sunda. Diawali dengan upacara ngajayak yang berarti menjemput padi lalu diakhiri dengan upacara penumbukan padi di tanggal 22. Pemilihan angka 18 dan 22 bukan tanpa alasan. Dalam bahasa sunda 18 diucapkan “dalapan welas” yang berarti welas asih dan cinta kasih Tuhan YME terhadap seluruh makhluknya.

Sedangkan angka 22 yang merupakan gabungan dari angka 20 dan 2 memiliki arti jumlah padi yang akan ditumbuk yaitu 22 kwintal. 20 kwintal untuk dibagikan kepada masyarakat dan 2 kwintal untuk disimpan sebagai benih. Selain itu, angka 20 juga melambangkan unsur anatomi manusia. 20 unsur anatomi tersebut adalah darah, daging, bulu, kuku, rambut, kulit, urat, otak, paru, hati, limpa, mamaras atau maras, empedu, tulang, sumsum, lemak, lambung, usus, ginjal dan jantung.

Kesenian-kesenian daerah turut meramaikan upacara Seren Taun tersebut. Gelaran budaya Damar Sewu, tari Buyung, Pesta Dadung, upacara Ngamemerokeun, kesenian Tarawangsa, tari spiritual Pwah Aci, merupakan serangkaian kegiatan dalam ritual itu. Akhirnya Syukuran panen ala suku Sunda ditutup dengan kesenian Seribu Kentongan.

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here