Si “Binatang Jalang” yang Ingin Hidup Sampai Seribu Tahun

0
36

Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.

Siapa yang tidak tahu judul dari dua bait petikan sajak diatas. Bahkan bila siswa SMP yang ditanya, mereka akan menjawab lengkap dengan nama penyairnya. Chairil Anwar, ia merupakan seorang penyair angkatan 1945 dan legenda sastra yang hidup di hati masyarakat Indonesia. Karya-karyanya yang fenomenal seperti “Aku”, “Karawang-Bekasi”, dan “Diponegoro” sering dideklamasikan di acara-acara perkumpulan sastra dan seni.

Lahir di Medan pada tanggal 26 Juli 1922, Chairil merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha. Karena ayahnya merupakan orang terpandang di daerahnya, Chairil mampu merasakan pendidikan hingga MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda di Indonesiawalaupun tidak sampai lulus.

Meskipun pendidikannya tidak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman. Dengan kemampuannya mengerti tiga bahasa itulah Chairil mengisi waktunya dengan membaca berbagai macam buku dari banyak penulis ternama seperti W.H. Auden, Ernest Hemingway, J. Slauerhoff, Nietzche, Edgar du Peron, dan banyak lagi.

Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun 1943. Saat itu ia datang ke redaksi  Pandji Poestaka dengan membawa sajak-sajaknya untuk dimuat. Tapi ternyata ia mendapat keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat karena terlalu individualis dan kiasan-kiasannya terlalu mem-barat. Sejak itu ia sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan, yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi.

Sajak-sajaknya sering disalahartikan oleh masyarakat Indonesia. Sajak Aku yang sesungguhnya merupakan gambaran dari individualisme seorang Chairil Anwar sering dianggap merupakan sajak tentang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Padahal sajak itu dibuat pada tahun 1943. Juga sajak berjudul “Diponegoro” yang sering dikira sajak perjuangan. Padahal sajak itu adalah ekspresi Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro disaat jiwanya amat diresahkan oleh kematian dan absurditas.

Namun, dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar Chairil bagi dunia persajakan Indonesia khususnya, dan bahasa Indonesia pada umumnya, adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.

Vitalitas sajak Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang semakin lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Keinginannya untuk hidup sampai seribu tahun lagi pupus karena Chairil Anwar meninggal diusianya yang bahkan belum menginjak angka 27 tahun karena penyakit Tuberculosis (TBC). Hari meninggalnya pun selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Semasa hidupnya, ia telah melahirkan 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: “di karet, di karet sampai juga/deru angin”, Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here