Menghibur dengan (Tidak) Cerdas

0
12

Wajar bila orang mencari hiburan. Ketika media menanggapi kebutuhan itu, maka hal itu akan jadi gaya konsumsi masyarakat. Pilihan acara dan stasiun televisi memang beragam. Tapi belum tentu kontennya menawarkan pilihan yang cerdas. Ketika satu stasiun televisi meraih rating yang tinggi dengan konten tertentu, maka stasiun yang lain mengikutinya tanpa mengeksplor kemungkinan-kemungkinan baru. Jelas bahwa masyarakat menjadi korban dari miskinnya ide media.

Mengutip kata-kata filsuf Perancis Rene Descartes, any community that gets its laugh by pretending to be idiots will eventually flooded by actual idiots who mistakenly believe that they’re in good company.” Apa itu sesuatu yang lucu? Apa yang bisa ditertawakan? Kenapa tertawa karenanya? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab oleh acara-acara hiburan (baca:komedi) di televisi dengan memproduksi program serupa Opera Van Java, Pesbukers, Dahsyat, Yuk Keep Smile dan lain sebagainya. Masyarakat kita sangat mudah dipancing tawanya. Adegan mencelakai orang, memukul, mendorong, memasukkan sesuatu ke mulut orang lain, menimpuk wajah orang dengan sesuatu, ditertawakan.

Genre komedi demikian disebut slapstick. Ada orang yang tampak sedikit tidak wajar sehingga mengundang komentar-komentar yang mengarah pada pelecehan, variasi kondisi fisik misalnya bentuk anatomi wajah, warna kulit, tinggi badan, berpura-pura gagu atau terbelakang mental, dianggap lucu. Dalam genre komedi ini disebut insult comedy. Berlaku seperti waria, konteks seksual yang terselubung atau terang-terangan, menakut-nakuti dengan binatang, merendahkan kelompok atau suku tertentu, sering dipakai karena memancing tawa penonton. Ini disebut blue comedy.

Jenis-jenis komedi yang telah dijabarkan di atas menjamur di televisi kita. Padahal, tiga genre komedi itu adalah yang paling rendah kedudukannya. Masih banyak genre-genre komedi lain yang belum terjamah. Bukan karena tidak mampu untuk membuat, tapi lebih karena takut khalayak tidak mengerti dan tidak ditonton (baca: tidak memperoleh rating). Jika terus berkutat disitu masyarakat tidak akan cerdas dan fungsi edukasi media tak akan pernah menetas dari textbook.

Menyerah pada pasar hanya akan menyebabkan pembodohan. Komedi bisa diaggap sebagai hal sepele, hal yang dinikmati orang sekali lewat dan tidak menimbulkan akibat berkepanjangan. Benarkah seperti itu? Komedi, dan seni pertunjukan apapun sebenarnya adalah akibat dari aspek-aspek kehidupan diluarnya. 

Ketika urusan perut jadi yang utama dan semua orang mengejar pemenuhan kebutuhan di tengah deraan kapitalisme, tidak ada lagi waktu untuk mencerdaskan batin. Sekolah pun hanya untuk cari gelar tinggi supaya kelak bergaji tinggi. Maka ketika tuntutan perut sudah sebegitu tinggi, ketika menoleh ke media tak ada lagi kesadaran untuk meningkatkan kualitas hidup dengan tayangan yang berbobot. Padahal tak sulit untuk mengerti tayangan yang cerdas. Kata seorang Pandji Pragiwaksana, mulailah dengan menangkap apa yang dimaksud, bukan apa yang diucap.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here