Dangdut Simalakama

0
9

“Kau brengsek!”

Ngapo pula aku yang brengsek?”

“Ya jelas! Pake tanya.”

“Ya apanya yang brengsek?”

“Kau pikir menyeretku di depan semua temanku itu idak malu-maluin aku?”

“Malu-maluin bagaimana? Justru mereka yang harusnya malu!”

“Malu kenapa? Mereka punya kemampuan. Cari uang dari situ.”

“Yang begitu saja kau bilang punya kemampuan.”

“Nah itu. Begitu itu kau brengsek!”

“Darimana kau lihat kemampuan? Mereka punya kemampuan apa? Main gendang? Main suling? Atau bawa-bawa salon sebesak jendelo? Belum lagi penyanyinya! Suaronyo tu cak bunyi cerek air mendidih.”

“Kau meremehkan mereka. Kau mandang aku rendah, kalu cak itu. Kau malu karena aku berteman sama pemain dangdut keliling, pedahal kau dulu kuliah di kota?”

“Mendengar lagu dangdut diputar di rumah kita saja aku malu, apalagi melihat kau kumpul-kumpul sama penyanyi dangdut itu! Norak!”

Selesai Ramdani berkata demikian lampu merah di perempatan menyala. Kendaraan berhenti. Menambah panas dengan derum-derum tertahan. Pipit lalu berbalik dan meninggalkan Ramdani sendirian. Sepasang pengantin baru itu memilih jalan pulangnya masing-masing malam ini.

***

Empat tahun yang lalu, ketika Pipit mau naik ke kelas satu SMA, ia diajak sepupunya menginap ke Palembang. Ketika itulah pertama kali Pipit menonton secara langsung konser dangdut. Biasanya ia hanya mendengarkan lagu-lagu dangdut dari radio dua band di toko, atau kadang-kadang menitipkan uang yang ditabungnya pada uwaknya yang tinggal di kota untuk dibelikan kaset-kaset Machica atau Evie Tamala. Di konser itu, teman-temannya bergoyang. Pipit juga. Sambil bergoyang Pipit memperhatikan cara si biduan naik ke panggung, menyita mata semua orang, menyapa penonton, lalu mulai melantun dengan cengkok yang dramatis, dan bergoyang bak awan lembut yang bergerak ditiup angin sepoi pada pukul empat sore.

Hampir tiap malam semenjak itu sampai ia lulus SMA, jika tidak kecapaian amat setelah jaga toko, sebelum tidur ia akan membayangkan dirinya sendiri yang naik ke panggung itu, melangkah di bawah lampu warna-warni yang akan berkeredap-kedip sesuai irama lagu, memantulkan mote-mote di gaunnya yang berwarna merah cabe dan membuatnya makin merasa jadi ratu panggung.

Ketika mendekati kelulusan SMA, Pipit pun ditanya oleh gurunya, apa pilihannya setelah lulus. Pipit ingin sekali bilang kalau ia ingin jadi biduan, yang menyanyi dari panggung ke panggung bersama orkes yang dikenal di seluruh kota. Tapi ia malu. Ia sudah tahu orang-orang akan mencibir. Jadi biduan hanya akan memancing gunjingan dan mengecewakan orangtuanya karena siapa lagi yang akan menjaga toko ayahnya, dua kakaknya sudah menikah dan ikut suaminya ke Palembang. Maka Pipit melontarkan jawaban yang sudah disiapkannya pada si guru BP, “Saya mau bantu ebak saya menjaga toko. Mungkin ambil kursus komputer kalau diijinkan. Supaya kalau ada kesempatan bisa cari kerja yang lain.”

Hasrat Pipit jadi biduan tetap menggebu.

***

Pagaralam, kota kecil di lereng Gunung Dempo, yang meskipun jalan menuju kesana dipagari dengan jurang-jurang dalam hingga sering membuat ngeri para pelancong, terasa sangat datar bagi Pipit. Setelah selesai ujian akhir, ia jadi lebih sering menunggui toko, sementara ebaknya berladang kopi dan emaknya bersawah. Bagi mereka dan orang-orang Pagaralam lain, berladang adalah suatu kebanggaan. Ladang kopi milik ebak Pipit memang tidak terlalu besar dibanding ladang orang-orang lain yang panennya setahun kadang cukup untuk beli mobil secara tunai, tapi harus tetap digarap karena semenjak awal abad ini telah ditetapkan oleh kakeknya ebak Pipit sebagai ladang kopi keluarga mereka. Sedangkan sawah yang digarap emak mencukupi kebutuhan beras mereka selama setahun dan sisanya bisa dijual ke tengkulak yang akan membawanya ke Pasar Enambelas di Palembang.

Pada suatu sore di bulan Mei yang panas, ketika Pipit baru saja menutup papan terakhir pintu tokonya, dari kejauhan terdengar dentum-dentum yang langsung menggerakkan seluruh syaraf di tubuhnya. Suara itu, menerangi ruang di otaknya yang menyimpan memori peristiwa tiga tahun lalu di Palembang. Pipit ingat itu, ketika musik dangdut itu benar dimainkan di dekatnya, bukan hanya menguar dari speaker radionya. Gendang yang menghentak hingga hasrat joget terdesak ke tenggorokan, seruling yang merayu mata merem-melek menikmati liukannya, dan bass yang setia memanggil-manggil. Dan getarannya menjalar di seluruh pori-pori tubuh Pipit. Tapi di kota kecil yang penduduknya bolak-balik sawah ladang setiap hari, bagaimana ada musik hidup seperti itu disini?

”Bapak-bapak, ibu-ibu, ayuk-kakak, adek-adek, Orkes Melayu Pagaralam Merayu hadir di kampung ini, sebagai pelipur lara dan penghibur hati yang gundah. Sekarang, sebagai persembahan perkenalan kami pada warga dusun sekalian, sambutlah biduan kami, yang paling handal suaranya dalam menyanyi, lagu dangdut irama melayu. Perkenankanlah kami menghadirkan ke hadapan Bapak, Ibu, Ayuk, Kakak, Adek-adek sekalian, Lidiah!”

Bergema di udara, suara sang emsi yang gondrong, berkacamata hitam, dan bercelana lepis model baggy, lewat salon-salon sebesar jendela dan tumpang tindih dengan suara ben orkes.

Kijang pikap bercat kuning dengan lukisan pelangi di sisi-sisinya, berjalan lambat-lambat diikuti anak-anak kecil yang berteriak-teriak dan orang-orang muncul dari dalam rumah atau tokonya, berkerumun di tepi jalanan memperhatikan sambil menunjuk-nunjuk, sebagian penasaran, sebagian langsung tancap gas mengekor di belakang pikap.

Intro masih saja melantun, memancing lebih banyak orang lagi untuk berkerumun sementara di bak pikap yang jadi panggungnya Lidiah mulai meliuk-liuk bergoyang. Barulah ketika kijang itu berhenti, tepat di perempatan biduan Lidiah mulai menyanyi. Rambutnya berhiaskan ronce-ronce kuning seperti kue Masubah. Tapi suaranya, dengan cengkok setajam Kelok Sembilan dan segurih kuah Burgo, sampai ke telinga Pipit yang berdiri mematung di depan tokonya. Orang-orang yang mengerumun mulai berjoget. Para gadis malu-malu kucing diajak para bujang berjoget.

Rombongan dangdut keliling itu menyulut  hasrat Pipit untuk jadi biduan. Sekarang cita-citanya terlihat begitu dekat, ia yakin bisa memulai jadi biduan di kampungnya, ia akan belajar dari Lidiah si biduan yang gayanya lebih canggih dari Camelia Malik kalau naik panggung.

Pipit baru saja memutuskan mau ikut menghambur di kerumunan penjoget. Lagu telah sampai di bait kedua saat suara penyanyinya melengking tinggi. Tiba-tiba Ramdani datang. Pipit tambah girang lagi. Ditariknya tangan Ramdani hendak mengajaknya berjoget. Tapi Ramdani menahannya.

“Aku baru bertemu umak kau, katonyo aku disuruh jemput kau di toko. Payolah, kita pulang sekarang.”

Nyingok orkes dulu!”

Kagek aku pulok keno marah umak kau. Pulang dulu, ado oleh-oleh!”

“Tapi kagek orkesnyo keburu pergi!”

“Pit! Bebenerlah! Umak kau la nunggu!”

Ai nak ngapoi pulok sih?”

Setengah hati Pipit mengikuti Ramdani pulang. Sampai di rumahnya, sudah duduk umak dan ebaknya. Pipit baru mau duduk di hadapan mereka.

“Bikinkan dulu Ramdani kopi. Baru datang dia tadi siang dari Palembang.”

“Ai, dak usahlah repot-repot Bik Lan, aku nak jemput Pipit bae. Aku pulang dulu, kagek besok kesini lagi.”

“Tapi nian, besok kesini lagi, kagek Bibik suruh Pipit idak usah jaga toko, biar ngerewangi kau.”

Ramdani pergi. Pipit dengan polosnya hendak pamit lagi, namun umaknya menahan.

“Mak, aku nak nyingok orkes, mumpung masih terang. Boleh kan Mak, Bak?

Dimano pulo ado orkes? Sini dulu Pit, Umak kau nak ngomong. Kalu tadi nak nyingok orkes ngapo idak ajak Ramdani sekalian?”

“Aku la ngajak, Bak. Orkesnya tadi lewat depan toko. Baru caknyo tu. Dionyo idak galak, katonyo la ditunggu. Sampe sini dio balek. Bingung laju aku.”

“Memang Umak yang suruh dia jemput kau. Ramdani tu baik, perhatian, senang pula dia sama kau.”

“Sekarang la tamat kuliahnyo di kota. Sarjana sekarang dia. Ebak juga senang kalau ada sarjana yang mau sama anak gadis Ebak. Nasib baik ini Pit.”

Sampai di situ, Pipit mulai tersadar. Ia diam saja sementara di benaknya terbayang lagi cita-citanya jadi biduan. Degup jantungnya seirama hentakan lagu “Simalakama” milik penyanyi dangdut asal Ambon, Yopie Latul. Ia membayangkan naik panggung, dan bernyanyi… 

Ayah ibuku punya kemauan

Ku dijodohkan tanpa perundingan

Aku bingung memikirkan…

Dituruti-i-i ku mati emak

Tak dituruti-i-i ku mata bapak…

Bagaikan buah simalakama

begitulah nasib diriku

yang kini sedang menimpa, menimpa padaku…

***

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here