Kejutan dari White Shoes & The Couples Company

0
29
Foto: Laksmana Akbar Biwastu

Minggu lalu (16/6) di Momento Cafe, Yogyakarta terlihat ramai dipadati oleh muda-mudi Yogya. Ternyata mereka sudah datang sedari pukul empat sore di acara kejutan oleh White Shoes and The Couples Company (WSATCC) yang secara mendadak datang ke Yogya setelah sebelumnya mengisi acara di Semarang. Tiket yang ludes terjual membuktikan bahwa mereka sudah dinantikan oleh sahabat-sahabat mereka disini. Acara yang terselenggara atas kerjasama KANALTIGAPULUH, Aldint dan AreaXYZ webzine plus inisiatif dari WSATCC sendiri juga menghadirkan Summer in Vienna dan Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC).

Kedatangan saya yang terlambat sekitar 20 menit karena mencari jalan ke venue. Keterlambatan itu membuat saya hanya dapat mendengarkan empat lagu dari salah satu band indie pop Yogya, Summer in Vienna, sebagai performer pertama. Mereka membawakan lagu baru mereka,“Falling Leaves” yang sekarang sudah bisa didengarkan di www.bandcamp.com/summerinvienna.

Tak lama kemudian giliran AATPSC yang tampil. Ketika mereka mulai bermain, mereka mencoba ikut mengajak penonton di venue yang terlihat pasif duduk manis. Entah mungkin karena malu atau mereka menyimpan tenaga mereka. Sayangnya sore itu, sentuhan suara fagot di lagu “Lies in A Cup of Cappucino” tidak terdengar karena sang player memang tidak terlihat membawanya. Saat hujan mulai turun danperlahan menderas, venue yang semi-outdoor ini membuat Datu sang vokalis mulai terlihat kebasahan dan mempercepat pergantian lagu. Segera tanpa mau mengecewakan para Carnivalse, mereka menutup penampilannya dengan cover lagu dari Beirut yaitu “Nantes”.

Ketika hujan masih turun, para crew dari WSATCC mulai terlihat sibuk mempersiapkan sound. Karena acara yang mendadak, mereka tidak sempat melakukan cek sound sebelumnya sehingga persiapan memakan cukup banyak waktu. Untung di sela-sela persiapan, Risky frontman Risky Summerbee and The Honeythief, sebagai pembawa acara waktu itu mengisinya dengan mengajak Indra Ameng, manajer WSATCC, untuk ke depan mendampinginya. Indra Ameng pun menceritakan pengalaman band yang terbentuk dari tahun 2002 dan sudah mengeluarkan dua album plus tiga mini album, dan tentang tur yang mereka jalani di Eropa beberapa waktu yang lalu.

Secara singkat ia menceritakan partisipasi WSATCC dalam World Village Festival 2013 di Helsinki, Finlandia. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan di Eropa dengan hanya manggung di satu tempat saja. Indra Ameng kemudian mencari promotor  lokal untuk menggelar tur di beberapa kota seperti Berlin (Jerman), Copenhagen (Denmark) dan Stockholm (Swedia).Mereka juga sempat bertemu dengan Presiden RI  beserta dengan Ibu Negara di Swedia secara tidak sengaja. Kemudian setelah terbang kembali ke Indonesia dan menghadiri pentas di Semarang, sebelum akhirnya melakukan kontak dengan teman-teman di Yogya. Dan setelah seminggu menunggu kepastian, tiga hari kemudian dibuatlah kejutan ini.

Setelah semuanya siap, Risky mempersembahkan White Shoes and The Couples Company tampil dengan membawakan “Super Reuni” di set pertama. Aprilia Apsari (vokal), Ricky Virgana (Bass), Aprimela Prawidiyanti (keyboard), Saleh (gitar elektrik), Yusmario Farabi (gitar akustik), dan John Navid (drum) terlihat begitu enerjik memainkan perannya masing-masing. Kemudian set berlanjut dengan “Masa Remadja”, “Senja Menggila”, “Selangkah Kesebrang” yang merupakan lagu dari Fariz RM, “Matahari” dan “Vakansi”.

Sore itu juga mereka membawakan lagu-lagu baru dari mini album yang dirilis bulan Mei lalu, “Whites Shoes and The Couples Company: Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah” yakni beberapa lagu daerah yang mungkin saat ini generasi muda sudah mulai lupa bahkan mungkin terdengar asing bagi mereka seperti “Jangi Janger”(Bali), “Tjangkurileung” (Jawa Barat), “Te O Rendang O” (ciptaan Max Lesiangi), “Lembe-Lembe” (Ambon) dan juga “Tam-Tam Buku” (sebuah lagu klasik permainan Melayu) yang menjadi single dari mini album ini.

Walau dengan sound dan tempat yang minim, White Shoes and The Couples Company telah memberikan performa yang maksimal dan inisiatif yang baik untuk kawan-kawan di Yogya. Dengan spontanitasnya, mereka berusaha memberikan pesan bahwa lagu-lagu daerah Indonesia yang terdengar membosankan dan usang bisa terdengar lebih segar dan apik.

SHARE
Adelina MK Raynata
Astronaut Girl has been living on Earth since 1994 to spread stars in the sky.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here