Kemeriahan Earthnity Fest 2013

0
33
Foto: Adelina MK

Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Kesenian Geografi (BEKAGE) Universitas Gadjah Mada kembali menggelar Earthernity Fest di Pusat Kebudayaan Kusnadi Harjosumantri kampus UGM, 2 Mei 2013 lalu. Acara tahunan yang kelima ini mengusung tema “Earth, Pray, Love”, mencoba mengusik kita, bahwa diperlukan usaha dan rasa cinta untuk meneruskan kelangsungan kehidupan di Bumi.

Malam itu, venue belum terlihat penuh, ketika penampil internal dari Fakultas Geografi, paduan suara, Geo Voice dan beberapa band hasil seleksi membuka acara. Uniknya, dua pembawa acara yang mampu membawa penonton larut dalam gelak tawa atas lawakan mereka, kerap berganti-ganti kostum. Mulai dari pakaian lengkap a la tentara sampai gaya trendy anak muda dengan sepeda fixie.

Band-band berikutnya mulai membuat penonton terkesima, seperti Page Five yang berunsur pop-jazz, juga hentakan musik dari Archiblues dan Edelweiss. Venue terlihat penuh ketika Wikan and The Avian Project membawakan lagu “Lelakon Mahasiswa”. Lagu dalam bahasa Jawa ini menceritakan kehidupan mahasiswa di Jogja yang sinau dan makaryo (belajar dan bekerja). Padatnya pengunjung yang mencapai 1000 orang memaksa panitia untuk mencetak ulang tiket yang sold out. Ketika melihat ke sekeliling, ya, semua memadati kedua lantai ruangan itu.

Selepasnya, para penonton yang tadinya duduk manis menikmati musik langsung berdiri mencoba meraih posisi paling depan saat MC memanggil Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC).

AATPSC beranggotakan tujuh orang dengan alat musik yang beragam seperti ukulele, akordion ditambah alat musik unik, fagot (alat musik tiup yang ujungnya berupa lembar tipis rangkap, suaranya besar dan berfungsi sebagai instrumen bas -red). Mereka memberikan penonton fantasi tentang sebuah keceriaan dengan membawakan lagu-lagu yang terdapat dalam rilisan CD dan kaset pertama mereka seperti “I Love You More Than Pizza”, “Lies In A Cup of Cappucino”. Lagu-lagu yang berhasil membuat penonton larut dalam nuansa syahdu walaupun tidak semua hafal lirik yang dinyanyikan Datu, sang vokalis yang tampil manis dengan bunga mawar di rambutnya. Mereka juga membawakan lagu dari Beirut dan Mocca, “You” dengan nuansa sedikit keroncong. Pada akhirnya para penonton diberikan sentuhan kebahagiaan dari AATPSC di lagu “Wonderland”.

Malam semakin larut dan tampillah yang ditunggu semua malam itu setelah sekian lama, Efek Rumah Kaca. Para penonton bertepuk tangan sambil meneriakkan nama Cholil sang vokalis yang tampil bersama Akbar (drum), namun tanpa Adrian yang dikabarkan sakit. Namun ada yang berbeda malam itu. ERK bertambah menjadi tujuh orang. ERK malam itu bergabung menjadi Pandai Besi.

Pandai Besi yang terdiri dari seorang pemain trompet, keyboardist, gitaris dan dua perempuan penyanyi latar menyatu bersama menyanyikan kembali lagu-lagu lama ERK seperti “Debu-Debu Beterbangan”, “Jangan Bakar Buku”, “Laki-Laki Pemalu” dan “Menjadi Indonesia” dalam sentuhan berbeda dan dengan nada yang masih terdengar sedikit asing.

Tak lupa, Cholil mengingatkan kembali akan tragedi yang terjadi beberapa waktu lalu menimpa kancah musik lokal Jogja yaitu “Locstock #2” dan meninggalnya ketua panitia acara tersebut, Bobby Yoga ‘Kebo’. Ia menambahkan sebelum menyanyikan lagu berikutnya bahwa dari sini kita mendapatkan pelajaran dan dorongan untuk memajukan musik lokal dengan cara yang lebih baik. Lalu “Di Udara” menggema di ruangan itu diikuti koor penonton.

Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas. “Mau request lagu apa nih? Mumpung di Jogja..”, tanyanya. Para penonton yang benar-benar rindu meneriakkan lagu-lagu ERK yang malam itu belum dibawakan. Kemudian beberapa orang meneriakkan “Desember!”

“Desember? Pasti dibawain..” ucap Cholil sambil berganti gitar akustik sehabis membawakan “Melankolia” sebelumnya. Namun selanjutnya ternyata “Lagu Kesepian”. Benar saja, “Desember” menjadi lagu terakhir malam itu. Penonton benar-benar hanyut dan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika Cholil dkk meninggalkan panggung.

Semua rasa lelah berdiri selama kurang lebih satu setengah jam terbayar bersama ERK. Selepas acara hujan perlahan mulai turun. Rasanya para penonton malam itu secepatnya ingin melihat mereka kembali lain waktu. Semoga saja cepat kembali, mereka akan setia menanti seperti pelangi.

SHARE
Adelina MK Raynata
Astronaut Girl has been living on Earth since 1994 to spread stars in the sky.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here