Lambaian Tangan Seorang Menteri

0
27

Hari yang terik seolah membakar kota yang sedang dilanda bencana. Warga mendirikan tenda-tenda darurat yang menampung isteri-isteri dan anak-anak mereka, juga sanak famili yang senasib sepenanggungan. Rumah-rumah mereka tenggelam oleh air yang berwarna abu-abu, kental, kadang-kadang muncul gelembung dan bau tengik.

Bencana ini sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hingga akhirnya sang Raja, yang sedikit terusik pemberitaan di media massa, menitahkan seorang menterinya untuk mengunjungi daerah tersebut.

Si menteri datang menaiki mobil Mercedes-Benz C-Class warna hitam metalik dikawal oleh seorang ajudan. Setibanya di sebuah desa yang masih merupakan bagian dari kota yang sedang dilanda bencana, si Menteri disambut dengan haru biru oleh warga.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara sekalian.” Si Menteri membuka pidatonya di atas mimbar yang dirubung ratusan orang.

“Saya diutus langsung oleh Baginda Raja untuk mengetahui kondisi disini. Saya ingin terjun langsung dan ikut merasaka apa yang kalian rasakan. Mengetahui seberapa besar penderitaan yang kalian alami. Dan setelah saya melihatnya, nurani saya tergugah, Saudara-saudara. Saya berjanji akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk membantu kalian. Saya berjanji akan melakukan apa saja demi kalian. Sementara itu kalian berdoa dan bersabarlah.” demikian pidato si Menteri dalam setiap kesempatan kunjungan.

“Untunglah Baginda Raja mengutus menteri ini ya.” kata seorang.

“Iya, tapi kenapa Baginda tidak datang langsung kemari?” sahut yang lain.

“Namanya juga Raja, pasti sibuk bukan main.” sahut lainnya lagi.

“Ya, untung menteri ini paham betul penderitaan kita.”

“Kalau ada pemilu, aku pasti coblos dia.”

“Aku juga!”

“Aku juga ah.”

“Idem, aku ikut.”

Mendengar percakapan orang-orang itu, si Menteri yang kupingnya bisa mendengar sampai radius dua kilometer itu langsung mendatanginya.

“Yah, sebenarnya Baginda Raja tidak benar-benar sibuk. Apalagi ini masalah yang genting. Tabiat Raja memang sedikit pemalas.” tukas si Menteri.

“O… jadi begitu.” cerocos mereka serentak.

“Ya, begitu. Saya ini orang yang mudah tersentuh. Apalagi melihat rakyat sengsara, saya paling tidak tahan.” sambungnya.

“Tuh kan, Pak Menteri ini memang orang yang baik.” bisik seorang pada semuanya.

“Sejujurnya saya ingin melakukan tindakan secepatnya. Supaya kalian tidak lama-lama begini. Tapi…”

“Tapi kenapa, Pak?” tanya warga penasaran.

“Ya begitu. Saya ini kan hanya menteri. Setiap tindakan harus menunggu keputusan Raja. Coba kalau saya jadi Rajanya, pasti akan bisa menolong kalian secepatnya.”

“Tenang saja,Pak. Besok kalau Bapak dicalonkan jadi Raja, kami pasti memilih Bapak.”

“Benar?” tanya menteri meyakinkan.

“Pasti, Pak.” jawab warga serentak.

Setelah pembicaraan selesai, Pak Menteri pamit untuk melanjutkan perjalanan ke desa lain yang masih bagian dari kota yang sedang dilanda bencana. Nama si Menteri kian tenar. Pidatonya merajalela, janjinya kian manis, dan bencana belum juga teratasi. Orang-orang terbuai oleh kata-kata si Menteri.

Sementara itu di sebuah tenda darurat seorang bocah menangis tersedak-sedak. Sudah tiga hari ini ayahnya hilang. Menurut berita yang beredar, dia menghilang sejak mengunjungi tanggul yang dulu merupakan lokasi rumahnya.

“Pake… pulang, Pake….” tangis anak itu.

“Cup-cup-cup… udah jangan nangis. Bapakmu pasti ditemuin, Pak Menteri pasti membantu.”

Sementara itu, si Menteri sedang makan malam di sebuah restoran mewah. Dia makan begitu lahap. Semua yang dihidangkan ludes. Perutnya menggelembung kekenyangan. Seakan dia lupa pada penderitaan warga yang sedang tertimpa musibah. Seakan dia lupa akan janji manisnya.

“Pak, bagaimana tindakan kita selanjutnya?” pertanyaan ajudan itu mengagetkan menteri yang sedang leha-leha.

“Tindakan apa?”

“Itu lho mengenai warga yang kotanya tenggelam.”

“Ya saya ini mesti bagaimana. Saya kan hanya ditugaskan untuk berkunjung dan lapor saja. Selebihnya urusan nanti. Yang penting mereka suka sama saya.”

Percakapan berakhir. Menteri itu tidur pulas karena kekenyangan. Begitu pula ajudannya. Dan besok masih ada satu desa lagi yang harus dikunjungi, diberi pidato, dinasihati, digombali, dan diminta berdoa dan bersabar.

Pagi-pagi sekali Pak Menteri sudah rapi. Mengenakan jarik yang paling bagus. Dadanya terbuka tanpa busana. Kepalanya dihiasi jamangan tropong. Keris ditaruhnya di belakang. Kemudian Mercedes-Benz C-Class melesat ke tujuan terakhir.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara sekalian.” Si Menteri membuka pidatonya di atas mimbar yang dirubung ratusan orang.

Seperti pidato-pidato sebelumnya, setelah dia menyampaikan maksud dan tujuan, lalu memberi janji masin, diakhiri dengan nasihat supaya warga berdoa dan bersabar.

Pada sebuah kesempatan setelah turun dari mimbar, seorang bocah berlari ke arah Pak Mneteri sambil terisak. Dia menceritakan kejadian yang menimpa bapaknya. Ketika ditanya ciri-ciri terakhir dari bapaknya, bocah itu menjawab,”Bapak pakai baju putih, peci hitam dan celana warna coklat, Pak Menteri…”

Setelah memberi iming-iming akan segera mengirim tim khusus untuk mencari bapak dari anak tersebut akhirnya Pak Menteri pamit untuk kembali ke kerajaan. Tak lupa dia menyampaikan terima kasih atas sambutan warga yang begitu hangat.

Mercedes-Benz C-Class berjalan pelan menyusuri titian tanggul raksasa yang terbentang dari ujung ke ujung. Sepanjang jalan orang-orang mengantar kepergian Menteri dengan melambai-lambaikan tangan sambil meneriakkan namanya. Barisan manusia-manusia itu kian lama kian sedikit. Sedikit dan akhirnya menghilang.

Di dalam mobilnya yang serba mewah itu si Menteri bernafas lega. Dia memandang ke arah luar jendela. Menertawakan kebodohan warga yang mau saja dijadikan kambing congek.

“Jo…Jo.. coba kamu lihat!” teriak si Menteri antusias.

“Ada apa pak?”

“Lihat itu, sebelah kanan.”

Terlihat seorang laki-laki memakai baju putih, berpeci hitam dan mengenakan celana coklat. Dia berada di tengah-tengah tanggul yang berisi air berwarna abu-abu, kental, kadang-kadang muncul gelembung dan bau tengik. Hanya sebagian tangan dari orang itu yang terlihat. Dia berusaha menggerak-gerakkan tangannya. Sesekali kepalanya muncul lalu masuk lagi ke dalam genangan.

Sambil membuka jendela, Pak Menteri melambai pada orang itu sambil berteriak mengucap terima kasih.

“Benar kan,Jo. Orang-orang disini baik dan ramah. Tuh lihat. Dibela-belain sampai begitu hanya untuk melepas kepergianku.”

Sambil melambaikan tangannya kembali, si Menteri berteriak,” Terima kasih. Kapan-kapan saya tamasya lagi kemari. Saya sangat tersanjung. Sampai jumpa lagi kawan. Sampai jumpa dilain waktu.”

Kaca jendelapun ditutup rapat-rapat. Mercedes-Benz C-Class melesat cepat. Secepat kilat yang tak mampu ditangkap oleh penegak hukum.

SHARE
Ridwan Sobar
Pecandu imajinasi yang sedang berjuang keras menyelesaikan perkara. Sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang belum selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here