Gala Jamban yang Semakin Terlupa

0
34
Created by DPE, Copyright IRIS 2009

Gala Jamban merupakan permainan asli dari Betawi yang sudah ada dari sekitar zaman pendudukan Jepang, namun sempat menghilang sekitar tahun 1950. Pada dasarnya permainan Gala Jamban ini tidak jauh berbeda dengan permainan Galah Asin.

Permainan ini bisa dimainkan oleh  anak laki-laki ataupun perempuan. Jumlah pemain dalam permainan ini adalah lima orang, terdiri dari satu orang penjaga dan empat orang lawan. Gala Jamban dimainkan di ruang terbuka atau tanah lapang. Pertama-tama kita membuat denah arena permainan dengan kapur tulis, batu atau ranting pada bidang lapangan, berupa empat bagian persegi dengan lingkaran di tengahnya. Kemudian menentukan siapa yang akan menjadi penjaga dengan cara gambreng. Apabila ada satu tangan yang telungkup atau terlentang maka ia dinyatakan bebas jaga, begitu seterusnya hingga tersisa dua orang pemain. Lalu apabila hanya tinggal tersisa dua orang, maka mereka suit hingga ada satu pihak yang kalah. Pihak yang kalah kemudian harus berjaga di dalam lingkaran. Empat orang pemain yang dinyatakan bebas jaga harus berlari mengitari empat ruang persegi itu tanpa tersentuh oleh penjaga ditengah. Apabila salah satu pemain tersentuh, maka ia dinyatakan kalah dan harus berganti jaga. Begitu seterusnya.

Tujuan dari permainan ini adalah melatih kekompakan, kecepatan, ketelitian, kreatifitas dan ketangkasan serta sportifitas. Dalam permainan ini secara sadar atau tidak, anak-anak dilatih untuk dapat menyusun strategi dan melihat peluang yang ada di depannya. Kalah menang dalam sebuah permainan adalah hal yang biasa dan disini anak-anak diajarkan untuk dapat menerima kekalahan dengan lapang dada tanpa perlu marah apalagi kecewa. Anak-anak juga dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan memperbanyak teman. Kelebihan permainan-permainan tradisional yang dimainkan secara kolektif adalah dapat mengasah kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik. Berbeda dengan gadget games, yang dimainkan secara individual dan nonfisik.

Tetapi sayangnya permainan ini mulai tergusur zaman. Tidak banyak yang tahu tentang permainan ini. Dan sekalipun ada yang tahu, sudah tidak banyak anak yang mau memainkannya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, ditambah lagi sulitnya menemukan tanah lapang untuk bermain membuat permainan-permainan tradisional mulai ditinggalkan. “Paling kita seringnya main bola, tapi itu juga suka diusir soalnya takut kena kaca,” ungkap Aufa seorang siswa kelas 5 SD. Sedangkan menurut salah satu siswi SD lainnya yang bernama Fitri, dia lebih suka menghabiskan waktu dirumah. “Pulang sekolah seringnya dirumah, ngerjain PR sama maingame,” ungkapnya.

Presiden Children International Summer Village (CISV) Indonesia, Dharmesti Shindunatha mengatakan berbagai permainan tradisional yang ada di berbagai daerah patut untuk tetap kita jaga. Menurutnya, permainan tradisional memiliki nilai-nilai pendidikan dan kearifan lokal yang berakar. Menurut Dharmesti, kalau sebuah permainan daerah betul-betul dikuasai sesuai dengan jenis dan batas usia, akan berdampak positif terhadap pertumbuhan anak. Selain itu, permainannya  juga tidak kalah seru dibanding berbagai mainan yang disuguhkan oleh gadget.

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here