Teater Kinasih itu Bayi yang Baru Lahir tapi Sudah Bergigi

0
44
Foto oleh: Alika Khanza

Teater Kinasih, satu-satunya UKM teater di kampus tercinta menginjak usia yang ke-19 bulan ini. Pada kemunculan pertama rubrik Halaman Belakang, BuKin menghadirkan salah satu pendiri UKM ini, Maria Khomaris, pada sebuah bincang-bincang singkat.

Bagaimana keadaan di lingkungan kampus saat Kinasih akan berdiri?

Awal ketika angkatan saya baru masuk IISIP tahun 1992, keadaan kampus sedang di-nonaktifkan. BEM dihapuskan karena sedang terjadi bentrok antara BEM, senat dan yayasan Kampus Tercinta. Waktu itu saya dan empat teman lain berpikir, waktu SMA ada organisasinya, kenapa kok di dunia perkuliahan kita cuma kuliah, duduk, pulang. Maka ada semacam gejolak emosi beberapa mahasiswa, termasuk saya, untuk, yuk kita kumpul, bikin kegiatan.

Lalu itu memicu mendirikan Kinasih?

Awalnya, tahun 1993. Waktu itu kita kumpul di barak, ada lima orang. Banyak bidang, nggak cuma teater. Ada yang suka fotografi, tari, musik, ada teater. Dari akar yang berbeda itu kita kumpulkan peminatnya, ternyata banyak. Enam puluh orang di pertemuan pertama. Selanjutnya UKM itu kita beri nama Dapur Seni.

Lalu kemana cabang yang lain? Kenapa tinggal teater?

Pada akhirnya terbentur fasilitas. Fotografi harus ada kamera. Mau menari, harus ada tape. Main musik harus ada alat. Kalau teater, nggak ada modalnya, cuma diri sendiri. Tubuh, imaji, rasa. Sebulan nggak ada kegiatan, yang jalan cuma teater, karena saya yang melatih, saya juga yang menyutradarai. Makanya akhirnya muncul Teater Kinasih.

Pertama kali mementaskan apa?

Kita pernah latihan di kampus tanggal 28 Oktober 1993. Pagi-pagi kita kumpul di lapangan basket, empat murni, lalu olah tubuh tapi dengan pakai kostum. Orang-orang menonton. Pas jam sepuluh kita mulai baca puisi, dan improvisasi. Kalau sekarang orang bilang happening art, tapi waktu itu kita belum tahu itu. Selama durasi empat puluh menit, ternyata orang-orang yang menonton itu terpaku. Setelah selesai lalu mereka tepuk tangan.

Apakah Kinasih dulu pernah melakukan semacam ‘terobosan’?

Kita ikut festival di Bulungan, membawakan lakon Kertajaya dengan awak cuma tigabelas orang. Naskahnya berat. Pemainnya juga harusnya ada 40 orang. Jadi ada yang double cast, malah triple cast. Tapi waktu itu kita punya satu tujuan. Kita harus buktikan, kita memang pantas untuk diperhitungkan. Karena waktu itu kita sempat dilecehkan, ketika tidak ada kegiatan kita muncul sendiri dan menghidupkan kampus. Waktu itu, beda dengan sekarang, pihak kampus juga mendukung. Hasilnya dari festival itu kita meraih teater terbaik se-Jakarta Selatan. Lalu media-media kampus lain panggil kita untuk wawancara, salah satunya MS3 dari Trisakti. Waktu kita mau berangkat wawancara, kita disediakan mobil dari kampus. Lalu muncul sebutan waktu itu, Teater Kinasih itu bayi yang baru lahir tapi sudah bergigi.

Kalau sekarang kan lagi trend teater sebagai hiburan, dengan harga tiket sampai sejuta dan konsep pertunjukan mewah tapi kontennya benar-benar ringan. Kalau di jaman 90-an seperti apa?

Dulu yang bikin pementasan besar itu cuma kelasnya Teater Mandiri dan Teater Koma. Tapi menonton mereka ibarat makan permen pedes, habis makan masih berasa. Karena selain menjual, mereka juga memberikan ilmu dari apa yang mereka tampilkan. Kalau nonton teater sekarang yang hiburan itu kayak makan permen karet, habis manisnya lalu dilepeh.

Teater Kinasih, sembilan belas tahun berdiri. Pengurus dan anggota silih berganti. Melewati dinamika jamannya. Salah satu prinsip yang diajarkan oleh para pendahulu di komunitas ini adalah panggung bukan hanya tempat berkarya, tapi juga tempat belajar, dan kehidupan adalah panggung terbesar bagi umat manusia. Selamat ulang tahun, Teater Kinasih. Tetaplah hidup, tetaplah berkarya.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here