Belanda pun Punya Batik

0
5

Batik Indonesia telah terdaftar sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi di Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO) sejak sejak 2 Oktober 2009. Lantas mengapa Belanda punya Batik? Apakah ini termasuk pencurian kebudayaan, seperti yang konon sering dilakukan oleh negara tetangga?

Mungkin bila Belanda tidak pernah menjajah Indonesia, istilah ‘Batik Belanda’ takkan pernah ada. Begitu pula dengan Stasiun Sunda, Menara Bosscha, dan jalan raya Anyer-Panarukan.

Tercatat bahwa teknik pewarnaan kain sudah digunakan di Mesir, sejak abad ke-4 sebelum masehi. Namun kata ‘batik’ berasal dari bahasa Jawa. UNESCO mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia yang mulai dari lahir dan masih bayi, digendong dengan kain batik bercorak simbol pembawa keberuntungan, dan sampai yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik Belanda bukanlah batik asal Belanda, melainkan Batik Indonesia yang motif dan polanya dipengaruhi oleh kebudayaan Belanda. Pada masa penjajahan Belanda, warga keturunan Belanda yang bermukim banyak yang jatuh cinta kepada batik. Namun mereka menginginkan batik dengan warna-dan motif yang dekat dengan kebudayaan mereka. Maka terciptalah motif-motif bunga dan warna yang baru pada kain batik.

Istilah ‘Batik Belanda’ merupakan rujukan untuk karya-karya batik yang dibuat oleh pengusaha Indonesia-Eropa  dan dapat dikenali melalui pola dan motif-motif Eropanya. Perusahaan-perusahaan batik tersebut memproduksi dengan tujuan komersil. Berbeda dengan para perempuan Jawa yang membuat batik untuk dipakai sendiri.

Pasa zaman Belanda, perempuan adalah konsumen batik pada waktu itu. Kepemilikan sarung batik merupakan bukti status sosial dan bentuk investasi pada masa itu. Terdapat pula kebiasaan memperlihatkan koleksi mereka kepada para tamu yang datang dan memamerkan nama perusahaan yang memproduksi batik tersebut serta tanda tangan yang tertera pada masing-masing sarung batik tersebut.

Perempuan Indo-Eropa yang paling terkenal sebagai pengusaha batik adalah VonFranquemont dan Van Zuylen dengan karya-karyanya dalam bentuk batik ‘Prenkemon’ dan ‘Pansellen’. Mereka berdua menandai awal dan akhir periode Batik Belanda.

Batik Belanda inilah, yang dipamerkan dalam “From Time to Time”  di Pusat Kebudayaan Belanda, yang lebih dikenal dengan Erasmus Huis, pada 8 Maret – 4 April. Pameran Batik Belanda ini bekerjasama dengan Jakarta Fashion Week, Museum Tekstil Jakarta, Galeri Batik dan Ibu Asmoro Damais. Pameran ini menghadirkan kembali foto lama dan dokumen tentang para pembuat Batik Belanda, Batik Belanda asli dalam cetak digital dan karya para perancang busana yang ditampilkan pada Jakarta Fashion Week.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here