Tekanan Psikologi Akibat Banjir Informasi

0
29

Kemajuan teknologi sering kali tidak dibarengi dengan kemajuan dalam menyikapi derasnya arus informasi.Setiap hari, berbagai macam informasi yang mampir lewat televisi, internet, koran sampai jejaring sosial membuat seseorang alpa memilah informasi. Dari yang hanya sekedar ingin tahu, hingga rasa tak ingin ketinggalan serta selalu harus up to date dapat menjadi pemicunya.

Seliweran informasi yang dikonsumsi berlebihan menumpuk bagai spam dalam otak. Bahkan, dapat meningkatkan tingkat stres pada seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hitachi Data System terhadap karyawan perusahaan di Australia dan Selandia Baru menyatakan bahwa sekitar 40% responden mengatakan, mereka menjadi sakit karena “kebanjiran” informasi.

Cukup banyak informasi yang sebenarnya belum tentu bisa dibuktikan kebenarannya. Maka tidak heran apabila saat ini banyak yang sudah mulai menggagaskan untuk diet informasi sebagai bentuk pencegahan terhadap banjirnya informasi.

Dampak negatif dari kebanjiran informasi, seseorang menjadi mudah lupa dan konsentrasi menurun, misalnya sulit mengenali wajah orang, mengulang-ngulang pertanyaan yang sama dan sulit untuk bekerja multitasking. Sindrom ini dikategorikan sebagai busy life syndrome, dari sebuah penelitian di Skotlandia. Peneliti Dr. Alan Wade menegaskan, mudah lupa adalah hal biasa ketika seseorang menjadi tua, tapi hal ini sekarang menyerang kaum muda sebagai akibat dari information overload.

Dari sudut pandang jurnalistik, Kovach dan Rosenstiel—wartawan sekaligus penulis buku Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload mengatakan bahwa internet telah banyak mengubah dunia jurnalisme. Saat ini semua orang bisa menjadi penerbit lewat blog mereka, dapat pula melakukan aktivitas penyiaran melalui YouTube atau menjadi komentator menggunakan akun Twitter dan Facebook. Namunkemudahan ini dapat menyebabkan, banyak informasi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya beredar di internet. Tidak ada ruang redaksi yang berperan sebagai gate keeper.

Menghadapi situasi seperti ini, pengguna media yang harus dapat memilah dan memilih informasi seperti apa yang kita butuhkan demi menunjang aktivitas kita. Berusaha fokus dan mengerti agenda setting mediapada satu persoalan bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi banjir informasi.

SHARE
Nanda Fitri Supriani
Lulusan jurnalistik yang lulus dengan indeks prestasi di atas tiga. Mencoba bahagia dengan cara tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here