Dalam Jiwa yang Sehat Terdapat Tubuh yang Sekarat

0
6

“Dalam tubuh yang kuat, terdapat pula jiwa yang sehat”. Namun pada kenyataanya, tubuh yang kuat tak melulu terdapat jiwa yang sehat. Jiwa yang sehat lahir dari kondisi lingkungan yang kondusif, yang dapat menerima manusia sebagai manusia.

Gangguan kesehatan jiwa tidak harus selalu merujuk pada orang gila di jalan-jalan yang selalu tertawa tanpa adanya sebab yang jelas. Lebih luas lagi, gangguan jiwa merupakan suatu kondisi ketika keberlangsungan fungsi mental menjadi tidak normal baik kapasitasnya maupun keakuratannya, yang disebabkan salah satunya oleh faktor kebudayaan dan hubungan antar manusia.

Di kota besar, khususnya di Jakarta, penderita gangguan jiwa semakin meningkat dari hari ke hari. Kondisi masyarakat yang selalu membeda-bedakan status sosial merupakan salah satu penyebabnya. Gempuran budaya asing yang masuk ke industri dalam negeri menjadikan masyarakat menderita culture shock. Culture shock menyababkan konsumerisme meningkat dan melahirkan perbedaan status sosial di masyarakat. Dari perbedaan status sosial tersebut, lahirlah dari paham eksklusivisme yang merambah pergaulan anak muda.

Paham eksklusivisme cenderung memisahkan diri dari masyarakat umum yang berpikiran dan berselera biasa, mainstream. Masyarakat, yang merupakan korban dari pasar atau media mainstream, yang disebut alay, umumnya tidak bisa menikmati produk-produk asing yang sedang menjadi tren karena faktor ekonomi. Hal ini menyebabkan para penganut paham eksklusivisme merasa eksklusif dengan tidak menjadi alay yang “seragam” dan yang lebih parahnya, mereka tidak ingin para alay memasuki ruang lingkup mereka.

Para penganut paham jenis ini menolak sesuatu yang “seragam” dengan menyeragamkan diri dalam komunitas yang mereka pikir lebih kecil, elit dan eksklusif. Ironisnya, mereka pun menjadi pangsa pasar kapitalis yang lebih kecil dengan membeli barang-barang berlabel limited edition, yang harganya tak masuk akal.

Di sisi lain, masyarakat –khususnya anak muda- yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya atau sebaliknya, akan kehilangan rasa percaya dirinya. Hal tersebut tidak akan pernah terjadi bila anak itu mempunyai mental yang kuat. Namun, dalam kondisi serba mudah seperti saat ini, anak muda akan lebih aktif mencari orang-orang dapat menerima mereka apa adanya lewat “dunia maya”, daripada memaksakan beradaptasi dengan realita yang tidak memanusiakan dirinya. Dengan demikian, mental-mental yang lahir adalah mental pengecut yang tidak dapat menerima realita.

Mereka tidak dapat lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang maya. “Dunia maya” telah menjadi candu bagi anak muda dan mereka menerimanya sebagai realita yang mereka hadapi setiap hari. Hal ini yang menyebabkan mental anak muda menjadi lemah dan tidak dapat menerima realita yang sebenarnya. Bila melihat fenomena yang terjadi saat ini, bukan sesuatu yang mengejutkan bila penderita GANGGUAN kesehatan jiwa semakin meningkat.

Kesehatan jiwa tidak hanya lahir dari kondisi tubuh yang kuat, tetapi juga dari kondisi lingkungan yang “sehat”. Sementara, hubungan antar-manusia semakin tak kondusif dengan selalu mecari perbEdaan untuk dipermasalahkan, para penderita gangguan jiwa semakin merajalela. Namun, kondisi lingkungan yang “sehat” saat ini bagaikan oase di padang gersang.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here