The Act of Killing: Mereka dengan Bangga Menyebut Dirinya Pahlawan

0
3

Frasa “tahun 1965”, memancing imajinasi mengenai sejarah abu-abu bangsa ini. Situasi mencekam saat itu karena ancaman kudeta dari Partai Komunis Indonesia (PKI) lalu-lalang di masyarakat. Pada puncaknya, enam perwira militer dan beberapa orang lainnya ditemukan tewas, dan PKI disebut-sebut sebagai biang keladinya.

Atas kuasa yang diberikan kepada Angkatan Darat, yang kebenarannya pun belum terungkap, sedikitnya, ada 500.000 orang yang terbunuh karena dianggap sebagai pendukung PKI. Peristiwa itu merupakan pembantaian massal keempat terbesar pada abad 20. Bahkan Sarwo Edhie, Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat yang berperan menumpas PKI kala itu mengklaim bahwa pasukannya telah menghabisi maksimal 3 juta orang.

Lalu setelah rezim Orde Baru dimulai, pemerintah membuat film fenomenal Pengkhianatan G30S/PKI, yang berhasil menanamkan pemikiran bahwa PKI adalah pelaku kejahatan yang memang seharusnya dimusnahkan. Ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh pemerintah Orde Baru tersebut membuat para keturunan mereka yang dianggap PKI menuai diskriminasi di masyarakat.

Di film tersebut, ditunjukkan adegan betapa kejamnya orang-orang PKI membantai petinggi-petinggi militer saat itu, yang kenyataannya belum bisa dibuktikan. Framing yang dibuat sedemikian rupa untuk menanamkan pemahaman PKI sebagai pelaku pembunuhan yang biadab bisa dikatakan berhasil berkat tangan dingin sutradara Arifin C Noor, dan peran rezim yang berkuasa saat itu.

Sampai muncullah film dokumenter Jagal/The Act of Killing yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer yang mematahkan pandangan tentang kekejaman film Pengkhianatan G30S/PKI yang kebenarannya belum terbukti. Film Jagal menceritakan tentang seorang preman yang mendapat “izin” dari militer saat itu untuk menghabisi  orang-orang yang dianggap sebagai PKI lalu mengadilinya tanpa proses pengadilan resmi.

Film besutan Joshua Oppenheimer mendokumentasikan keseharian Anwar Congo, salah satu eksekutor paraPKI. Dalam Jagal, Anwar Congo diminta merekonstruksi kejadian pembantaian. Mereka, Anwar Congo dan teman-temannya, dengan senang hati melakukan reka ulang pembunuhan tersebut. Ada adegan, Anwar meceritakan ulang pembunuhan tersebut dengan santai, tertawa bangga dan merasa dirinya adalah pahlawan karena telah menumpas PKI.

Di sisi lain, ada pula adegan yang bertolak belakang dengan perbuatan masa mudanya tersebut, seorang Anwar yang dikenal sebagai preman bioskop menasihati dengan lembut cucunya yang menyakiti bebek-bebek peliharaannya. Anwar Congo menyuruh cucunya agar meminta maaf kepada bebek tersebut.

Tak hanya itu, ada pula sebuah adegan di mana Anwar memerankan sebagai orang PKI yang diitrogasi oleh para preman tersebut dan ia seakan merasakan bagaimana ketakutan-ketakutan itu muncul. Rasa iba muncul dalam diri Anwar. Dia seakan bercermin kepada tindakannya saat itu, dan pada akhirnya tak ada kata-kata yang bisa keluar.

Di situ terjadi pula hal-hal yang kompleks. Menurut Hilman Farid, Sejarawan dan Dosen Cultural Studies UI, Kandidat Doktor dari National University of Singapore, kebenaran itu kompleks, tak ada Anwar yang benar-benar baik dan tak ada Anwar yang benar-benar buruk. Kehidupan tak sekedar hitam putih.

Dan, yang pasti orang-orang seperti Anwar Congo bukan alien yang datang dari tempat lain. Dia ada di sekitar kita. Mungkin itu kakek, orang tua, dan mungkin ada dalam diri kita sendiri.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here