Lalu-lalang Masyarakat Baduy di Jakarta

0
50

Suku Baduy adalah suku yang terkenal dengan masyarakatnya yang membatasi diri dari peradaban di luar wilayahnya. Ada semacam sekat yang memisahkan kehidupan di desa Kanekes, tempat suku Baduy bermukim, dengan kehidupan luar yang gemerlap. Masyarakat Baduy hidup sederhana dengan mempertahankan tradisinya.

Kesederhanaan masyarakat Baduy tercermin dari perilaku dan cara mereka berinteraksi dengan dunia luar. “Di sini paling satu orang cuma punya dua pasang pakaian, beda dengan kalian warga Jakarta yang merasa kalau satu lemari pakaian tidak pernah cukup.” sebuah kutipan dari seorang warga Baduy. Kesederhanaan itu pula yang membuat masyarakat Baduy mengolah maksimal semua alat yang mereka punya ditubuhnya.

Tak jarang, terlihat beberapa orang dengan pakaian serba putih atau hitam, dari celana hingga ikat kepala, bejalan kaki di jalan-jalan ibu kota. Mereka adalah masyarakat Baduy, yang konon menolak kebudayaan luar masuk ke dalam wilayahnya, sedang berdagang ke kota.

Terdengar kontradiktif memang, saat mereka menolak kebudayaan luar namun mereka melakukan perjalanan untuk berdagang keluar wilayahnya. Tapi, ada satu hal yang masih terlihat eksotis, masyarakat Baduy berdagang ke kota-kota besar dengan berjalan kaki, ikat kepala bak Wali Songo dan tidak menggunakan alas kaki. Sebuah pemandangan tersendiri di tengah kendaraan mewah yang ada di Jakarta.

Apakah bisa dikatakan sesuatu yang eksotis? Kehadiran para pejalan Baduy ini seakan seperti “yang lain” dari antah berantah. Mungkin mereka juga memandang orang kota dengan label eksotis, atau futuristik. Perasaan asing terhadap masyarakat Baduy membuat kita lupa akan hakikat manusia.

Kehadiran masyarakat Baduy yang sederhana mengingatkan kepada kita bahwa manusia diciptakan lengkap denganseperangkat otot, pancar indera, paru-paru, jantung, dan masih banyak lagi, akan sangat percuma bila ketersediaan perangkat tersebut hanya dapat direnungi. Eksistensi ragawi manusia terancam oleh mesin yang semakin lama manggantikan peran tubuh manusia. Akibatnya, kepekaan tubuh terhadap sebuah rangsangan pun menurun.

Mungkin, ada beberapa orang yang sadar dengan hal ini. Beberapa komunitas yang menempelkan stiker di sepedanya dengan tulisan “Bike to Work” atau “Bike to Campus”. Namun, yang terjadi adalah peningkatan prestis belaka. Sedekar latah mengikuti tren masyarakat Barat yang katanya mempunyai kesadaran ekologis yang tinggi sekali di negaranya, namun ironisnya membuang limbah konsumeristik-hedonistik dan sampah radio aktif ke negara dunia ketiga. Begitu salah satu naskah Simon Lili Tjahjadi, yang berjudul Filsafat Bersepeda, di majalah Bung! bercerita.

Simon menggunakan pendapat seorang filsuf dan sosiolog Jerman, Helmuth Plessner, yang mengatakan bahwa manusia di dalam masyarakat industri seperti sekarang merasakan kejanggalan dalam tubuh fisiknya sendiri akibat teknologisasi, motorisasi, mekanisasi tempatnya bergerak. Dengan kata lain, peran tubuh manusia sudah tidak maksimal lagi dalam melakukan kegiatan sehari-hari dan perlahan tergantikan dengan mesin.

Tradisi yang dimiliki masyarakat Baduy akan tetap menjadi tradisi. Berjalan pun akan tetap menjadi hakikat manusia. Namun, sangat penting untuk  mengolah perangkat jasmani yang kita miliki saat ini. Akan sangat disayangkan bila suatu saat manusia hanya berjiwa namun tidak bertubuh.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here