Skenario

0
5

Sudah pukul dua dini hari. Para tetangga dan isteri Suhaimi telah terpulas. Menikmati masa-masa mimpi yang panjang. Sedangkan Suhaimi terus saja berkutat dengan kertas-kertas dan pena di ruang kerjanya. Sudah hampir lima jam dia duduk di situ. Abu rokok berceceran kemana-mana. Demikian dengan kertas-kertas yang memenuhi penjuru ruangan. Tapi Suhaimi belum bisa menyelesaikan pekerjaannya sebagai penulis. Dia diburu waktu untuk segera merampungkan skenarionya. Setiap kali Suhaimi ingat muntahan kata-kata bosnya yang lebih tepat dikategorikan caci maki membuatnya semakin under pressure. Semakin jauh dari kata selesai.

Paginya Suhaimi terbangun oleh tusukan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Belum sempat mengucap kata, isterinya lebih dulu melempar kalimat, “Aku sudah berusaha membangunkanmu berkali-kali. Tapi kamu tidak mau bangun.”

Hampir saja Suhaimi mengucap kata pertama pagi itu, tapi lagi-lagi kalah cepat dari isterinya, “Sudah… Aku sudah mengikuti kata-katamu. Tampaknya caramu itu kurang jitu. Harusnya yang kusiramkan bukan air biasa, tapi air keras supaya kamu bangun. Sekarang minggirlah, aku mau mengepel lantai.”

“Gila !” teriak Suhaimi.” Kita tak bisa begini terus.”

“Sudahlah, tak ada guna kata-katamu barusan.” timpal isterinya.

“Loh, apa maksudmu?”

“Kok loh?”

“Iya dong. Aku tanya apa maksudmu, Ma.”

“Harusnya aku yang tanya. Kapan kamu menuruti kata-kataku berhenti jadi penulis?”

“Kamu lupa, kita bisa memenuhi kebutuhan kita dari mana?”tukas Suhaimi.

“Kamu juga lupa, berapa banyak barang-barang yang sudah djual untuk menutupi hutang di warung?” balas isterinya.

Suhaimi terdiam. Dia membiarkan isterinya membersihkan ruang kerjanya. Pria berusia 37 tahun itu lantas bangkit dan mengambil bungkus rokoknya. Ternyata habis tanpa sisa. Dirematnya bungkus rokok tersebut lalu melemparnya keras-keras ke tong sampah.

“Makanya, kalau tidak punya uang jangan merokok. Pemborosan !” kata isterinya sinis.

“Rokok bisa mamicu datangnya inspirasiku, Ma.”

“Ya. Tapi kematian akan datang lebih cepat dari inspirasimu itu, Pa. Sekarang saja sudah letoy begitu. Masih berani merokok.”

“Ah, sudahlah. Capek ngeladenin kamu ngomong. Lebih baik aku mandi terus ke kantor. Hampir telat gara-gara kamu.”

“Berangkat saja. Memangnya ada orang kerja hari Minggu?”

Tidak ada kata-kata bersambung setelahnya. Suhaimi tetap mandi. Rupanya badan sudah gatal-gatal. Sudah seharian dia tidak mandi. Sementara itu isterinya merapikan rumah dan menyiapkan sarapan. Lantas keduanya duduk berhadap-hadap di meja makan. Sambil mneyantap hidangan mereka kembali bercakap-cakap.

“Sepertinya aku harus beli laptop, Ma. Alat itu pasti membantu mempercepat pekerjaanku. Membuatnya lebih efisien.”

“Jangan mimpi deh, Pa. Aku saja bingung memodifikasi bahan makanan untuk makan kita sehari-hari. Masak tempe lagi, tempe lagi. Tidak bosan apa? Orek tempe, tempe goreng, tempe saus tiram, tempe dadar, tempe asam manis dan tempe-tempe lain.”

“Habisnya, aku sulit menyelesaikan tulisan-tulisanku. Coba kamu bayangkan, dengan laptop inspirasiku pasti mengucur dengan deras seperti air keran.”

“Nah, kebetulan ngomongin soal air, kapan bayar PAM?”

“Aduh, aku belum dapat honor. Pakai uang tabungan dulu, Ma.”

“Hebat benar ngomong tabungan. Tuh, tabungan kita, sudah jadi asap-asap yang ngepul dari mulutmu. Sudah dibilang berhenti merokok !”

“Benar-benar dilema.” Suhaimi mengakhiri pembicaraan. Dia tahu tidak akan bisa menang berdebat dengan isterinya. Karena itu dia memilih diam dan menghabiskan sup tempenya.

***

Esok harinya, Suhaimi pulang dengan wajah kuyu. Dia terkena semprot bosnya. Skenarionya tidak diterima. Padahal dateline sudah jatuh tempo. Sudah jatuh tempo, tertimpa tangga pula. Dia dapat surat peringatan.

Akhirnya malam itu, Suhaimi berpikir untuk menuruti kata-kata isterinya supaya berhenti jadi penulis dan mencari pekerjaan lain. Dia merasa gagal. Tidak berbakat. Putus asa dan hilang akal. Semalaman dia menatap kertas kosong di atas mejanya. Inspirasi tak kunjung datang. Justru kantuk yang berkunjung. Menuntun katup mata ke pintu gerbang mimpi. Sekuat tenaga dia menahannya. Tapi tarikan dunia mimpi yang sangat menawan tak kuasa ditolaknya. Jiwanya kering dan haus akan kepuasan batin.

Kini Suhaimi berada di kantornya. Dia telah menyelesaikan skenarionya yang telah lama tertunda. Dari hasil menulisnya itu Suhaimi mampu membuka penerbitannya sendiri. Cerita-cerita Suhaimi banyak dipakai orang-orang. Namanya menjadi sangat terkenal. Panghasilannya meningkat tajam. Suhaimi duduk dengan lega di kantornya sendiri. Dia memandang foto dirinya bersama isteri.

Perusahaannya kebanjiran order. Orang-orang penting dan terkenal mulai datang dan minta dibuatkan skenario. Suatu hari, seorang pejabat tinggi datang ke kantornya. Badannya sedikit tambun. Beberapabodyguard  menempel di sekitarnya. Maksud kedatangan pejabat itu adalah meminta Suhaimi membuatkan skenario. Dengan jumawa Suhaimi menyanggupi permintaan pejabat pemerintahan itu.

“Tolong buatkan yang bagus dan rapi ya, Pak Suhaimi.” kata pejabat itu.

“Jangan khawatir,Pak. Hal itu mudah sekali. Besok saya kirim via email ya.”

“Oh, jangan lewat email. Biar saja nanti ajudan saya yang mengambil. Zaman sekarang sedang musim sadap-menyadap.”

“Beres, Pak. Besok pasti sudah jadi.”

“Kamu yakin besok? Pssssst, ini urusan negara lho. Jadi tidak bisa main-main.” tegas pejabat itu.

“Kalau saya sudah mengiyakan, berarti saya pasti merampungkannya sesuai permintaan. Bapak tidak perlu khawatir.”

Akhirnya setelah semua pihak mencapi kesepakatan, pejabat itu pamit. Suhaimi mengantar kepergiannya. Buru-buru pejabat itu masuk mobil dan membuka kaca mobilnya.

“Jangan lupa ya, yang bagus skenarionya.” tegas pejabat sekali lagi.

“Beres. By the way pejabat kok naik mobil butut sih, Pak?”

“Hahaha. Ini juga bagian dari skenario.”jawab pejabat dengan enteng. mobilnya lalu melesat mengiris kemacetan lalu lintas.

Benar saja, Suhaimi menyelesaikan skenario tepat waktu dan sesuai pesanan. Oleh karenanya, Suhaimi diberi hadiah yang melimpah. Sekarang apapun yang diinginkan Suhaimi bisa dia dapatkan. Hidupnya telah berubah. Dalam balutan bedcover tebal dan mahal, Suhaimi tidur bersama isterinya. Tidur malam itu menjadi sangat nyenyak.

“Bangun, Pa…. Kamu harus ke kantor !” teriak isterinya.

“Aduh, Ma. Seorang bos boleh datang jam berapapun. Kan ada anak buah.” jawabnya setengah saadar.

“Heh ! Kalau mimpi jangan kelewatan dong, Pa. Mimpi siang bolong begini.”

Suhaimi lantas tersadar. Bangun lalu mandi dan sarapan. Masih dengan lauk tempe aneka varian. Disela-sela sarapan isterinya menyetel berita di TV. Sebuah berita baru dan segar sekaligus panas sedang disiarkan. Seorang aktivis HAM meninggal secara misterius dalam sebuah perjalanan menuju baratlaut. Suhaimi hampir tidak percaya. Tiba-tiba dia berteriak, “Aku tahu siapa yang membunuhnya, Ma ! A…akulah yang membuat skenario pembunuhan itu untuk seorang pejabat.”

“Hush ! Jangan ngawur. Bisa-bisa kamu ditangkap gara-gara asal bicara. Lagipula aktivis itu meninggal karena serangan jantung.”

Suhaimi hanya terbengong menyaksikan jenazah aktivis itu di berita. Tapi dia yakin betul, siapa dalang di balik kematian aktivis HAM itu.

SHARE
Ridwan Sobar
Pecandu imajinasi yang sedang berjuang keras menyelesaikan perkara. Sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang belum selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here