Si Peronda

0
7

Bunyi keran air dibuka besar-besar. Bunyi papan cuci beradu cucian gesrek-gesrek gejros. Bunyi cibang-cibung entah mandi entah cebok. Bunyi motor tetangga dipanaskan roengroengroeng-derumdumderum-dlugdlugdlug. Bunyi minyak panas ketemu entah telor entah adonan bakwan. Bunyi tingtingtingting tukang bubur dan tengtengtengteng tukang ketupat sayur. Segala bunyi yang ada di jajaran kontrakan petak sahut-sahutan entah datang dari rumah yang mana karena saking dempet-dempetnya. Bahkan malam-malam kalau ada yang lagi main cinta, bunyi lenguhan bisa menembus tembok dan genteng asbes. Bikin ngiri yang bujangan. Mau nguping takut mupeng mau pura-pura nggak dengar ya kebayang-bayang juga.

Jakarta yang padat. Semua orang berbondong-bondong ke Jakarta dari yang mimpi jadi idol-idolan sampai sadar nasib maunya jadi PRT saja. Sampai rela tinggal desak-desakan di gang-gang sempit. Mau bagaimana lagi, rumah susun segedung belum tentu muat buat orang sekampung. Mungkin benar juga, buat mereka yang kebanjiran akan lebih aman tinggal di rusun. Tinggi. Juga daripada mepet kanan-kiri kan legaan atas-bawah. Pasti para lansia juga lebih memilih rumah susun kalau ada liftnya. Supaya encoknya nggak tambah parah harus naik-turun tangga lima lantai. Kalo apartemen sih pasti ada liftnya, dan bisa bikin penghuninya lupa kalau mereka tinggal di Jakarta yang mulai kejam seperti gurun peradaban. Kalau kemarau sumur bor pasti kering, kalau musim hujan pasti Ciliwung meluap tanggul-tanggul pada jebol, tapi kan apartemen cuma buat mereka yang pengeluaran hariannya ngalahin biaya hidup sebulan orang-orang seperti Gemang.

Tapi Gemang sendiri tak pernah repot-repot memikirkan soal penduduk Jakarta yang tumpah ke kali, atau kalinya yang tumpah. Pagi itu, semua bunyi di gang itu nyampur di kuping Gemang dan menjelma lagu ninabobo. Begitu selesai adzan subuh berkumandang dari mesjid di mulut gang, ia akan segera meninggalkan pos ronda untuk pulang ke kontrakannya dan bergelung di kasur tipisnya. Begitu setiap pagi. Siangnya, adzan lohor jadi wekernya buat bangun dan memenuhi panggilan serabutan darimanapun untuk kerja apapun asal bayarannya cukup untuk bayar kontrakan, makan nasi bungkus sehari tiga kali, ngopi dua kali. Kadang-kadang juga makan dan ngopinya numpang sama Aning, pacarnya yang kerja di warteg. Pintar juga ia cari pacar. Aningnya yang nggak pinter cari pacar.

Kalau malam tiba, selepas isya, Gemang akan nangkring di pos ronda, bersama dengan bapak-bapak yang lain. Lumayan, buat Gemang yang memang hobi begadang asal ada gunanya, kalau kata raja dangdut cap soneta yang kepengin jadi presiden. Gunanya buat Gemang ya biar dapat kopi dan cemilan gratis. Hiburan juga, kalau ada yang ngajak main gaple atau kartu remi. Selebihnya, apa benar bisa berguna buat keamanan lingkungan, siapa yang tahu.

Seperti malam itu, para laki-laki berkumpul di pos ronda. Gemang ada di antara mereka.

“Pemimpin kita yang baru itu, bener-bener ya. Orang yang kayak gitu itu yang pantesnya jadi pemimpin. Semuanya bisa diurusi. Nanti aku ikut ah nyalonin dia jadi presiden.” Kata seorang bapak.

“Pantes apanya? Sama aja sama pejabat-pejabat lain. Kerjanya enak. Tandatangan ini itu, pidato sana-sini, peresmianlah, kunjungan kerjalah, rapatlah, mana tau dia kita-kita ini, rakyat kecil, setiap hari gempor kena macet, hati nggak karuan setiap tanggal tua, mikirin bayar kontrakan, cicilan motor, beli susu anak, belom belanja istri, katanya harga-harga naik, wah pokoknya macem-macem.” Kata bapak yang lain lagi.

“Iya tuh. Apalagi belanja istri. Harga bedak naik ngadunya ke kita. Padahal gaji kita kan nggak naik.” Kata bapak yang satu lagi.

Gemang menyeruput kopinya lalu mengangguk-ngangguk mengiyakan semuanya. Ia belum merasakan kesusahan mereka yang banting tulang menafkahi keluarganya. Tapi juga buat bapak-bapak yang lain ya pokoknya ada yang mau mendengarkan keluh kesah mereka, supaya terasa senasib sepenanggungan.

Menjelang pukul sepuluh bapak-bapak di pos ronda itu satu persatu pulang, hingga tinggal Gemang sorang diri. Pak Saifudin yang terakhir pamit beralasan, “Saya mau pulang dulu, besok pagi-pagi harus antar anak sekolah. Kalau soal keamanan erte ini, kami yang bapak-bapak ini percaya sajalah sama yang muda, mumpung belum banyak tanggungannya seperti saya ini. Nih saya bekali rokok sebungkus.”

Seperti malam-malam yang sudah lalu, Gemang pun sendirian di pos ronda itu. Biasanya ia dapat pengusir sepi kalau sesekali bertemu dan ngobrol sama tukang sate, tukang nasi goreng, tukang sekuteng yang kebetulan mampir melepas penat setelah semalaman keliling kampung.

Tapi kok malam ini beda sama malam-malam yang lain ya, pikir Gemang. Nggak ada siapa-siapa. Bahkan kucing pun nggak ada seekorpun yang lewat. Biasanya juga masih ia dengar sayup-sayup suara radio dangdut dari warung rokok. Atau suara tivi menyiarkan pertandingan bola. Ia suka juga menonton sekali-sekali. Lumayan juga buat hiburan karena menonton ramai-ramai, meskipun ia nggak pernah hafal nama-nama tim apalagi nama pemainnya.

Gemang lupa kapan terakhir kali ia merasa sepi seperti ini. Suara jangkrik nggak ada. Ah, mungkin lagi bukan musimnya kawin. Pun suara kodok tak terdengar. Ah, mungkin karena lagi nggak hujan. Dan tidak ada nyamuk-nyamuk yang biasanya memberikan kepuasan bagi Gemang jika berhasil kena tepok dan berleleran darah. Mungkin lagi bukan musim bertelur nyamuk-nyamuk itu. Sepi.

Tiba-tiba Gemang teringat Aning. Pasti ia sekarang lagi ke pasar induk, belanja buat wartegnya. Atau mungkin ia malah lagi masak? Gemang bertanya-tanya, apa Aning juga lagi teringat dirinya? Tapi pertanyaan itu tentu tidak akan terjawab jika Gemang hanya mampir ke warteg buat numpang ngopi gratis. Gemang tidak pernah punya inisiatif untuk mengajak Aning ke pasar malam, atau sekedar makan pecel lele di depan stasiun. Entah sampai kapan Gemang akan sadar.

Lalu Gemang teringat akan ibu bapaknya di kampung. Ibunya yang dagang pecel. Ayahnya yang pesuruh di asrama tentara. Kakaknya tahun lalu baru kawin sama yang punya toko di pasar Karangayu. Gemang pikir pasti ayah-ibunya bisa mengandalkan toko milik suami kakaknya. Makanya ia juga berani minta modal untuk merantau ke Jakarta. Tapi memang, sudah nggak punya kenalan di Jakarta, nggak punya pengalaman, modal habis, kerjaan nggak dapet. Hingga sekarang terdampar di pos ronda. Kesepian. Tanpa tujuan.

Lagi asik-asiknya pikiran Gemang melayang kesana kemari, tiba-tiba sekelebat sosok hitam lewat tidak jauh di sebelah pos. Gemang antara sadar dan tidak, mengantuk dan terjaga, melihat seorang laki-laki memanggul sarung berlari ke arah kebon pisang. Seketika dari rumah kedua di deretan kanan kontrakan petak muncul seorang laki-laki yang sontak berteriak, “Maling!! Maling!!”.

Lalu dari rumah seberang dan sebelahnya juga para bapak menjeblak pintu sambil membawa tongkat panjang dan samurai, disusul beberapa rumah lain.

“Apa yang dimaling?”

“Tivi!”

“Malingnya siapa?”

“Ya mana aku tahu! Pokoknya kejar dulu! Tivi baru itu!”

“Ayo!”

“Ayooo!!”

Gemang hanya terpaku melihat para laki-laki itu berlarian sambil mengacungkan senjata masing-masing. Bingung antara memilih mau ikut mengejar atau melanjutkan lamunannya.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here