Pijat Refleksi

0
182

Mens sana in corpore sano. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Begitu kira-kira bunyi tulisan yang terpampang di ruang tunggu pijat refleksi Tosima. Pijat refleksi yang biasa saya kunjungi ketika badan sudah tidak bisa diajak kompromi bertarung melawan rutinitas kerja.

Ruang tunggu bisnis jasa pijat refleksi ini pun dibikin senyaman mungkin bagi pengunjung yang lelah secara fisik –juga jiwanya. Berbagai majalah, surat kabar, dan siaran TV disuguhkan untuk menemani saya yang harus menunggu antrian.

Sesaat asik menikmati siaran berita ketika sebuah SMS dari Sal, pemred BuKin, menyadarkan saya dari ilusi jurnalisme. “Lo kebagian jatah nulis rubrik Angkringan. Tema bulan ini Media sebagai Refleksi Diri. Deadlinemaju tanggal 20 coz ini bulan Februari.” begitu isi SMSnya.

Sambil dipijat oleh terapis bernama Mbah Jarwo saya putar otak. Media sebagai refleksi diri, berarti apa yang ada dalam diri kita terefleksi oleh media. Ini sinekdoke pars pro toto. Media mewakili diri kita. Tingkah laku, pola pikir, hingga budaya. Tapi bagaimana kalau sudut pandangnya kita balik menjadi sinekdoke totem proparte. Diri kita –sadar atau tidak sadar- terefleksi oleh media itu sendiri.

Sebagai contoh, dulu orang Indonesia tidak mengenal narkotika bernama hasis, olahan ganja berbentuk pasta. Semenjak seorang wanita asal Timur Tengah tertangkap membawa hasis dan di blow up media, sekarang pengguna hasis di Indonesia menjamur. Atau semisal dari banyaknya berita tentang kriminalitas, pelecehan seksual, korupsi justru menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan hal serupa. Sebagai pembanding lain, dari media anak perempuan Indonesia –penganut budaya timur- menjadi gemar mengenakan rok super mini yang merupakan budaya barat sedangkan anak laki-lakinya gemar melihat perempuan yang mengenakan rok super mini. Pembahasan ini ibarat pertanyaan telur atau ayam dulu yang muncul? Semua benar, tapi tidak mutlak.

Ketika ditanya perihal yang sama Mbah Jarwo menjawab,”Saya ndak mau pusing. Refleksi yang bagus ya pijat refleksi. Ha ha ha.”

Nyeleneh memang jawaban si Mbah. Tapi saya membenarkannya. Terlalu banyak masyarakat yang keletihan fisik akibat belenggu rutinitas sehingga tidak bisa berpikir jernih. Jiwa menjadi kering dan haus. Dalam konsdisi yang sudah carut marut seperti ini tentu sebagai orang yang kehausan akan meminum air apa saja untuk menghilangkan dahaga. Tidak ada lagi proses filtrasi baik bagi produsen maupun konsumen media. Semua sama-sama latah.

Selesai dipijat tubuh saya menjadi bugar. Pikiran kembali jernih. Sesampai di rumah keponakan saya yang namanya agak nyeleneh, Popskii , ngerengek minta dibelikan obat pembuat langsing. Ingin tampil seksi seperti model yang ada di iklan-iklan katanya sambil meliukan tubuhnya di depan cermin besar di ruang tamu. Begitu saya kasih nasihat supaya minum jamu tradisional saja, si Popskii justru kabur.

Ini merupakan bukti bahwa kita terefleksi apa yang ada dalam konten media dan media merefleksi apa yang menjadi keinginan khalayaknya. Generasi sekarang memang maunya diberi yang manis-manis dan instan. Padahal jelas-jelas yang serba instan itu efeknya tidak baik bagi tubuh. Perlahan-lahan merusak dari dalam. Kalau tubuh sudah rusak, pikiran dan jiwa pun pasti terganggu.

SHARE
Ridwan Sobar
Pecandu imajinasi yang sedang berjuang keras menyelesaikan perkara. Sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang belum selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here