Anggun Priambodo: Ada yang Berusaha Memperbaiki Sistem “Itu”

0
6

Jumat (22/3/13) lalu, di bilangan Kebayoran Baru, tepatnya di kantor Majalah Cobra, seorang lelaki menuruni tangga dan menyambut BuKin dengan ramah. Ia, Anggun Priambodo alias Culapo, salah satu yang sampai saat ini masih berkarya secara bebas, baik dalam membuat video klip, video art dan film. Terakhir, Bin Harlan Boer, mantan vokalis C’mon Lennon, mencicipi jasanya dalam membuat video klip ‘Kiri-Kanan’.

Bisa dicertain awal mula menjadi sutradara?

Awanlnya itu sih karena waktu kuliah dulu sering nyampein pesan lewat medium video. Banyak juga temen-temen di IKJ yang bikin dengan visual, kayak mural, dan lain-lain. Gue coba bikin video klip. Jadi sampai sekarang ya, keterusan gitu.

Selama ini kan orang-orang kenal Anda sebagai sutradara videoklip. Risih gak dengan cap sebagai “sutradara video klip” atau “sutradara indie”?

Biasa aja. Orang kan menilai dari apa yang pertama kali dia tahu. Walapun sekarang paling setahun buat satu atau dua video klip.

Jika harus memilih, mau dipanggil sutradara indie apa sutradara mainstream? Kenapa?

Independen sih, soalnya cara kerjanya juga bebas, gak kayak cara kerja mainstream. Keadaan gua saat ini sudah merupakan pilihan.

Apa ada motivasi melawan budaya mainstream dari karya-karya yang udah dibuat? Apa bentuk perlawanannya?

Sebenernya itu sudah jadi kebiasaan. Bukan berarti itu sebuah perlawanan, tapi kebiasaan karena gua gak biasa mengikuti sistem dan cara kerja di mainstream. Kalo gue bikin video klip band-band independen, bukan karena mereka indie, tapi karena bagus. Kalau industri mainstream bagus, mungkin gue bekerja di jalur mainstream (tertawa). Tapi secara gak sadar pasti ada perlawanan. Sebaik-baiknya sistem pasti ada yang gak enak, ada yang berusaha untuk memperbaiki sistem itu.

Sebagai pemerhati film, apa pandangan Anda terhadap perfilman nasional? Terutama tentang kisruh Piala Citra kemarin?

Gue pikir karena ada sistem yang gak beres. Kalo di mainstream yang ada saling ribut, gimana bisa menyuarakan karya kita? (tertawa) Pola pikir apa sih yang dipakai mereka sehingga kemarin sampai kisruh begitu? Akhirnya gua memilih untuk tidak memikirkan tentang itu, lebih baik tetap berkarya saja daripada harus mengkritisi yang mainsteram.

Menurut Anda, sekarang  kualitas budaya mainstream gimana?

Bagus. Intinya, masalah teknis sih bagus. Tapi kalau soal taste, seperi gak ada pesan yang mau disampaikan. Tapi itu tergantung individunya, alasan mereka melakukan itu.

Denger-denger lagi buat film baru?

Sekarang lagi ngedit film panjang pertama.  Judulnya ‘Rocket Rain’ yang shootingnya tahun lalu. Kira-kira Mei akan selesai. Tapi belum bisa ditonton, karena gua juga masih nyari cara pendistribusiannya. Gue gak akan pakai 21. Karena gue maunya ga ada sensor sama sekali.

Selain membuat film dan video klip, Anda juga ikut mendirikan majalah Cobra. Apa motivasinya?

Karena kita ingin bikin media yang kita sendiri senang membacanya. Jujur aja gue besar dengan majalah-majalah lokal. Tapi kenapa sekarang banyak majalah franchise? Karena masalah ekonomi. Mereka ingin langsung untungnya aja. Mereka mau sok-sokan nyediain konten lokal tapi ternyata gagal. Kenapa dulu ada majalah Hai, yang tren di anak muda, tapi sekarang semua kebanyakan franchise? Kita kayak kehilangan itu. Semua maunya langsung keren, tapi gak bisa mewakili yang lokal.

Ya, mungkin begitulah cara membuat perubahan. Mulai melakukan apa yang bisa kita lakukan, daripada sibuk mengkritisi. Alasan sekaligus cara yang bagus untuk melawan, disadari atau tidak.

SHARE
Cikal Kinasih
Unit Kegiatan Mahasiswa IISIP Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here