Konflik Batin Masyarakat Media

0
46

Coba perhatikan kata-kata berikut: pemerkosaan, tawuran, pembunuhan, kemiskinan, perampokan, korupsi, banjir, kebakaran, narkoba. Berapa kali dalam sehari kata-kata berkonotasi negatif itu terdengar dari televisi, atau terbaca di surat kabar? Bandingkan dengan yang berikut: kreatif, prestasi, adil, sehat, bersih, makmur, berhasil. Berapa banyak pemberitaan positif di media yang bisa dikonsumsi khalayak?

Dengan agenda seting media mampu membentuk opini publik dan apapun yang disebarluaskan media lambat laun akan dianggap penting oleh masyarakat. Tapi kekuatan ini sering disalahgunakan untuk menyebarluaskan opini tentang tokoh politik atau kepentingan industri. Hasilnya adalah masyarakat yang bimbang menentukan pilihan, mulai dari memilih pemimpin sampai memilih mau makan di restoran mana untuk meningkatkan status sosialnya.

Kebimbangan itu juga muncul tatkala konten media tak berpengaruh banyak pada peningkatan intelektualitas khalayak, sepanjang pemberitaan itu tak memberi masukan untuk hajat hidup khalayaknya. Seberapa penting berita korupsi di tingkat daerah bagi warga ibukota? Sebaliknya, seberapa penting berita banjir besar ibukota bagi masyarakat daerah? Kenapa negara agraris tak mampu menyejahterakan petani? Walhasil semua paradoks pemberitaan itu hanya dikonsumsi sekali tanpa ada hasil berkelanjutan bagi mereka yang mengonsumsi.

James W. Potter, penulis buku Media Literacy mengidentifikasi formula yang media pakai untuk mendongkrak rating. Diantaranya, adanya muatan konflik, kontroversi dan stereotip pada hiburan. Para intelektual bangsa sekelas klub pengacara pun diarahkan untuk adu mulut dengan balutan konflik. Pada berita, framing dan perspektif jadi ujung tombak penyampaian berita, sehingga penerimaan khalayakdikontrol oleh media.

Sudah melekat di benak masyarakat apabila media hanyalah sebuah industri yang bekerja mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan berbagai cara. Potter juga mengatakan bahwa teknik sosial untuk menyadarkan media akan bahaya laten konten dari mereka membutuhkan waktu yang lama. Maka selain memiliki kemampuan literasi media, penting juga untuk melihat konten media sebagai bahan refleksi. Bila semua orang gembar-gembor anti korupsi di pemerintahan, sudahkah kita memiliki perilaku dan gaya hidup yang anti korupsi? Bila karena media semua orang jadi tahu betapa tidak enaknya kebanjiran, sudahkah kita menerapkan pola hidup bersih dan anti buang sampah sembarangan?

Berita mengenai prestasi anak bangsa dan generasi muda telah tenggelam di industri media arus utamayang penuh berita terorisme, kriminal dan korupsi. Berita-berita positif bukan berarti menutup mata akan kebobrokan negeri yang harus diperbaiki, dan berita negatif bukan berarti tidak ada solusinya. Pada akhirnya, jika (industri) media tidak bisa mewakili yang kita rasakan dan butuhkan, kembali pada akar manusia sebagai makhluk sosial, yang perlu berinteraksi secara langsung di kehidupan sehari-hari, bisa melepaskan ketakutan akan dunia yang selalu digambarkan negatif dan penuh kompetisi. Harapan akan dunia yang lebih baik akan menjadi klise, jika tidak diwujudkan dengan tindakan dan sikap kita sebagai sesama manusia yang setara derajatnya, apapun profesi, status sosial dan latar belakangnya.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here