Panggung Kehidupan Pandan Wangi

0
45

Dia pelaku panggung yang awalnya penari. Pesona keglamoran panggung tari mengusiknya untuk menjajal panggung teater yang dalam prosesnya mendekatkannya dengan alam. Tak terhitung pertunjukan bersama berbagai sanggar dan kelompok teater di wilayah Jakarta, memberinya kesempatan bereksplorasi, diantaranya peran dokter cinta di “Jomplang”, orang buta pada lakon “Bila Malam Bertambah Malam”, nenek-nenek di “Sumur Tanpa Dasar”, “Macbeth”, hingga terakhir “Ruang Rias” bersama Teater Pohon. Dua puluh lima tahun ia wara-wiri di dunia teater dan pernah meraih prestasi aktor terbaik dan penata rias terbaik.

Dialah Pandan Wangi, waria yang sembari mengelola salon miliknya di kawasan Roxy, menemukan kepuasan diri dari dunia teater dan tari yang menurutnya saling berkaitan.

Keseharian Pandan sebagai waria menuntutnya bijaksana menempatkan diri untuk bisa diterima oleh lingkungan manapun. Ia tidak segan menutupi jati dirinya agar tak menuai diskriminasi. “Di tempat mana pun aku bisa menyesuaikan. Kalau aku harus menyikapi aku sebagai laki-laki, biar gimana-gimana, yaudah. Aku tutup-tutupin diri aku. Gak ada sih diskriminasi yang gimana-gimana.” Ia mengaku juga mengikuti organisasi masyarakat seperti Karang Taruna dan PKK dan lingkungan sekitar bisa menerimanya.

Keluarga terdekatnya tidak menolak keadaannya sebagai seorang perempuan yang terjebak di tubuh laki-laki. Ayah dan ibunya lebih mengkhawatirkan pergaulan Pandan yang mulai terjun ke dunia seni pertunjukan. “Waktuaku nari, Bapak aku marah-marah. Katanya kayak orang kaya. Sama ibu, aku dibela. Terus aku main teater. Main teater sama ibu aku gak boleh. Karena dulu anak teater itu kan gondrong-gondrong ya.Kalo kata bapak ku, biarin aja biarbergaul. Dan mereka pun udah tau kalo aku ini kayak perempuan. Lalu aku terjun ke rias.”

Pandan bercerita, ketika pertama kali ia berdandan sebagai wanita dan diketahui orangtuanya, “Waktu itu aku mau ke acara ulang tahun temen. Aku dandan. Waktu itu aku pake kebaya, kain, dengan sanggul. Dan mungkin jalannya Tuhan memang orang tua harus tau. Saat itu tiba-tiba ada yang ketinggalan. Tustel. Kan aku dandan di rumah temen.  Akhirnya aku pulang lagi ke rumah. Ya aku pikir biarin deh mereka tau. Yaudah ibu bapakku liat dan bilang, ih, kok cantik? Terus pas pergi disuruh hati-hati.

Saat ini Pandan tinggal bersama anak angkatnya, Ega. “Anak ponakan aku. Mamanya udah meninggal. Udah 9 tahun umurnya sekarang. Kelas 3 SD. Dia panggil aku mama.

Sebagai orangtua angkat dan berhadapan dengan dunia anak-anak, Pandan pun berkompromi lagi soal penerimaan dirinya. Termasuk dengan lingkungan sekolah anaknya. Awalnya Ega melarang Pandan ke sekolah. “Aku paham psikologi anak itu kan lebih peka. Jadi sebelum terjadi sesuatu, ya namanya kita bersosialisasi, aku udah jaga pride anakku. Aku udah jelasin kalo aku laki-laki cuma memang kayak perempuan.” Perlahan-lahan, teman-teman Ega di sekolah mengerti. “Waktu awal-awal nyekolahin anakku, temen-temen Ega bingung manggil aku apa. Akhirnya mereka panggil aku mama Ega.

Kaum waria adalah kaum yang berjuang untuk mendapat penerimaan. Keberadaan mereka patut diperhitungkan daripada sekedar eksploitasi sebagai lucu-lucuan di acara tv. Pengalaman seorang Pandan Wangi menawarkan pelajaran bagaimana menjadi diri sendiri. Bukan diri dengan label palsu, tapi tahu menempatkan diri agar orang lain di sekitar bisa nyaman bergaul dengan kita.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here