Alternative is YOU!

0
31

Terkadang aku muak dengan apa yang disajikan televisi. Sinetron dengan cerita nggak jelas dan isinya cuma marah-marah. Reality show yang nggakreal. Atau infotainment yang menampilkan pameran kekayaan para selebritis. Kalau buatku yang sudah bisa memilih mana yang penting untuk dikonsumsi dan mana yang tidak, mudah saja untuk terhindar dari pengaruh buruk televisi. Matikan TV, lalu melakukan kegiatan lain. Tapi apa kabar masyarakat yang tidak memiliki hiburan lain selain menonton televisi?

Seperti sekarang ini,baru saja aku mematikan TV karena setelah menonton acara mengenai fakta-fakta unik, tak ada lagi acara yang menurutku layak ditonton. Karenanya aku berencana pergi ke taman. Ketika keluar dari garasi, aku lihat Mbah Jarwo sedang menikmati teh dan rokok kretek sambil mengutak-atik tablet PC nya. “Gaul banget sih Mbah ku ini,” pikirku dalam hati. Lantas aku bertanya pendapatnya tentangbagaimanamenyikapikonten TV sekarang ini.

“Itu berarti kesempatan kamu Nduk untuk bikin alternatif yang mendidik. Pola di negara ini kan kalau ada satu yang laku dan memiliki ratting tinggi pasti bakal banyak yang bikin duplikatnya,” katanya sebelum menyeruput teh.

Sesampainya di taman, aku bertemu kak Sal yang sedang menikmati sore dengan sebuah buku dan sekantung kripik singkong. Awalnya aku utarakan semua kekesalanku terhadap TV. Aku ceritakan juga usulan alternatifnya Mbah Jarwo.

“Apa yang dibilang si Mbah emang bener, Pop. Kamu sebagai orang yang sudah melek media dan tahu mana yang pantas ditonton dan yang gak seharusnya bisa bikin penonton tuh menyadari bahwa apa yang dilihatnya di TV tuh gak selalu bener. Jauh dari realita lah. Acara yang katanya reality show aja gakse-real namanya. Apa yang mereka tayangkan itu udah diarahin sebelumnya. Nah, kamu pikirin lah gimana caranya orang lain juga bisa melek kayak kamu.” kata kak Sal.

“Tapi kalau emang aku belom tertarik untuk berkarya di TV gimana? Aku kan maunya jadi penyiar radio,” kataku dengandatar. Kak Sal hanya tertawa dan bilang kalau itu hanya opsi.

“Kali aja dua atau tiga tahun kemudian kamu berubah pikiran,” tutupnya sambil tersenyum.

Aku dan kak Sal pulang ke rumah masing-masing setelah mendengar kumandang adzan Maghrib dari sebuah masjid di dekat taman. Sebelum benar-benar menuju rumah, aku mampir dulu ke angkringannya Suman untuk meminum segelas susu jahe. Kebetulan angkringannya masih sepi. Jadi Suman mengajakku ngobrol sambil dia menikmati kreteknya.

“Hmm, kira-kira orang kayak Suman maunya tontonan seperti apa ya yang ditayangkan di TV?” pikirku.

“Yang inspiratif, kayak acaranya Oprah Winfrey itu loh. Atau National Geographic. Yah yang bisa nambah wawasan dan ilmu gitu deh. Sayang banget kalobanyaknya masyarakat yang nonton TV cuma disodorin sinetron atau reality show yang penuh rekayasa. Masyarakat kayak gak bisa milih tontonan selain apa yang udah ada sekarang,” kata Suman lalu menghisap dalam-dalam kreteknya.

Sambil berjalan pulang aku merangkum semua pendapat mereka bertiga. Kita harus memulai pencarian terhadap alternatif media. Jika manusia selalu diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya pada sesuatu hal maka alternatif adalah kamu!

SHARE
Sherly Febrina
Part-time journalist, part-time theatrical prostitute, full-time human being. Loves kretek like loving her life. Sounds paradox eh? ;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here