Media Alternatif: Melawan Kejenuhan

0
26

Media mainstream secara tendensius menyajikan konten yang dikonstruksi dan dibingkai sedemikian rupa dengan mempertimbangkan hal-hal apa saja yang menurut media tersebut layak atau tidak untuk ditampilkan. Akibatnya, konten yang disajikan bukan lagi sebatas informasi, tapi merupakan sebuah rekonstruksi terhadap realitas dengan menggunakan bahasa maupun audio-visual. Hasilnya, pola pikir, perspektif maupun persepsi terbentuk pada khalayak. Hal itu adalah tujuan dari model agenda setting yang diterapkan media tersebut.

Sementara khalayak terus menerus dijejali konten, keuntungan datang bagi media dan lingkarannya, termasuk pengiklan dan pemilik saham mayoritas. Meskipun Dennis Mcquail telah mengklasifikasikan ciri-ciri khalayak aktif sebagai mereka yang dalam mengonsumsi media bersikap selektif menyaring konten sesuai kebutuhan agar memperoleh manfaat dan tidak mudah terpengaruh serta terlibat menentukan isi media, semelek apapun seseorang terhadap fungsi media, tetap akan terlibat pada kegiatan konsumsi yang terus menerus berlanjut, selama media menemukan hal-hal baru untuk dipublikasikan yang katanya memenuhi selera pasar. Pertanyaannya, sampai kapan media menuruti selera pasar tanpa berkontribusi pada peningkatan kualitas? (baca “Deintelektualisasi Media”, Klimaks BuKin edisi November 2012)

Naif rasanya bila melihat penyimpangan media sebagai sesuatu yang bisa diperbaiki dengan aktif melayangkan kritik terhadap media atau menggembar-gemborkan apa yang disebut objektivitas dan berpihak pada kepentingan publik. Industri media pada saat ini sedang ada pada puncak kejayannya, dengan globalisasi dan prinsip pasar bebas yang memungkinkannya berekspansi kemana-mana. Masyarakatlah korbannya, karena ada di bawah kendali media yang dikuasai monopoli segelintir pihak pemegang saham.

Pilihan selain menjadi korban adalah menjadi pelaku. Bukan pelaku antagonis, tapi pelaku tritagonis yang menjadi penengah akan kesimpang-siuran konten media. Mengubah media tidak mudah, mengingat kekuatan industri yang melingkupinya. Tapi menjadi media alternatif yang punya visi, pola pikir dan aksi yang baru dan revolusioner sangat mungkin untuk dimulai. Daripada melulu terseret arus yang berputar di situ-situ saja tanpa memberi solusi tapi malah membenamkan kasus-kasus tak terselesaikan, mengangkat isu-isu yang selama ini terpinggirkan atau sengaja dilupakan, bisa membuka paradigma baru dalam menghadapi persoalan.

Pelaku tritagonis akan muncul sebagai reaksi atas kondisi jenuh akan media-media mainstream. Pada dasarnya setiap orang yang bisa berpikir akan mencari wadah bagi aktualisasi, maka kemunculan media alternatif juga dipicu oleh dorongan kebutuhan khalayak. Sekarang bisa kita temui ragam media alternatif dari bentuk maupun konsentrasi kontennya, mulai dari yang berbentuk zine, media cetak alternatif yang marak di kalangan punk dan underground, berbagai jurnal komunitas di dunia maya, sampai jurnalisme warga.

Dominasi media mainstream akan beragam kategorisasi, merupakan tantangan tersendiri bagi media alternatif yang biasanya muncul dengan spesifikasi kategori. Tantangannya adalah membuat konten yang spesifik dengan ciri khasnya masing-masing itu mampu secara general melingkupi berbagai aspek di luarnya sehingga benar-benar menawarkan solusi akan berbagai permasalahan sosial. Sehingga keberadaan media alternatif bisa menjadi pilihan konsumsi bagi masyarakat luas sekaligus wadah aktualisasi bagi pelakunya.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here