Mikir Lagi… Mikir Lagi… Setiap Hari Mikir Melulu…

0
26

Sudah enam bulan saya, Mbah Jarwo yang berkarisma, ndakmenulis di rubrik Angkringan, tiba-tiba Bu pemred datang ke rumah minta saya nulis. “Mbah, nulis buat Angkringan edisi November ya!!??” begitu katanya. Ya, saya sih nurut saja, walaupun ndak tahu mau nulis apa. Yang penting kan bikin Bu pemred yang sedang gelisah itu tenang dulu.

Seharian merenung di rumah, inspirasi ndak muncul juga. Kopi sudah habis tiga gelas, berpikir sudah keras, yang ada malah jadi mengantuk. Saya putuskan untuk mandi agar air yang jernih bisa membawa pikiran yang jernih pula. Ternyata sugesti kepada air yang jernih kali ini tidak menghasilkan pikiran yang jernih. Saya jadi frustasi sendiri gara-gara mikirin tulisan buat nanti.

Saat senja tiba, saya jalan-jalan keliling kampung. Niatnya mau mencari inspirasi untuk bahan tulisanAngkringan, tapi malah bertemu pemuda setengah baya yang ndak jelas asal-usulnya, si Suman. Saya ajak ngobrol panjang lebar tapi malah ndak ketemu pencerahan untuk bahan tulisan. Suman malahan mengajak saya nongkrong di pos ronda buat main catur. Melihat antusias Suman, saya ndak enak kalau ndakmeladeninya main catur.

Lama bermain dengan Suman, tak terasa azan magrib sudah berkumandang. Saya pulang meninggalkan Suman yang pergi ke langgar (musholah). Pikiran saya terasa segar setelah berbincang dan bermain dengan Suman. Kehidupannya yang sederhana, polos, dan seperti tak ada yang dipikirkan membuat saya iri melihatnya. Suman memang hanya tamatan sekolah dasar, pantas ndak banyak yang dipikirkannya. Yang dia tahu dalam hidup itu yang penting makan dan sembayang. “Yang penting itu proses, Mbah. Apapun nanti hasilnya, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin.” begitu kata si Suman saat saya tanya tujuan hidupnya yang ndak jelas itu.

Lain ceritanya dengan Sal, pengusaha warung tegal (warteg) yang bergelar sarjana dan mempunyai anak satu ini. “Kalo usaha saya sudah sukses, saya sekolahin anak saya ke luar negeri, Mbah, biar jadi orang cerdas.” begitu kata Sal saat saya makan di warteg miliknya. Sal mengerti bahwa sistem pendidikan di negara kita ini amburadul, oleh karena itu dia ingin menyekolahkan anaknya ke luar negeri agar menjadi orang cerdas. Saya kagum padanya, dia memiliki tujuan yang sangat mulia.

Sepulang ke rumah, ada Popskii lagi bengong di depan komputer. Setiap ditanya, jawabnya lagi menambah wawasan biar kadar intelektualitasnya meningkat. Sudah sering dibilang kalau ketergantungan dengan dunia maya itu ndak baik, membuat susah waktu berhadapan dengan yang nyata. Tetap saja ngeyel. Memang kalau anak muda itu susah dibilangin, selalu menganggap dirinya benar. Ampun deh!!

Ketiga orang yang saya saya ajak ngobrol tadi memiliki latar belakang yang berbeda-beda, begitu pula dengan tujuan hidupnya. Tapi menurut saya, sebagai orang yang sudah makan asam garam, proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang adalah hal yang sebenarnya menentukan kadar intelektual orang itu, bukan latar belakang ataupun tujuannya. Latar belakang hanyalah modal, sedangkan tujuan adalah masa depan yang harus dicapai dengan proses yang panjang. Tinggal bagaimana orang itu memanfaatkan proses itu sebagai sarana untuk meningkatkan kadar intelektualnya, mengembangkan kecerdasannya.

Lah ini tulisan ternyata sudah jadi. Ternyata bertemu dengan orang-orang ndak jelas seperti Suman, Sal dan Popskii juga bisa jadi bahan tulisan toh. Saya terlalu meremehkan perbincangan ringan, ternyata.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here