Deintelektualisasi Media

0
16

Televisi hanya melodrama-hiperbola. Penuh kosmetika yang cepat luntur. Laris manis bak kerupuk; renyah namun tak bergizi. Mengalir terus dua puluh empat jam sehari. Coba ingat-ingat lagi, kita semua pasti pernah mengalami, konten program TV melekat lebih erat di kepala daripada materi kuliah. Televisi adalah alat hipnotis terbesar zaman ini, karena prinsip kerjanya masuk ke alam bawah sadar. Khalayak televisi sebagian besar tidak sadar bahwa mereka meniru, menerapkan ataupun mempercayai apa yang mereka lihat di TV.

Ahli komunikasi massa Harold Laswell dan Charles Wright menetapkan empat fungsi sosial media massa. Yang pertama, pengamat sosial. Berdasarkan fungsi ini televisi seharusnya mempertahankan objektivitas dan mengedukasi masyarakat dengan nilai-nilai yang berguna untuk pembentukan karakter masyarakat. Fungsi kedua, korelasi sosial. Menuntut televisi menjadi media penyebaran informasi antar kelompok. Fungsi ketiga, sosialisasi. Merujuk pada pewarisan nilai-nilai luhur dari tiap generasi. Fungsi keempat, hiburan.

Fungsi hiburan sudah terlalu dominan dibandingkan ketiga fungsi lainnya. Hal ini menyebabkan khalayak mudah larut dalam pola pikir, gaya hidup dan lain-lain yang akhirnya menyesatkan kita pada konsumerisme, hedonisme, narsisisme dan sampah lain yang menurunkan kualitas hidup karena deintelektualisasi. Ini lingkaran setan. Program-program tinggi rating terkadang tidak mempetimbangkan kontribusi konten mereka pada intelektualitas masyarakat, sebaliknya masyarakat juga tidak selalu kritis untuk menanggapi konten-konten payah itu.

Bagaimanapun, media adalah cerminan intelektualitas masyarakat. Pada zaman Orba, media ditekan sedemikian rupa demi kelanggengan penguasa. Maka ketika reformasi berkumandang, media mengalami euforia luar biasa sehingga bermunculanlah media-media baru. Sayangnya, peningkatan kuantitas tidak sejalan dengan kualitas. Media yang memiliki penyokong dana kuat bisa bertahan. Sisanya harus rela gulung tikar atau dibeli perusahaan lain demi keberlangsungan hidupnya dan akhirnya takluk pada pemilik modal, pihak tertentu yang memanfaatkan media sebagai pilar keempat demokrasi. Ini berarti kekuatan media untuk menggerakkan rakyat ke arah yang lebih baik didomplengi oleh pihak pencari keuntungan. Peran media sebagai pemicu intelektualisasi makin pudar, makin tenggelam dengan perang rebutan kekuasaan dan perang rating.

Jelas bahwa kita sekarang tidak bisa hanya mengandalkan televisi sebagai sumber informasi dan hiburan. Apalah gunanya terhibur jika tidak cerdas. Daripada melulu terhipnosis kita bisa mencari sumber informasi dan hiburan lain yang menyadarkan kita akan eksistensi sebagai manusia maupun sebagai warga negara yang medianya kalangkabut membodohi kita dengan pencitraan tokoh politik, mengejar rating, mengeksploitasi golongan tertentu dan menjadi antek kapitalisme yang semakin jelas memetakan posisi kaya dan miskin. Asal mau membuka mata, masih ada yang peduli dan mau berkarya serta tidak begitu saja mengikuti arus, kalah dengan keadaan.

Setelah berpikir kritis, sekarang saatnya untuk berpikir pragmatis. Sebagai warga negara kita punya hak intelektualisasi, salah satunya dengan literasi media, agar kita tidak langsung menerima mentah-mentah apa yang disajikan media, tapi tahu akses media, mengerti kepentingan industrinya, dan mampu menganalisanya agar tidak terjebak dalam monopoli kepentingan. Asal mau mencari sumber yang benar, kita selalu punya pilihan untuk hidup lebih baik.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here