Soal Teater Kampus

0
48

Teater kampus (TK) adalah teater komunitas kampus yang anggota-anggotanya adalah civitas akademika. Bisa mahasiswa, alumni, dosen atau bahkan office boy atau satpam atau pedagang kantin kampus. Konsep ini tidak dipakai di semua TK. Beberapa TK ada yang membatasi anggotanya menjadi mahasiswa saja atau mahasiswa dan alumni saja.

Namun pada dasarnya TK mirip teater komunitas. Dia terdiri dari orang-orang yang ada dalam ruang tertentu. Teater komunitas terdiri dari keluarga, tetangga, atau komunitas yang terbuat atas persamaan-persamaan dalam ruang lain baik fisik (geografis) atau abstrak (ideologi, jejaring elektronik). Namun ketika bicara teater kampus, kita bisa menemukan masalah yang lebih rumit. Esei ini akan membahas secara singkat masalah-masalah tersebut.

Manajemen

Teater komunitas bisa memiliki manajemen yang konstan. Mereka bisa memiliki manajemen yang cukup berpengalaman dan tak ada kewajiban mengganti-ganti kecuali jika si anggota keluar atau meninggal. Manajer berpengalaman inilah yang bisa membuat teater komunitas bisa menjadi lebih profesional.

Sementara teater kampus memiliki manajemen yang terus berganti karena selalu ada pergantian angkatan. Generasi berganti secara dinamis sehingga setiap angkatan baru naik, maka keilmuan manajerial juga produksi pementasan harus mulai dari nol lagi. Ini membawa kita kepada masalah kedua: regenerasi.

Regenerasi

Teater komunitas biasanya berakhir ketika patronnya meninggal dunia. Kelompoknya hancur begitu yang memegang kekuasaan tunggal juga selesai. Ini masalah yang paling sering mereka hadapi dan beberapa teater komunitas berusaha mati-matian untuk regenerasi dan rela mengambil resiko turunnya kualitas pementasan selama masa regenerasi terbentuk.

Sementara TK harus beregenerasi secara dinamis. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan TK. Kelebihannya, sumber daya regenerasinya jadi tak terbatas. Selalu akan ada orang baru yang siap jadi penerus. Kekurangannya terletak pada sejauh mana TK itu mampu ikut berubah dengan jaman dan preferensi generasinya. Dengan banyaknya kelompok teater di kampus atau di luar kampus, TK harus mampu ikut berubah supaya peminatnya tidak hilang. Negosiasi dan improvisasi branding dan marketing harus terus dilakukan sesuai kebutuhan.

Apresiasi

Ini adalah masalah penting dalam TK. Kebanyakan calon anggota biasanya ingin langsung berakting di panggung; mereka ingin langsung dikenal dan diakui. Ini membuat banyak TK yang ingin punya regenerasi akhirnya bernegosiasi. Mereka memberi peran yang cukup banyak pada pemain tak berpengalaman yang membuat kualitas pertunjukkan jadi jeblok. Terlebih lagi, majunya media informasi dan industri pendidikan menciptakan generasi instan yang kualitas kerjanya sangat jelek. Nantinya metode regenerasi seperti ini alih-alih mengapresiasi malah akan membuat masalah baru karena kurangnya loyalitas dan kebiasaan menyepelekan segala sesuatu. Karena semua yang instan pasti jadi sepele dan tak tahan lama. Proses tak mungkin begitu saja dihilangkan.

Sementara itu, ketika sebuah TK memiliki orang-orang yang sudah berproses dan berdedikasi tinggi, apresiasi harus menjadi sebuah kewajiban. Semua manusia butuh insentif untuk bisa berkarya. Ini dibutuhkan agar manusia tidak terasing dari kerja kerasnya sendiri. Apresiasi tersebut tidak harus berbentuk materi. Apresiasi juga bisa berarti sebuah pengertian dari sebuah hasil kerja. Bisa dengan membantu sedapat mungkin agar beban kerja tidak terlalu berat, bisa juga dengan memberikan pilihan-pilihan lain untuk mengurangi beban kerja. Dan apresiasi yang paling kecil namun berarti adalah mendengar keluhan dan kritik dari para pekerja keras ini dan sedapat mungkin mengurangi masalah mereka. Jika para pekerja berdedikasi tidak diapresiasi dengan baik maka TK tersebut harus siap menerima masalah sosial yang bisa menyebabkan kemunduran yang lebih jauh.

Koneksi

Selain hal-hal di atas, koneksi juga hal yang tak kalah penting. Hubungan dengan alumni dan birokrasi kampusnya sendiri harus berjalan baik. Harus ada orang yang memiliki posisi stabil di kampus untuk menjadi koordinator, dan menjaga konsistensinya. Hubungan dengan orang-orang dan komunitas lain di luar kampus juga sangat penting. Karena sebuah pertunjukkan teater adalah kerja kolaboratif yang menyangkut banyak elemen. Dalam pertunjukkan skala besar, outsourcing adalah hal krusial.

Sebagai penutup, harus selalu ada ruang di dalam struktur yang memungkinkan anggota-anggota bereksperimen dan berkembang. Dalam TK, sirkulasi posisi sama pentingnya dengan sirkulasi generasi. Jadi kemampuan para anggotanya bisa berkembang terus. Kualitas memang menjadi sebuah keharusan, namun keutuhan komunitas harus menjadi tujuan utama, karena TK seperti teater komunitas tidak bisa dijadikan tempat yang menguntungkan secara ekonomis.

Akhirnya, kepercayaan dengan sesama anggota harus selalu dijaga, keluhan harus menjadi kritik membangun. Tujuannya tetap adalah guyub, dan guyub berarti hubungan sosial adalah modal utama. Artinya juga, pengertian antar anggota dan flexibilitas dalam mengikuti jaman adalah keharusan.

Memang bicara itu mudah. Tapi elemen-elemen yang saya sebutkan di atas adalah keharusan. Tidak bisa membangun komunitas dengan ego pribadi, karena teater adalah kerja sosial. Selalu dibutuhkan orang lain untuk bisa menjalankannya. Seperti cinta; it takes two to tango.

SHARE
Pengajar Performance Strategy dan Introduction to Anthropology di Departemen Film dan Komunikasi Binus International. Kini sedang menyelesaikan thesis pasca-sarjana Antropologi di Universitas Indonesia yang berkenaan dengan wacana Globalism and Community Empowerment. Selain dunia akademis, Nosa juga masih berkecimpung di dunia teater dan musik independen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here