Psikopat Korup

0
28

Ini adalah proses penemuan saripati kehidupan. Yang dimulai dari sebuah pencarian. Pencarian yang tak kunjung menghasil karena tak puas-puas. Maka disimpan catatannya dengan ditulis. Seperti rekan-rekan lain yang mengawali dengan memperkenalkan diri, maka begitu juga saya. Kalau memang perlu, bolehlah diketahui bahwa yang berceloteh ini dikenal dengan Sal. Kalau mau tahu nama panjangnya, silakan dikira-kira sendiri. Terserah saja. Karena saya selalu merasa, apapun anggapan orang atas diri saya, saya tetap yang paling hebat dan paling benar. Saya suka sekali dipuji, saya suka sekali dibicarakan orang. Nyatanya memang  banyak yang membicarakan saya. Saya memang populer.

Tapi akhir-akhir ini saya sering merasa kalah pamor jika dibandingkan sama koruptor dan tukang suap. Setiap kali saya nonton berita, ada-ada saja tingkahnya. Ada yang romantis-romantisan sama pacar baru, ada yang mempertahankan rambut ungunya dan enggan kenakan baju tahanan saat sidangnya diliput pers, jogging di dalam sel tahanan, ada juga yang sampai merancang interior desain buat kamar tahanannya. Najong. Nanti lama-lama ada juga istilahnya napi selebriti. Dan terima kasih untuk Gayus yang menciptakan tren napihedon.

Berikut ini opini Mbah Jarwo, rekan saya yang suka kasih wejangan kusut. “Mental kita sebagai orang Indonesia ya masih kayak sobiman, sosok binatang mirip manusia. Tapi yang ironis ya mosok sobiman suruhmimpin negeri?”. Nah lho. Kusut gak tuh?

Kalo si hipster Popskii menanggapinya begini, ”Korup ataupun tidak korup bukan soal gender. Para perempuan yang dipercayakan suatu jabatan karena dianggap bebas korupsi, akhirnya korupsi juga. Tapi tersangka perempuan dari kasus suap dan korupsi pasti bakal jadi sasaran empuk media.” Betul juga.

Atau malah ada benarnya, kalo para koruptor itu menderita gangguan jiwa, pertama karena mereka tidak merasa bersalah karena telah menilep uang yang bukan punya mereka, yang jika diidentifikasi, gejala yang demikian merujuk pada penyakit jiwa kategori psycopathos. Misalnya, sering berbohong, senang melakukan pelanggaran, kurang empati, manipulatif dan mengorbankan orang lain demi kesenangannya sendiri. Kedua karena mereka narsis! Jadi sorotan karena perilaku menyimpang malah bangga. Menurut sumber yang bisa dipercaya, narsisme itu salah satu jenis gangguan kejiwaan. Dan menurut sumber lain lagi yang juga bisa dipercaya, pada dasarnya setiap orang memang punya potensi untuk memiliki gangguan kejiwaan dan akan timbul jika dibarengi dengan faktor pemicu, salah satunya perasaan tertekan. Jadi saking tertekannya para ibu-ibu pesakitan tadi, mereka tetap cari cara untuk terlihat tidak tertekan.

Kalo setiap orang ternyata punya potensi punya gangguan kejiwaan, saya jadi bertanya sendiri lagi tentang kondisi saya dan lingkungan sekitar saya. Dan pertanyaan apakah saya termasuk orang dengan gangguan jiwa juga pernah terlintas. Apakah perilaku saya sampai menyabot hak orang lain? Apakah saya merasa tidak bersalah lalu mencari pembenaran?

TKI pun sebelum berangkat keluar negeri mengemban misi mulianya harus melewati tes tersebut. Supaya tidak mengalami gegar budaya, dan hal-hal buruk yang menimpa TKI sebelumnya tidak terulang. Mungkin para calon wakil rakyat juga perlu discreening kejiwaannya, supaya ketahuan dulu, kondisi mentalnya bagaimana. Tapi jangan tunggu jadi pesakitan dulu kalau mau tes kesehatan jiwa. Jangan-jangan nanti kalau terbukti sakit jiwa malah jadi kebal hukum.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here