Mental Besar, Karya Besar

0
40

Orang dengan gangguan jiwa lazimnya dianggap mengganggu, harus mendapat tindakan khusus di rumah sakit jiwa, bahkan di beberapa tempat dipasung. Namun penelitian di Eropa telah membuktikan bahwa orang yang jenius memiliki cara kerja otak yang sama dengan orang yang memiliki gangguan jiwa. Penelitian tersebut membuktikan bahwa ada cara kerja yang sama dari sistem dopamin di otak orang gila dengan orang jenius. Dopamin adalah zat neotransmitter yang terdapat pada otak yang menerima rangsangan informasi dari luar dan menyampaikannya dari satu syaraf ke syaraf lainnya. Dopamin yang berlebihan dapat menyebabkan skizofrenia dan parkinson.

Banyak legenda besar dunia menjadi korban gangguan kejiwaan. Sebut saja MichaeLangelo, pelukis yang karya besarnya diabadikan di Kapel Sistine, mengidap kelainan bipolar, yang ditandai dengan perubahan mood yang ekstrim, berupa depresi dan mania. Hal ini tampak pada lukisannya yang depresif. Begitu juga dengan Isaac Newton, ilmuwan besar dunia ini diyakini oleh para sejarawan mengidap gangguan bipolar dan autisme. Namun gangguan itu tak menghentikannya untuk menghasilkan temuan besar yang mengubah dunia.

Tampak bahwa ada korelasi yang positif antara gangguan jiwa dengan kreativitas. Orang dengan dopamin, zat yang membantu menyebar rangsangan di otak, yang tinggi mampu menerima informasi dari luar dan mengelolanya menjadi suatu karya. Hal ini membuktikan memang ada kesamaan antara cara kerja otak jenius dengan orang gila, salah satunya adalah kemampuan berpikir out of the box. Berpikir out of the box, merupakan salah satu indikasi kemampuan otak yang tidak utuh, demikian dikutip dari pendapat Dr Fredrick Ullen, yang meneliti cara kerja otak “si gila” dan “si jenius”.

Kondisi depresif yang dialami para jenius menyebabkan mereka mengalami tekanan mental sehingga melakukan usaha bunuh diri. Vincent van Gogh, pelukis pasca-ekspresionis Belanda adalah salah satu diantaranya. Ia menderita sindrom bipolar, pernah memotong daun telinganya sendiri dan mengakhiri hidupnya dengan menembakkan sebuah pistol revolver ke arah jantungnya sendiri di usianya yang ke-37.

Dibalik gangguan apapun yang diderita seseorang, tetap ada kemampuan yang luar biasa yang menunggu untuk disalurkan. Banyak sastrawan dan seniman besar yang mengalami depresi pernah mengatakan bahwa kreativitas mereka dipicu oleh kondisi emosi, amarah, kekecewaan, kesedihan, dan kesepian. Mereka berjuang mengatasi keadaan jiwa yang berantakan itu dengan berbagai cara. Umumnya perjuangan mereka berakhir dengan tindakan penyalahgunaan obat, alkohol, atau narkotika.

Belajar dari kisah hidup para legenda tadi, selalu ada teratai cantik yang bisa tumbuh di air telaga yang kotor. Selalu ada karya meskipun dari pribadi yang tak sempurna. Karya besar yang lahir dari orang-orang hebat ternyata memiliki proses yang tidak selalu sempurna, karena bersentuhan dengan gangguan-gangguan mental tadi. Kondisi mental yang rapuh malah memberikan sensitivitas lebih bagi mereka untuk  menuangkan kegelisahan dan ketakutan mereka secara sadar menjadi sebuah karya yang abadi.

SHARE
Maria Natasha
Lulusan ilmu komunikasi yang radikal dan bercita-cita menjadi pengusaha warung tegal (warteg). Selalu teradiksi dengan Harry Potter. Pelaku panggung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here