Negeri Agraris yang Mulai Habis

0
23

Kenalkan. Namaku Suman. Imigran dari New Yorkarto Hadiningrat (dibaca: Yogyakarta) yang hijrah ke ibukota sejak lima tahun silam.

Mengikuti tradisi migrasi lebaran yang entah dimulai sejak era presiden siapa, tahun ini saya pun pulang kampung. Alasannya klise, kangen kampung halaman. Barangkali alasan serupa juga dipakai sebagian besar pemudik. Mungkin sekali alasan itu hanya dibikin-bikin. Karena kalau mau jujur, sebenarnya kita sudah muak bin jengah dengan suasana Jakarta yang makin amburadul.

Selama di kampung halaman, saya mengunjungi para tetangga. Dan selama itu pula, setelah acara ramah tamah dan basa-basi, saya hanya diperdengarkan cerita yang isinya keluh kesah semua. Mayoritas warga kampung saya adalah petani. Keluhannya pun tidak jauh-jauh dari harga bibit dan pupuk yang meroket, air irigasi yang tercemar limbah buangan pabrik, sampai yang membuat saya mengelus dada adalah makin menciutnya area pertanian karena dibangun mall-mall bertingkat, pusat pertokoan dan apartemen. Niat pulang kampung mau refreshing, e…. ketemu masalah serupa seperti yang terjadi di Jakarta. Wedus!

Kalau dulu ada istilah ABRI masuk desa, barangkali sekarang jadi beton merambah desa. Jalan-jalan diaspal, lahan pertanian beralih fungsi menjadi mall-mall pencakar langit, tanah semua dicor, hutan digunduli. Kalau sudah banjir baru main salah-salahan. Iya tho!

Mampir ke rumah Mbah Jarwo, sesepuh kampung, saya cuma bisa geleng-geleng waktu diperlihatkan data yang menunjukkan bahwa area pertanian di pulau Jawa hanya tersisa 3,5 juta ha. Dengan kata lain, dalam tiga tahun terakhir luas lahan pertanian yang beralih fungsi ke non-pertanian di wilayah Pulau Jawa mencapai 600.000 hektar, atau rata-rata 200.000 hektar setiap tahunnya.Hutan Indonesia juga rusak 3,8 juta hektar setiap tahunnya.

“Kalau keadaannya begini terus, 10 tahun lagi bisa-bisa lahan tani sudah ludes, area terbuka ndak ada lagi. Tanah ndak lagi dihormati sebagai sumber kehidupan.” Tutur Simbah sinis.

Lain lagi komentar Sal, teman saya yang bekerja di BPN (Badan Pertanahan Nasional),”Nih ya, dulu Indonesia terkenal sebagai negara agraris, sekarang bullshit semua. Semua kebutuhan pokok bakal impor. Kalau kita liat rencana pembangunan Indonesia kedepan bisa-bisa nantinya area yang nggak tertutup aspal dan cor cuma kuburan doang. Udah gitu sewa tanah kuburannya mahal gila.”

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta naik kereta, tiba-tiba lamunanku terusik mendengar Popskii, keponakanku, menyanyikan lagu Lihat Kebunku yang dipelesetkan liriknya menjadi:

Lihat negeriku

Penuh dengan beton

Ada yang dicor dan juga diaspal

Setiap hari

Diperluas terus

Tanah dan hutan semuanya ludes

“Kok liriknya diganti gitu tho, Pop?” tanyaku kesal.

”Yaah si Om. Sekarang faktanya kan gitu. Kita kan harus realistis dan ngikutin perkembangan zaman.” jawabnya enteng.

Setiap lagu tentu ada maknanya sendiri. Yang secara tidak langsung menyampaikan pesan bagi pendengarnya. Dalam salah satu bait lagu Indonesia Raya tertulis dengan sangat jelas, “Hiduplah tanahku / Hiduplah negeriku / Bangsaku Rakyatku semuanya...”

Bukankah itu merupakan petunjuk yang nyata bagi negeri ini. Bila tanahnya hidup, maka hidup pula negerinya, bangsanya, juga rakyatnya.

SHARE
Ridwan Sobar
Pecandu imajinasi yang sedang berjuang keras menyelesaikan perkara. Sedang berusaha menyelesaikan sesuatu yang belum selesai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here