Buah dari Pohon Beton

0
26

..cangkul, cangkul, cangkul yang dalam.. menanam jagung di kebun kita.. Seperti itulah lirik lagu Menanam Jagung karya Ibu Sud, yang menunjukkan semangat kegembiraan anak-anak bermain di ladang. Budaya menanam sebenarnya telah diajarkan sejak masa kanak-kanak oleh para orang tua. Secara implisit, lagu tersebut mengatakan bahwa tanam-menanam adalah budaya bangsa Indonesia.

Jika ditelusuri secara historis, Indonesia memang merupakan negara agraris. Negara yang diberikan karunia melimpah dalam bumi maupun lautnya. Nenek moyang bangsa ini adalah petani dan pelaut, yang memperoleh makanan dengan memanfaatkan kekayaan alam tanah air nusantara. Hampir seluruh tanah di Indonesia dapat ditanami padi, jagung, ubi, dan bahan pangan lainnya. Hal tersebut membuktikan bahwa negeri ini memiliki tanah yang subur.

Pada umumnya, negeri yang memiliki tanah subur dapat memenuhi bahan pangan untuk penduduknya. Namun di Indonesia, hal tersebut tak lagi berlaku. Jangankan mengekspor bahan pangan, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja tak mampu. Terlihat jelas kontradiksi yang terjadi dalam keadaan bangsa Indonesia saat ini.

Tanah yang kaya dan subur, bahkan sempat dijuluki “surga dunia”, telah menjelma menjadi ladang industri penguasa. Bangsa yang besar karena sumber daya alam yang berlimpah telah berubah menjadi bangsa yang menghasilkan asap pekat dari setiap kota. Asap pekat yeng semakin hari semakin membuat negeri menjadi kelabu.

 Cerita-cerita orang tua selalu mengatakan bahwa tanah kita adalah “tanah surga”, hanyalah tinggal cerita. “Tanah surga” tak lagi dapat dirasakan saat ini. Tanah yang digunakan untuk menanam pohon beralih fungsi untuk menanam beton, lahan pertanian menjadi kering. Sementara impor bahan pangan terus dilakukan dan perlahan mematikan para petani lokal. Indonesia saat ini dikuasai oleh kaum kapitalis, yang hanya memikirkan keuntungan semata. Ladang pertanian terus tergerus oleh pabrik-pabrik industri yang menghasilkan uang lebih menjanjikan.

Para petani lokal semakin teralienasi akibat produk-produk impor yang merajalela di pasaran, belum lagi harga pupuk dan benih semakin terasa mencekik. Mereka seperti tak dihargai, atau mungkin dianggap tak dibutuhkan oleh masyarakat kelas atas. Kehidupan para petani sudah tak dipedulikan lagi. Akhirnya, petani menjadi profesi yang tak lagi populer.

Imbasnya, tak ada pemuda yang ingin menjadi petani. Mereka lebih senang menjadi domba-domba industri yang lebih menjajikan uang, jaminan kesehatan, bahkan sampai dana pensiun. Berbanding terbalik dengan kondisi para petani yang semakin hari semakin menderita.

Sudah tak ada lagi orang yang mau pergi ke ladang untuk menanam padi. Bahan pangan impor yang kian menjelajah pasar dalam negeri menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa konsumtif. Bangsa ini telah kehilangan kemampuan untuk mencipta. Hingga pada saatnya tiba, Indonesia hanya tinggal sebuah nama.

SHARE
Bayu Adji P
Wartawan, namun masih berharap menjadi detektif flamboyan yang sering dipesan untuk mencari kebenaran pesanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here