Lingkaran Setan pada Anak

0
18

“Saya pingin gambar tegar close up! Saya pingin suara tegar! Saya pingin kamu dapat wawancara dia eksklusif!”

Saya masih ingat sekali instruksi seorang produser program berita mendalam di salah satu stasiun televisi swasta kepada saya, reporternya ketika itu. Endi Tegar, bocah berusia 8 tahun korban penganiayaan berat asal Madiun, Jawa Timur. Kaki kanannya dibuntungi ayahnya sendiri dengan melindaskannya pada kaki besi kereta lokomotif yang sedang berjalan.

Sebagai bawahan tentu saya harus mengikuti perintah  atasan, namun sebagai jurnalis saya menyadari akan kode etik dimana “haram hukumya” jika seorang anak berusia dibawah 16 tahun dieksploitasi untuk kepentingan berita (diwawancara, diambil gambarnya, dipublikasikan identitasnya). Lebih jauh sebagai manusia, ada yang menyayat di hati saya ketika memaksa anak sekecil itu kembali mengingat peristiwa naas menyangkut dirinya itu.

Idealisme adalah idealisme, pekerjaan adalah pekeraan, dan industri tetaplah industri. Berita tentang perkembangan Tegar si anak malang mendapat simpati  tinggi dari masyarakat, meningkatkan shareprogram, melebarkan senyum bangga sang produser.

Semua liputan mengenai kekerasan pada anak memang dapat dilihat sebagai perbuatan mulia untuk memperlihatkan nasib miris segelintir anak akibat kebiadaban orangtuanya -dan penonton diharapkan dapat memetik pelajaran- Namun kenyataan lain jika keuntungan yang terbesar bukanlah kepada nasib  anak-anak melainkan lebih demi melicinkan perputaran uang dalam roda usaha si pemilik media merupakan kenaifan yang hina yang perlu disadari!

Di dalam televisi mereka dibuat bernyanyi-nyanyi seperti Dewi Persik bernyanyi, berkhotbah-khotbah seperti Ustad Solmed berkhotbah, bersaing-saing seperti para pecundang dewasa bersaing. Kepentingan bisnis yang merupakan ‘dunianya’ orang dewasa jelas lebih bermain disini dibandingkan dengan memberikan kealamian ‘dunia anak-anak’ itu sendiri.

Maka jikapun selamat dari ribuan kasus kekerasan yang terjadi, sesungguhnya anak-anak belum juga terlepas dari belenggu penghisapannya oleh kepentingan orang dewasa.

Lingkaran setan pada anak belum berhenti disini, seperti yang ditulis Kahlil Gibran “anakmu bukanlah anakmu ia adalah putra-putri kehidupan… engkau boleh saja berusaha mengikuti alam mereka tapi jangan harap mereka dapat mengikuti alammu”  Alih-alih ‘sayang anak’ orang tua kerap memaksakan pendiriannya, memberikan ketakutannya menjadi ketakutan anaknya. Menginjak fase sekolah anak-anak dikepung, mereka dicetak, dipaksa mentaati tatanan simbol-simbol yang dijadikan sendi kehidupan masa kini, yang orang tua merekapun masih setengah gagap menjalaninya. Semua itu dipaksakan dengan harapan menaikan standar hidup atau ‘kelas’ mereka nantinya dimasyarakat, yang sesungguhnya semua itu adalah standar hidup pilihan si orang tua, belum tentu menjadi pilihan hidup si anak nantinya.

Sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas, kata Marx. Setiap perjuangan yang dilakukan seseorang sebenarnya hanyalah perjuangan untuk hidup di kelas yang lebih tinggi dari sebelumnya, dari yang lainnya. Dari dorongan itulah mereka bersikap, bekerja dan menyusun cita-cita. Dan masa depan dunia pastilah ada di tangan anak-anak, persoalan kritis mengenai peperangan dan ketidakadilan adalah penyakit kronis yang menggerogoti dunia dari zaman ke zaman. Apa yang dilakukan kebanyakan orang dewasa terbukti tidak merubah ini semua. Dunia merindukan generasi baru yang penuh cinta dan intuisi.

Anak lebih terbuka untuk menyerap semua informasi karena kekagumannya akan kehidupan, anak lebih ingin percaya karena akalnya terbebas dari gagasan awal (prinsip), anak lebih mempunyai rasa yang tinggi terhadap keramahan dan kedamaian karena dia belum mengenal kebencian. Sayang sekali sifat-sifat ini hanya dibiarkan lewat pada waktunya. Dan pendidikan anak malah menjauhi ini semua.

SHARE
Gilang Ramadhan
Director, Actor, Writter, and Freelance Journalist.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here